Tutup Iklan
Ilustrasi Bibliomania (Listverst)

Solopos.com, SOLO – Serial terbaru Tidying Up with Marie Kondo di Netflix yang diluncurkan pada Januari 2019 lalu mengundang berbagai respons dari penggemar. Disebutkan di serial tersebut, tokoh Marie menyarankan kita hanya butuh 30 buku.

Marie menyatakan seseorang tidak perlu memilki banyak buku untuk disimpan atau dikoleksi. Tentu saja banyak orang membantah pendapat ini, mereka yakin mengoleksi buku dalam jumlah justru lebih baik. Orang-orang inilah yang disebut dengan Bibliomania.

Beberapa gejala seseorang yang mempunyai Bibliomania memang sulit terlihat, mereka biasanya mengoleksi buku yang bahkan tidak pernah dibaca atau mengoleksi buku yang sama berulang kali. Mungkin gejala yang menonjol hanya perilaku seseorang yang memiliki keinginan mengoleksi buku namun tidak ada niatan untuk membaca dan menyelesaikannya.

Sangat penting untuk membedakan seseorang yang memiliki Bibliomania dan Bibliophilia, yang mana kedua keadaan tersebut sama-sama menyukai buku. Ada perbedaan besar mengenai kedua kondisi tersebut. Dr. Martin Sander membuat perbandingan "Bibliophilia adalah seseorang yang menguasai buku mereka, sedangkan Bibliomania adalah budak dari buku". Jika seseorang tidak bisa mengontrol kecanduan mengoleksi buku, hasilnya akan sangat berbahaya.

Nah, berikut 10 fakta soal Bibliomania sebagaimana dikutip Solopos.com dari Listverst, Selasa (18/6/2019):

1. Pencuri Buku

Stephen Blumberg atau dikenal dengan “Pencuri Buku”, adalah seorang yang mengumpulkan lebih dari 23.600 buku. Sayangnya, buku yang dia dapatkan bukan miliknya. Dia mengambil buku-buku tersebut dari 327 perpustakaan dan museum yang tersebar di seluruh Amerika. Dia juga mengambil sebagian buku dari Kanada dan Kolombia. Stephen mengembara untuk mencari dan mengoleksi buku, dia selalu mengunjungi perpustakaan yang berbeda dan tidak pernah menjual buku yang diambilnya.

Stephen mahir menghindari pemeriksaan petugas ketika mencoba keluar dari perpustakaan atau museum. Dia pernah keluar melalui lorong ventilasi dan bahkan nyaris meregang nyawa ketika mencoba mendaki elevator untuk melewati penjagaan petugas keamanan.

Pada 1990, Stephen akhirnya tertangkap. Temannya melaporkan Stephen ke polisi setelah mendengar bahwa Stephen menjadi buronan dan dihargai sekitar US$56.000 setara Rp798,6 juta untuk siapapun yang mampu memberitahu keberadaan Stephen.

Pada masa persidangan, psikiater Dr. William S. Logan, menjelaskan kepada pengadilan bahwa Stephen menderita Bibliomania. Dia dijatuhi hukuman 4-5 tahun penjara karena mencuri buku yang jika ditotal mencapai U$4,3 juta atau Rp61,3 miliar. Petugas sempat kesulitan ketika memindahkan buku yang telah Stephen ambil, diperlukan traktor untuk memindahkan total buku yang berbobot 19 ton.

Setelah bebas dari penjara Stephen meneruskan kembali aksinya sebagai Pencuri Buku

2. Penyakit yang tidak diakui

Bibliomania sudah terkenal dan telah dibahas selama 2 abad terakhir. Namun, pada buku Diagnosis Statistik Gagguan Mental yang dterbitkan Asosiasi Psikiater Amerika, tidak mengakui Bibliomania sebagai gangguan mental. Bahkan Press Universitas Oxford menyatakan Bibliomania hanyalah sekedar antusiasme pribadi.

Di psikologi, Bibliomania diakui dan digolongkan sebagai gangguan obsesif kompulsif. Perilaku mengumpulkan dan menumpuk buku bisa menimbulkan dampak buruk ketika keingingan seseorang untuk membeli dan mengoleksi buku melebihi keinginan lain seperti makan dan minum.

Para profesional medis membuat obat yang diharapkan mampu menekan perilaku kompulsif seseorang, tetapi cara ini kurang efektif karena hanya dengan mengandalkan obat-obatan, perilaku kompulsif tidak akan hilang begitu saja. Pengobatan berupa psikoterapi yang didesain khusus untuk penderita Bibliomania juga diperlukan untuk membantu kerja obat untuk menangkal perilaku kompulsif

3. Kasus fatal penggila buku

Biblion berasal dari bahasa Yunani yang berarti “buku", sedangkan Mania berarti kegilaan, jadi Bibliomania diterjemahkan menjadi kegilaan buku. Penggunaan pertama kata ini terlihat dari sebuah buku harian tahun 1734 ditulis oleh pengoleksi buku Thomas Hearne. Dia menulis "Saya telah menghamburkan banyak uang tanpa memikirkan bahwa saya telah terkena Bibliomania". Pada zaman dulu, Bibliomania dikategorikan sebagai kegilaan.

Pada 1750, Bibliomania kembali disinggung kembali pada sebuah surat oleh Raja Chesterfield kepada anaknya yang berbunyi "Hati-hati terhadap Bibliomania"

Pada 1809, sebuah buku diterbitkan oleh Thomas Dibdin yang berjudul Bibliomania, atau Kegilaan Buku. Dibdin menekankan Bibliomania merupakan kejanggalan "Neurosis". Ini adalah kali pertama Bibliomania dikategorikan sebagai kelainan kondisi medis. Dia menyebutnya sebagai "Penyakit Buku".

https://img.solopos.com/upload/img/10%20Biblio%20Foto%20-%208.jpg" width="632" height="422" alt="" /> Sebuah buku diterbitkan oleh Thomas Dibdin yang berjudul Bibliomania (Listverst)

4. Tsundoku

Bibliomania bukan hanya fenomena yang terjadi di negara barat. Di Jepang, fenomena ini disebut Tsundoku, yang merujuk kepada perilaku mengoleksi tumpukan buku namun tidak dibaca. Namun, Tsundoku tidak dianggap sebagai perilaku negatif oleh masyarakat Jepang, mereka menyadari bahwa setiap penderita Bibliomania mempunyai niatan untuk membaca buku yang mereka kumpulkan namun gagal.

Menurut Andrew Gerstle, seorang Profesor Teks Jepang di Universitas London, istilah Bibliomania muncul sekitar tahun 1879 tentang seorang guru yang mengoleksi banyak buku namun tidak pernah dibacanya. Sekarang, kata ini telah diterapkan dibeberapa segi kehidupan yang tidak terkait dengan literatur. Hal ini biasa dikaitkan dengan seseorang yang mengoleksi film, pakaian, atau bahkan video gim. Tentu saja kegiatan tersebut merupakan tindakan normal, namun jika terus menerus dilakukan akan mengakibatkan penumpukan.

5. Kutukan Buku

Ashurbanipal adalah seorang raja dari kerajaan Neo-Assyrian. Dia menganggap dirinya sebagai "Raja Dunia" yang mana dia selalu benar. Tidak diragukan lagi kerajaannya adalah yang terbesar di dunia. Dia juga seorang pustakawan di waktu luangnya dan juga Bibliomania pertama yang diketahui.

https://img.solopos.com/upload/img/10%20Biblio%20Foto%20-%206.jpg" width="632" height="392" alt="" /> Ashurbanipal seorang raja dari kerajaan Neo-Assyrian (Listverst)

Membaca dan menulis merupakan kebiasan wajar raja-raja pada abad ke-7 sebelum masehi, namun Ashurbanipal adalah orang yang rajin. Dia membuat perpustakaan yang memiliki daftar pertama di dunia. Dia menginginkan semua buku yang didapat dari jarahan perang (pada saat itu buku masih berupa lempengan tanah liat) untuk dimasukkan ke koleksinya.

Ashurbanipal telah mengumpulkan ratusan ribu buku, namun dia sangat protektif terhadap barang kesukaannya tersebut. Dia bahkan menulis kutukan kepada siapapun yang mencuri bukunya

Sekitar 2000 tahun setelah kehancuran kerajaan Neo-Assyirian. Perpustakaan Ashurbanipal terkubur di dalam runtuhan istananya. Pada 1849 ketika perpustakaan itu ditemukan, terdapat ratusan ribu literatur kuno di mana salah satunya adalah literatur tertua di dunia yang berjudul Epic of Gilgamesh, atau Gilgamesh yang hebat.

6. Tipe kolektor yang berbeda-beda

Bibliomania biasanya mengoleksi berbagai macam jenis buku. Menurut artikel Journal of Social Behaviour and Personality oleh Dr. Russell Belk, ada kolektor taksonomi yang memilki setiap bentuk barang yang di keluarkan oleh suatu produsen, ada juga kolektor estetis yang hanya mengoleksi jenis-jenis buku yang dianggap membawa kesenangan. Beberapa kolektor bahkan mengumpulkan buku dan menganggap buku tersebut suci atau keramat.

ada jurnal yang sama, Ruth Formanek mendeskripsikan motivasi utama seseorang menjadi kolektor. Pertama, seseorang mengumpulkan banyak buku hanya untuk menambah wawasan dirinya sendiri.

Kedua, mereka mengoleksi buku dengan harapan informasi yang mereka dapatkan mampu membantu mereka berbagi dengan sesama orang yang tertarik dengan informasi tersebut. Kolektor lain merasa bahwa mereka tertarik untuk mengoleksi buku karena ingin menjaga dan mempertahankan sejarah seiring berjalannya waktu. Menurut sebagian besar orang, mengoleksi berarti memiliki niat untuk menjual, namun tidak dengan para Bibliomania, tujuan utama mereka hanya untuk mengoleksi buku dalam jumlah besar tidaklah lebih dari sekedar gejala kecanduan mereka.

7. Bahaya Keamanan

Mengoleksi buku dalam jumlah besar juga memiliki dampak buruk lain. Seorang Bibliomania tidak hanya mengoleksi buku dalam satu ruangan, mereka terkadang menumpuk buku-buku mereka di seluruh penjuru rumah, hal ini tentunya dapat membahayakan keamanan mereka sendiri. Buku yang ditumpuk tinggi dalam jumlah besar bisa sewaktu-waktu jatuh dan menimpa seseorang. Selain faktor keamanan, kebersihan juga menjadi kekhawatiran seorang kolektor buku, sejumlah buku yang ditumpuk akan menarik perhatian kecoa dan tikus yang dapat mengganggu kesehatan bibliomania. Kondisi tidak higienis ini juga dapat menjadi sarang perkembang biakan semut dan rayap.

Menumpuk buku merupakan kebiasaan para Bibliomania, terkadang mereka juga menumpuk buku sehingga menutup jalan keluar rumah. Hal ini tentu saja berbahaya karena buku juga merupakan bahan yang mudah terbakar. Percikan api kecil di antara tumpukan buku merupakan pemicu terjadi kebakaran yang sangat berbahaya.

Perilaku lain yang biasanya dialami oleh Bibliomania adalah bibliophagy, yang mana perasaan tidak terkendali untuk memakan buku. Tentu saja hal ini bisa berakibat fatal bagi kesehatan seseorang

8. Raja Bibliomania

Sir Thomas Philipps adalah seseorang yang hidup pada abad ke 19, dia dijuluki bibliomanac oleh semua orang, namun dia menganggap kondisi dirinya lebih buruk dari itu, dia menggap dirinya adalah seorang vello-mania, yang merujuk pada kebiasaan mengoleksi tak hanya buku melainkan juga dokumen.

Pada tumpukan koleksinya, Sir Thomas memiliki beberapa mesin pencetak sehingga dia dapat membuat dokumen sebanyak mungkin. Ribuan lembar koleksi Sir Thomas menumpuk di rumahnya, sebagian bahkan tidak pernah keluar dari kotak penyimpanan. Sir Thomas sengaja membiarkan atapnya yang bocor dan tidak membayar tagihan untuk memenuhi kebutuhan koleksi bukunya. Seabad setelah kematian Sir Thomas, koleksi bukunya dilelang kepada penawar tertinggi. Koleksi naskah Sir Thomas merupakan yang terbesar di abad ke 19, meliputi 40.000 buku dan 60.000 naskah

9. Disebabkan oleh trauma

Para Bibliomania biasanya sudah mulai mengoleksi buku sejak kecil. Beberapa psikiater menjelaskan bahwa bibliomania merupakan mekanisme pertahanan dari trauma masa kecil.

https://img.solopos.com/upload/img/10%20Biblio%20Foto%20-%209.jpg" alt="" />  Ilustrasi Bibliomania (Listverst)

Trauma tersebut menyebabkan penderita menjadi skeptis tentang masalah mendasar. Mereka biasanya menutupi rasa sakit dengan menumpuk buku di sekitar mereka untuk menutupi masa lalu yang tidak ingin mereka tunjukkan. Ketagihan merupakan suatu cara mengatasi rasa sakit yang dialami penderita trauma. Ketika godaan tersebut tidak diperiksa lebih dalam, hal ini dapat mengakibatkan masalah lebih besar seperti Bibliomania.

10. Pustakawan yang Luar Biasa

Pada 1869, Dr. Alois Pichler diberkan posisi terhormat sebagai Pustakawan di Perpustakaan Umum Imperial di St. Petersburg, Russia. Sayangnya, keinginan Pichler terhadap buku lebih dari sekedar menjaganya.

Pada hari-hari pertamanya menjadi pustakawan, tidak ada hal janggal yang terjadi dan semua berjalan dengan normal. Namun setelah bebapa bulan, terdapat kasus pencurian buku dalam jumlah besar. Para penjaga mencurigai Pichler sebagai pelaku karena terkadang dia menjatuhkan beberapa buku ketika keluar dan segera mengembalikannya ke rak buku. Selain itu, Pichler juga selalu memakai mantel besar yang tidak pernah ia lepas.

Setelah berkerja selama 2 tahun, sekitar 4.500 buku telah hilang dari perpustakaan. Kejadian ini merupakan pencurian dari perpustakaan terbesar yang pernah dicatat. Tidak ada kesamaan mengenai topik buku yang hilang, mulai dari buku tentang parfum sampai tentang agama. Pada akhirnya, Pichler dituduh melakukan pencurian dan akan dibawa ke persidangan

Pengacara Pichler menegaskan bahwa dia tidak bersalah, karena seorang Bibliomania tidak mampu mengendalikan keinginannya untuk mengambil buku. Sayangnya pendapat tersebut tidak mampu membebaskan Pichler dari pidana. Pichler diasingkan ke Siberia berdasarkan hasil sidang.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten