Tak Boleh Berkerumun, BPMKS 20.000 Pelajar Solo Harus Dibelanjakan Secara Online
Ilustrasi pendidikan SMP. (Solopos/Wishnu Paksa)

Solopos.com, SOLO -- Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Solo atau BPMKS bagi 20.000 pelajar pada tahun ini akan dibelanjakan secara online. Kebijakan itu menyikapi pandemi Covid-19 itu tak mengizinkan pelajar berbelanja langsung ke toko.

Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo, Dwi Ariyatno, mengatakan kebijakan itu membuat serapan bantuan itu tak berjalan cepat. Dari 20.000 penerima, baru 800-an pelajar yang membelanjakan bantuan tersebut.

Teknis pencairan bantuan yakni pelajar tak boleh berbelanja langsung ke toko yang sudah bekerja sama, melainkan belanja secara online dengan fasilitas dari sekolah masing-masing.

KA Jarak Jauh Mulai Beroperasi Reguler, Cek Daftarnya Yang Lewat Solo

“Pencairan via transfer bank hingga pekan lalu sudah mencapai 11.000 rekening. Namun dari jumlah tersebut baru 800 pelajar Solo yang belanja kebutuhan sekolah dari BPMKS,” katanya, Senin (9/11/2020).

Ia mendorong sekolah menjemput bola dan mendaftar kebutuhan pelajar sesuai nominal bantuan. Ia mengakui sistem baru tersebut tak familier lantaran biasanya pelajar langsung datang ke toko dan berbelanja sesuai kebutuhan.

Agar serapan maksimal, ia meminta siswa mempercepat belanja. Kendati tak sedikit pula yang sulit mengakses Internet. “Kalau kurang familier dengan aplikasi ini bisa minta bantuan operator [sekolah]. Sekolah saya minta turun langsung menghimpun data," ungkap Dwi.

Pria-Pria Berwajah Seram Turun Ke Sungai Jl Bhayangkara Solo, Ini Yang Mereka Lakukan!

Refocusing Anggaran

Kepala Disdik Solo, Etty Retnowati, mengatakan total anggaran untuk BPMKS untuk pelajar itu menyusut hingga tersisa seperempat dari anggaran tahun lalu. Semula anggaran BPMKS Rp17 miliar turun jadi Rp4 miliar lantaran refocusing anggaran untuk penanganan Covid-19.

Praktis, nilai bantuan yang masuk ke rekening siswa menjadi jauh lebih kecil. Untuk pelajar SD menjadi Rp170.000 per siswa dan pelajar SMP senilai Rp200.000 per siswa.

Pada sisi lain, larangan untuk tidak belanja langsung ke toko juga untuk mengantisipasi kerumunan yang berpotensi jadi sarana persebaran Covid-19. “Jadi enggak ada istilah belanja ke toko. Belanja online dengan bantuan sekolah, nanti toko yang mengantar pesanan ke sekolah. Misalnya SMPN 5 belanja ke Luwes, nanti sekolah mengoordinasi belanja Luwes," ucap Etty.

Haul Habib Ali Tahun Ini Ditiadakan, Begini Penjelasan Tokoh Masyarakat Pasar Kliwon Solo

Pencairan BPMKS untuk pelajar Solo tahun ini lebih molor daripada tahun sebelumnya. Molornya pencairan karena perubahan Peraturan Wali Kota (Perwali) seiring perubahan mekanisme belanja.

“Dalam kondisi pandemi jika 20.000 anak dan orang tua bebas belanja ke 30 toko yang sudah bekerja sama dengan Pemkot nanti bisa memicu klaster [Covid-19] BPMKS. Batas akhir Desember itu harus selesai," tandasnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom