Patung Arjuna Wijaya Boyolali. (Solopos-Akhmad Ludiyanto)

Solopos.com, BOYOLALI -- Patung kereta kuda Arjuna Wijaya berada di jantung kota Boyolali, tepatnya di simpang lima/simpang siaga. Patung menghadap ke arah timur ini berada satu area dengan Kantor Arsip dan Perpustakaan (Arpus) Boyolali.

Rangkaian patung yang didirikan tahun 2015 itu juga dikelilingi jalan yang menjadi muara jalan di sekitarnya. Sehingga pengunjung dapat memutari patung untuk melihat dari semua arah.

Patung Arjuna Wijaya Boyolali memiliki panjang sekitar 25 meter dan posisi paling tinggi sekitar 20 meter sehingga menarik perhatian orang yang melintas di sekitarnya. Tak jarang warga luar kota menyempatkan diri berhenti di sekitar lokasi untuk berswafoto dengan latar patung tersebut.

Patung Arjuna Wijaya Boyolali terdiri atas dua bagian utama, yakni kuda-kuda penarik kereta serta kereta yang ditumpangi dua kesatria, Arjuna dan Batara Kresna.

Kuda-kuda di patung Arjuna Wijaya Boyolali yang digambarkan sedang berlari kencang ini berjumlah 13 ekor. Jumlah kuda di Patung Arjuna Wijaya Boyolali lebih banyak dibandingkan patung serupa di daerah lain.

Sebut saja di kawasan Manahan Solo, jumlah kudanya hanya empat ekor, sedangkan di Jakarta, patung Arjuna Wijaya kudanya berjumlah delapan ekor yang melambangkan asta brata atau delapan sifat kepemimpinan dalam budaya Nusantara. Delapan sifat itu masing-masing Kisma (bumi), Surya (matahari), Agni (api), Kartika (bintang), Baruna (samudera), Samirana (angin), Tirta (hujan), dan Candra (bulan).

Sementara itu, bagian kedua adalah kereta berkepala garuda yang ditumpangi Arjuna dan Batara Kresna. Arjuna digambarkan menggenggam busur panah dan Batara Kresna menjadi pengendali kuda.

Keduanya digambarkan sedang dalam situasi perang. Budayawan Solo Mufti Raharjo mengatakan dalam adegan itu keduanya berperang melawan Adipati Karna yang berasal dari kubu Kurawa.

Dalam cerita Bharatayudha, Adipati Karna merupakan saudara Pandawa. Sebelum berperang, Arjuna sempat ragu untuk melawan saudaranya sendiri.

“Secara fisik, patung Arjuna Wijaya memang sangat indah. Di sana digambarkan ada dua sosok kesatria gagah berdiri di kereta yang ditarik kuda-kuda dalam situasi perang. Dalam ceritanya, mereka melawan Adipati Karna dari Kurawa yang tidak lain adalah saudaranya sendiri. Awalnya Arjuna ragu, tetapi akhirnya dia harus bersikap tegas dan harus berperang,” ujarnya, Kamis (14/6/2019).

Peperangan tersebut akhirnya dimenangkan Arjuna. Menurut Mufti, cerita tersebut dimaknai sebagai lambang ketegasan dan keberanian pemimpin untuk menegakkan hukum, tidak pandang bulu siapa yang dihadapinya.

Selain itu cerita tersebut melambangkan bahwa kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan.

“Sehingga filosifi di balik kemegahan patung Arjuna Wijaya ini perlu diketahui dan sangat baik diterapkan dalam kehidupan. Artinya, setiap orang atau setiap pemimpin hendaknya berani melawan kejahatan dan berani menegakkan hukum tanpa pandang bulu,” imbuh Mufti. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten