Tutup Iklan
Ilustrasi tidur (Pictagram)

Solopos.com, SOLO – Emosi yang tidak stabil dan meledak-ledak seringkali disebut sebagai akibat dari stres atau kurang hiburan. Padahal, ada faktor lain yang menyebabkan emosi tidak stabil, yakni kurang tidur.

http://lifestyle.solopos.com/read/20181215/485/959011/diet-bikin-payudara-mengecil-mitos-atau-fakta">Kurang tidur menyebabkan seseorang uring-uringan ternyata dapat dibuktikan secara ilmiah. Hasil penelitian terbaru mengungkap fakta kurangnya jam tidur meningkatkan hormon penyebab stres sehingga membuat seseorang sering marah-marah.

Dikutip dari Live Strong, Sabtu (15/12/2018), http://lifestyle.solopos.com/read/20181213/485/958540/tahukah-anda-kapan-waktu-terbaik-timbang-berat-badan">hasil penelitian dari Iowa State University, Amerika Serikat, mengungkapkan kurang tidur memicu emosi negatif. Penelitian tersebut dilakukan terhadap dua kelompok orang yang memiliki jam tidur berbeda.

Kelompok pertama terdiri dari orang yang biasa tidur dalam waktu normal, sekitar delapan jam. Sementara jam tidur kelompok kedua hanya sekitar empat sampai enam jam. Masing-masing partisipan diminta mendengarkan bunyi yang sangat bising dan membuat tidak nyaman.

Hasilnya, orang yang jam tidurnya hanya empat sampai enam jam cenderung lebih mudah marah jika terusik. Berbeda dengan mereka yang tidur dalam waktu delapan jam. http://lifestyle.solopos.com/read/20181215/485/959011/diet-bikin-payudara-mengecil-mitos-atau-fakta">Emosi mereka jauh lebih stabil karena bisa mengendalikan diri dengan baik.

Avatar
Editor:
Adib M Asfar

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten