Tutup Iklan
Ilustrasi makanan di hik (Instagram-@nonarakus)

Solopos.com, SOLO – Kurang lengkap rasanya jika berkunjung ke Kota Solo, Jawa Tengah, tanpa menongkkrong di hik sembari mengobrol dan menikmati suasana malam. Masyarakat Kota Solo dan sekitarnya tentu sudah tidak asing dengan tempat ini. Bukan hal sulit menemukan hik di Kota Solo di malam hari.

Diberitakan Solopos.com sebelumnya, konon warung hik lekat dengan Desa Negrangan, Bayat, Klaten. Desa itu disebut sebagai desa cikal bakal munculnya angkringan. Kepala Desa Ngerangan, Sri Hardono, mengatakan, awal mula kemunculan warung angkringan ketika sejumlah warga di desanya merantau ke Kota Solo pada 1950an. Saat itu, mereka berjualan makanan dan minuman dilakukan dengan dipikul dan berkeliling kampung.

Lambat laun, usaha tersebut berkembang hingga pada 1970-an cara berjualan berubah menggunakan -kenangan-17-tahun-keajaiban-serenan-klaten">gerobak dorong. “Setelah berjalan gerobak dorong, cara berjualan berubah berupa lapak yang masih menggunakan gerobak sebagai tempat jualan,” katanya.

Kini, usaha itu dikenal masyarakat dengan nama -kenangan-17-tahun-keajaiban-serenan-klaten">angkringan atau hik. Suksesnya warga di tanah perantauan, membuat semakin banyak warga yang menjalankan usaha warung angkringan. Warung hik bisa ditemukan dengan mudah di hampir setiap sudut Kota Solo.

Warung sederhana yang identik dengan satu gerobak dorong tertutup terpal plastik. Sesuai konsepnya, makanan yang dijual di warung tenda ini sangat sederhana. Mulai dari nasi kucing, gorengan, satai usus, jadah, kacang rebus, dan berbagai camilan lainnya.

Sederhana sekali bukan makanan di warung hik? Tentu saja, hal itu sesuai dengan namanya, hik yang merupakan singkatan dari hidangan istimewa kampung. Adapun minuman yang dijual di warung hik juga tak kalah tradisional, seperti teh, kopi, jeruk, hingga -kenangan-17-tahun-keajaiban-serenan-klaten">wedang jahe. Itulah sebabnya warung hik sering juga disebut dengan nama wedangan atau lebih dikenal dengan angkringan oleh masyarakat Kota Jogja.

Kesan sederhana dan tradisional di warung hik semakin terasa dengan penerangan minimalis. Biasanya, warung tenda itu diterangi dengan cahaya lampu teplok atau mengandalkan lampu listrik yang cahayanya remang-remang.

Meski konsepnya sederhana, warung hik selalu ramai. Hampir semua makanan yang dijual di warung hik berharga terjangkau. Namun, bukan berarti hanya kalangan menengah ke bawah saja yang bertandang ke warung hik. Mulai dari tukang becak, mahasiswa, pegawai kantoran, hingga pejabat berpangkat tinggi sering datang ke warung hik untuk makan dan mengobrol santai.

Selain makanan murah meriah, daya tarik lain bagi pengunjung warung hik adalah suasana santai dan kekeluargaan. Biasanya, pemilik warung hik tidak menyediakan kursi dalam jumlah banyak. Warung tenda itu hanya dilengkapi kursi kayu panjang yang memuat sekitar delapan orang saja.

Pemilik warung hik menyediakan tikar yang siap digelar di mana pun sesuai keinginan pelanggan. Itulah sebabnya warung hik biasanya berada di emperan bangunan tertentu yang cukup luas. Hampir setiap orang di Solo punya warung hik favorit, seperti diutarakan warganet melalui kolom komentar di foto makanan khas hik unggahan akun Instagram @jelajahsolo, Jumat (25/1/2019). Foto tersebut membuat sejumlah orang yang merantau keluar kota kangen dengan suasana Solo.

"Hik abadi di Solo. Tidak pernah hilang meski banyak angkringan kekinian, luar biasa," komentar @kikky_ool.

"Kangen banget makan di hik Solo. Murah meriah dan merakyat," sambung @ahmmahddhhau.

"Selalu kangen dengan suasana malam di Solo, khususnya ngobrol di hik. Apalagi ngobrol-nya sama dia yang istimewa," imbuh @emhagazali.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten