Ilustrasi uang tunai rupiah. (Antara)

Solopos.com, SOLO – Akhir 2019 tinggal menunggu waktu. Banyak hal yang sudah kita lalui selama setahun terakhir. Naik turun perjalanan kehidupan rumah tangga lengkap dengan urusan keuangan.

Liburan berlebihan, kebablasan belanja barang murah, dan beberapa dosa pemborosan lain sudah saatnya dilupakan. Giliran memberi waktu melakukan review cash flow tahunan demi fondasi keuangan yang lebih kokoh di tahun depan.

Seperti yang dilakukan Amanda, 29. Ibu satu anak asal Sukoharjo ini mengamini pentingnya review keuangan di akhir tahun. Salah satu fungsinya tentu saja untuk memetakan pengeluarannya dan suami. Hal itu bisa menjadi acuan dalam membuat rancangan anggaran rumah tangga tahun berikutnya.

Berdasarkan hasil review singkatnya, pemborosan paling banyak ada pada pengeluaran kongkow. Mereka sering kalap setiap kali kulineran ke luar rumah. Sesekali Amanda cenderung bisa mengerem, tapi sang suami malah kebablasan. Di lain waktu, gantian dia yang kelewatan jajan banyak makanan, sementara suaminya super ngirit.

Disusul banyak pengeluaran tak terduga yang membuatnya terpaksa mengambil uang tabungan. Sampai-sampai separuhnya hampir habis. Padahal mereka belum terbebani biaya pendidikan anak karena masih bayi. “Kalau diterus-teruskan ya enggak bisa ini,” kata dia, Rabu (4/12/2019).

Amanda yang berstatus sebagai ibu rumah tangga ini pun mulai khawatir. Ia bertekad menata keuangannya lebih detail. Ia berupaya disiplin dan benar-benar mengencangkan ikat pinggang demi mimpi kesejahteraan keluarga.

Kunci lainnya adalah tak tahan godaan promo atau diskon di pusat belanja. Potongan harga yang tak seberapa sering merusak ikhtiar menata keuangan yang konsisten dilakoni sejak lama. “Belum lagi nanti biaya pendidikan anak kian tahun kian mahal. Harus benar-benar ditata sih menurutku, penting banget,” tambahnya.

Sepakat, Nurina, 30, juga berencana membuat rancangan rigid untuk keuangannya dan keluarga di tahun depan. Sebelum ini Nuri tak pernah membuat financial planning karena dinilai ribet. Tapi setelah melakukan review pengeluaran beberapa pekan lalu ternyata mereka terlalu boros.

Nuri menilai memang tak harus menyatat semua. Tapi minimal ia ingin menambahkan daftar tabungan wajib dan dana darurat setiap bulan. “Kita enggak akan tau ya di tahun depan ada apa. Kalau terlalu banyak buang-buang uang lalu tiba-tiba nanti ada kepentingan mendadak begitu kan repot juga. Jadi mau wajibin nabung dana darurat. Kuncinya tahun depan pengin disiplin keuangan,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten