Tutup Iklan
Ilustrasi patah hati (Freepik)

Solopos.com, SOLO – Putus cinta atau patah hati saat menjalin kasih merupakan hal lumrah. Namun, hasil penelitian terbaru menyatakan, kanker rentan terjadi pada orang yang patah hati. Mengapa demikian?

-Penelitian">Stres karena situasi penuh tekanan yang terkadang menimbulkan rasa nyeri di dada setelah ditinggal sang kekasih ternyata mempengaruhi kinerja jantung. Otot jantung menjadi lemah dan sulit memompa darah ke seluruh tubuh. Jika gejala yang disebut dengan istilah sindrom Takotsubo itu tidak segera ditangani, fatal akibatnya.

Dikutip dari CNN, Kamis (15/8/2019), American Heart Association dalam riset terbarunya menyatakan, sindrom patah hati rentan menimbulkan kanker. -Penelitian">Hasil penelitian yang dipublikasikan 17 Juli 2019, menunjukkan satu dari enam orang patah hati ternyata terdiagnosa kanker. Orang patah hati yang terdiagnosa kanker itu memiliki kesempatan hidup tidak lebih dari lima tahun dibanding pengidap kanker yang tidak patah hati.

Dilansir Newsroom.heart.org, peneliti American Heart Association mengatakan hubungan antara sindrom patah hati dengan kanker masih dalam -Penelitian">penelitian lebih lanjut. Sampai saat ini, mereka terus meneliti secara spesifik soal hubungan antara kanker dan sindrom patah hati.

“Mekanisme antara tingkatan -Penelitian">kanker, perawatan, serta perkembangan sindrom patah hati harus terus diteliti. Penemuan kami menjadi landasan untuk mendalami potensi dari efek racun pada jantung setelah kemoterapi,” ujar Christian Templin, peneliti senior sekaligus direktur Interventional Cardiology of the Andreas Grüntzig Heart Catheterization Laboratories, Swiss.

Riset tersebut diawali dengan mengumpulkan 1.604 data pasien dengan sindrom patah hati di International Takotsubo Registry, Swiss. Hasilnya, 267 pasien atau satu dari enam pasien wanita dengan rentang usia rata-rata 69,5 tahun atau sekitar 87,6 persen responden mengidap -Penelitian">kanker. Kanker payudara menjadi momok paling utama, diikuti tumor usus, paru-paru, alat kelamin, kulit, dan area lain.

Namun, para -Penelitian">peneliti belum menemukan penyebab kanker pada para pasien tersebut secara langsung. Mereka hanya menemukan adanya hubungan di antara sindrom patah hati dan kanker. Bagi orang yang mengalami sindrom patah hati, hasil riset tersebut bukan lah tanda bahaya. -Penelitian">Hasil penelitian American Heart Association ini menganjurkan orang dengan sindrom patah hati terdiagnosis kanker melakukan pemeriksaan lebih lanjut. (Enggar Thia Cahyani/Solopos.com)

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten