TAHUN BARU 2016 : Di Sentilan-Sentilun Boyolali:
Kemacetan di Simpang Lima Boyolali, Kamis (31/12/2015) (Facebook/R-win Nugroho/Boyolali)

Tahun baru 2016 di Boyolali benar-benar menonjol. Sentilan-Sentilun di Boyolali mengeksploitasi ikon unggulan Seno Samodro.

Solopos.com, BOYOLALI -- Menelan miliaran rupiah malam ini, Pesta tahun baru 2016 di Boyolali menonjolkan ikon Boyolali di siaran televisi nasional. Tak hanya menyedot ribuan orang, program Sentilan Sentilun di Boyolali ini memuji habis-habisan pemerintahan Boyolali di bawah Seno Samodro.

Program yang ditayangkan live dari Kompleks Perkantoran Pemkab Boyolali, Kemiri, oleh Metro TV, Kamis (31/12/2015) malam, ini benar-benar mengeksploitasi pembangunan fisik dan investasi di Boyolali. Mulai dari investasi perusahaan padat karya yang membuka banyak lapangan kerja hingga pembangunan lima rumah ibadah di kompleks perkantoran pemkab yang baru.

"Kamu sekarang sudah kaya? Kan kemarin masih miskin. Paling juga kaya mendadak, pasti jadi politikus," kata Butet dalam dialognya di Sentilan-Sentilun dengan Den Baguse Ngarso.

"Aku ini pengusaha, pengusaha susu. Kalau ingin dapat kerja di Boyolali, asalkan tidak pilih-pilih, peluang kerjanya melebihi jumlah pekerja. Lima tahun lalu, pengangguran itu 14.000, peluang kerja 45.000. Itu setelah bupatinya [yang] itu [Seno Samodro]," kata Den Baguse Ngarso.

Hal itu merujuk pada investasi industri garmen pada 2015 yang menyerap ribuan tenaga kerja baru. Namun, tak hanya itu, Butet, Den Baguse, dan Wisben, juga menyebut pelayanan publik di Boyolali sangat bagus.

"Saya jadi jongos di Ibu Kota selalu melayani," kata Butet. Den Baguse menimpali, "di Boyolali, semua pegawai itu yang melayani, di sini pelayanannya bagus kok, meh ngopo kowe?"
"Di boyolali semua maju, kecuali satu, nanam padi," timpal Wisben.
"Seragam MU yang bikin Boyolali, enggak mungkin menang copot baju itu," sambung Den Baguse lagi. "Berarti Boyolali sudah mendunia ya?" tanya Butet. "Yang jelas sudah lebih maju di sana [Boyolali]," jawab Den Baguse.

Komedian asal Jogja ini pun mulai memperkenalkan Seno Samodro. "Adik kelasku, kebetulan sekarang jadi Bupati Boyolali. Orangnya tidak tampan," katanya.

Lalu mulailah percakapan melibatkan Seno yang baru saja kembali terpilih di Pilkada Boyolali 2015. Seno mulai bercerita apa yang disebutnya sebagai pluralisme di Boyolali.

"Pluralisme di Boyolali sejak zaman. Ada 30.000 warga Katolik, saya bikinkan gereja, ada 20.000 pemeluk Hindu, saya bikinkan pura, ada 12.000 penganut Budha, saya bangunkan wihara, dan tidak ketinggalan saya bangunkan masjid paling eksotik di Jawa," beber Seno bangga.

"Masing-masing tempat bangunan itu tidak ada pagarnya," lanjutnya. "Itu ada filosofinya. Filosofinya tinggi, yang melayani dan yang dilayani tidak ada batasnya."

Belum berhenti, Seno masih menunjukkan hasil pembangunannya selama 5 tahun menjadi bupati Boyolali. "Boyolali itu defisit tenaga kerja, karena itu datanglah ke Boyolali. Mulai Januari, gaji Rp1.440.000. Mulai Januari, BPJS sudah cover semua warga, jadi berobat di RS di Boyoali, wis ra usah bayar, gratis."

Terakhir Seno berkata, "Tahun depan, saya dinominasikan mendapatkan hadiah nobel perdamaian. Khusus tempat ibadah, IMB gratis tak usah bayar, tapi jangan menyepelekan izin."

Tak lupa, Seno juga menyinggung jalan di Boyolali setelah ditanya soal jalan-jalan yang dibeton. "Jadi betonisasi itu, saya bilang ke kepala desa, pakai anggarannya buat beton jalan. Kalau lebih, ya buat mbeton mulutnya Den Baguse Ngarso," katanya bercanda.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom