Tahun Lalu Meleset, BPBD Karanganyar Petakan Ulang Kawasan Rawan Bencana
Tim gabungan sukarelawan di Kabupaten Karanganyar membersihkan material bekas tanah longsor di jalan utama menuju kawasan wisata Tawangmangu melalui Karangpandan pada Minggu (6/12/2020). (Istimewa/Dokumentasi Sukarelawan Solopeduli, Endhy Yudha)

Solopos.com, KARANGANYAR - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar menyatakan akan kembali memetakan ulang kawasan rawan bencana di Karanganyar pada 2021. Hal ini lantaran beberapa kejadian bencana yang terjadi pada 2020 berada di titik area yang luput dari pengawasan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Karanganyar, Hartoko, ketika dihubungi Solopos.com, Minggu (24/1/2021). Dia mengatakan evaluasi penanganan bencana menyisakan beberapa pekerjaan rumah.

Salah satunya pembaruan data kawasan rawan bencana. Pasalnya, data acuan yang digunakan saat ini merupakan hasil pemetaan yang dilakukan pada 2018.

Terkait Persiapan PON 2024, Menpora Minta Ketua KONI Aceh Siapkan Masterplan

“Kemarin kan ada beberapa yang meleset dari pengawasan kami. Seperti bencana banjir di Gondangrejo di Desa Dayu dan Krendowahono itu luput dari prediksi kami karena sebelumnya selama beberapa tahun terakhir tidak ada banjir di sana. Lalu beberapa kawasan longsor di Tawangmangu pada akhir Desember 2020 juga. Makanya kami berencana untuk memetakan ulang kawasan rawan bencana,” jelas dia mewakili Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar, Sundoro Budi Karyanto.

Hartoko menjelaskan pada 2018 dipetakan sekitar 96 desa di Karanganyar yang masuk dalam kategori kawasan rawan bencana. Untuk pemetaan ulang, pihaknya akan meminta Pemdes di Karanganyar membuat laporan kondisi wilayah. Setelah mengumpulkan data, pihaknya akan menggandeng badan terkait kebencanaan untuk melakukan analisis wilayah.

“Nanti setelah mendapatkan data, kami akan mengecek lokasi di lapangan dulu. Kalau memang benar-benar rawan, kami akan mengajak bisa Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi [PVMBG] dan Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai [BP2TPDAS] untuk meneliti wilayah dan potensi bencananya untuk pemetaan,” papar dia.

Sarana & Prasarana

Sementara itu, Sekretaris BPBD Karanganyar, Aris Indriyanto, mengatakan terkait sarpras untuk penanganan bencana yang dimiliki BPBD Karanganyar sudah terhitung lengkap. Namun, menurutnya, kebutuhan alat pendeteksi bencana di Karanganyar masih kurang jika dibandingkan dengan kebutuhan di masing-masing wilayah rawan bencana.

Covid-19 Gaspol! Solo, Wonogiri, Karanganyar & Sragen Masih Zona Merah

“Untuk alat-alat penanganan bencana seperti untuk laka air, kami sudah punya perahu karet, chainsaw kami juga sudah punya. Cuma alat berat untuk longsor memang belum, tapi bisa kerjasama dengan OPD lain seperti DPUPR. Untuk EWS katanya akan ada bantuan lagi nanti dari UNS,” beber dia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, jumlah early warning system (EWS) permanen yang masih berfungsi di kawasan rawan bencana Karanganyar sekitar 21 unit. EWS tersebut berfungsi untuk mendeteksi dan memberikan sinyal peringatan bagi warga untuk bencana banjir dan tanah longsor.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom