Tahu Bikinan Warga Manyaran Wonogiri Ini Dipasarkan hingga Jakarta dan Lampung

Suparti, warga Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri memproduksi tahu sejak puluhan tahun lalu.

Selasa, 27 September 2022 - 19:54 WIB Penulis: Luthfi Shobri Marzuqi Editor: Ponco Suseno | Solopos.com

SOLOPOS.COM - Salah satu pekerja di usaha produksi tahu milik Suparti dari Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, sedang memotong adonan tahu yang disiapkan dalam wadah ecek, Minggu (25/9/2022). (Solopos.com/Luthfi Shobri M).

Solopos.com, WONOGIRI — Kisah sukses ini datang dari Suparti, warga Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri. Sejak puluhan tahun lalu, ia memulai bisnis sederhana, yakni memproduksi tahu.

Kepada Solopos.com, Selasa (27/9/2022), ia mengatakan usaha tahu miliknya merupakan warisan bisnis dari orang tuanya. Tahu merupakan makanan berbahan dasar kedelai.

Mulanya, proses produksi tahu dilakukan manual. Seiring perkembangan zaman, ia mulai menggunakan mesin penggiling bertenaga diesel meski masih ada sebagian tahapan yang dilakukan secara manual.

Setiap hari, mesin gilingan dan wajan penggorengan yang berlokasi di bagian belakang rumah Suparti tak berhenti memproduksi tahu. Proses produksi tahu dimulai pukul 07.00 WIB hingga 23.00 WIB. Saat ini, Suparti memiliki enam karyawan yang tak lain merupakan keluarganya sendiri.

“Tiga laki-laki melakukan proses penggilingan. Mereka bekerja mulai pagi hingga siang. Setelah itu dilanjut dengan proses penggorengan yang dilakukan tiga perempuan. Mereka memulai proses penggorengan itu sejak siang hingga malam hari,” kata Suparti.

Baca Juga: 1.000 Cup Kopi Dibagikan Gratis di Festival Kopi dan Batik Wonogiri

Dalam sekali produksi, kedelai (bahan utama) yang ia butuhkan sebanyak tiga kuintal. Proses pembuatannya dimulai dari pencucian kedelai yang akan dibuat tahu. Setelah dicuci, kedelai direndam dalam air hangat lalu digiling agar kedelainya hancur sampai halus atau berbentuk bubur.

Pascahancur, kedelai dimasak dalam wadah tertutup dan ditunggu sampai uap panasnya keluar lalu menghilang. Kedelai yang sudah masak itu lalu diendapkan.

“Endapan itu dipres sampai airnya habis dan ditaruh dalam ecek untuk dicetak menjadi adonan tahu. Setelah itu adonannya dikeringkan dan siap digoreng,” imbuhnya.

Dari bahan baku tiga kuintal kedelai, Suparti mengaku dapat menghasilkan sekitar 100 ecek. Setiap ecek memiliki jenis tahu yang beragam, seperti tahu pong, tahu goreng tawar, dan tahu krispi.

Baca Juga: 4 Makanan Unik di Wonogiri

Beragam jenis tahu dalam cetakan ecek lalu dipotong-potong lalu digoreng di wajan berisi minyak goreng panas selama dua menit. Setelah diangkat dari wajan, tahu tersebut didiamkan hingga dingin kemudian siap dikemas.

Dalam pengemasan itu, Suparti tak menggunakan plastik bermerek melainkan hanya diwadahi ember berpenutup. Tahu goreng hasil produksi seharian itu kemudian dijual di pasar pagi harinya. Hal itu mulai dari Pasar Manyaran, maupun di luar Kecamatan Manyaran.

“Ada juga di luar Wonogiri, seperti Jakarta, Lampung, dan lain-lain. Biasanya mereka membawa kendaraan transportasi sendiri. Saya tinggal terima beres karena transaksinya di depan rumah,” imbuhnya.

Dalam sekali jual, keuntungan bersih yang ia dapat biasanya sekitar Rp200.000. Uang itu digunakannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain sebagai perajin tahu, dia juga memiliki usaha ternak sapi dan kambing.

Baca Juga: Kisah Petani Wonogiri Cari Cuan dengan Membatik di Musim Kemarau

“Saya punya sembilan sapi dan lebih dari 20 kambing. Kalau ada yang mau pesan biasanya datang ke rumah. Bukan saya yang mendatangi mereka. Tapi justru dari bisnis ternak ini yang cukup menghasilkan. Soalnya makanan ternak yang saya gunakan adalah limbah tahu. Tinggal menambah asupan gizi lainnya,” kata dia.

Salah satu karyawan Suparti, yakni Desi, 45. Perempuan paruh baya itu bekerja sebagai penggoreng tahu sejak 2018. Saat masuk kerja, Desi memperoleh imbalan senilai Rp80.000. Biasanya, Desi menggoreng aneka adonan tahu mulai pukul 13.00 WIB.

“Kalau sudah selesai menggoreng tahu sebanyak 100 ecek, saya biasanya langsung mengemas,” kata Desi.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif
HEADLINE soloraya Intip Sajian Makanan di Pernikahan Kaesang-Erina, Ada yang Modern dan Kekinian! 13 menit yang lalu

HEADLINE soloraya Warga Bumiharjo Wonogiri Bersihkan Material Longsor di Rumah Milik Eksodan Aceh 14 menit yang lalu

HEADLINE soloraya PMI dan DPP Sukoharjo Gencar Pasang Eartag Pada Sapi, Ini Wilayah Sasarannya 14 menit yang lalu

HEADLINE soloraya Warga Sragen Jadi Penumpang Helikopter P-1103 yang Hilang di Perairan Belitung 23 menit yang lalu

HEADLINE soloraya Acara Perdana Sukses, Balon Udara Kemuning Karanganyar Bakal Ada Lagi 40 menit yang lalu

HEADLINE soloraya Jalan Menuju Goa Resi Wonogiri Retak Sepanjang 20 Meter, Mobil Dilarang Lewat 44 menit yang lalu

HEADLINE soloraya Kaesang-Erina Ziarah ke Makam Raja Mangkunegara, Juru Kunci: Minta Izin Resepsi 51 menit yang lalu

HEADLINE soloraya Dukung Program Kantin Cumi, Pengantin di Karanganom Klaten Tebar Ikan di Sungai 1 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Tips Petani Muda Sukses: Niat Dahulu, Nekat Kemudian 1 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Sesuaikan Survei KHL, Serikat Pekerja di Boyolali Tetap Usulkan UMK Rp3 Jutaan 1 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Kronologi Mobil Nyungsep di Saluran Irigasi Sukoharjo Gegara Google Maps 1 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Rahasia Pindang Kambing Mbah Sinem Wonogiri Sering Ludes dalam Waktu 2 Jam 1 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Fenomena Efek Wali Kota Gibran, Warga Luar Solo Ramai-Ramai Sambat 2 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Ibu Negara Iriana Test Food Kuliner Pernikahan Kaesang-Erina 2 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Tambang Ilegal di Klaten Merusak Ekosistem Gunung Merapi 2 jam yang lalu