Syafii Maarif Mengalahkan Rasa Takut

Kini, Buya Syafii Maarif berpulang pada usia 86 tahun. Seharusnya, 31 Mei 2022 Buya berulang tahun. Kita kehilangan sosok guru bangsa yang menjaga moral bangsa.

 Syifaul Arifin (Istimewa/Dokumen pribadi)

SOLOPOS.COM - Syifaul Arifin (Istimewa/Dokumen pribadi)

“Musuh terbesar itu adalah rasa takut.” Kalimat itu meluncur dari mulut Buya Ahmad Syafii Maarif. Sebagai cendekiawan, dia dikenal galak terhadap koruptor, penguasa yang menyimpang hingga kelompok yang suka melakukan kekerasan. Namun, kalimat itu Buya ucapkan sambil tangannya mengambil potongan tulang dalam sepiring tengkleng di warung  H. Kasdi, depan Stasiun Balapan, Jl. Monginsidi, Solo, Selasa (16/6/2015) siang.

Kalimat di awal tulisan itu tidak terkait politik. Kalimat itu adalah jawaban Buya atas pertanyaan saya kenapa masih berani makan daging kambing padahal usianya saat itu (2015) sudah 80 tahun. Dia lahir 31 Mei 1935 di Sumpurkudus, Sumatra Barat. Orang seusia dia rata-rata wajib menjaga pola makan, termasuk menghindari daging kambing. “Takut itu psikologis,” ujar mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu.

PromosiHari Keluarga Nasional: Kudu Tepat, Ortu Jangan Pelit Gadget ke Anak!

Buya Syafii makan siang di warung itu seusai mengisi talkshow Islam dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang digelar Maarif Institute dan Jamaah Nurul Huda UNS. Sebenarnya moderator takshow itu sineas Garin Nugroho diajak makan siang bareng. Namun, Garin tak ikut karena harus pulang lebih dulu.

Dosen Sejarah UNS Waskito Widi Wardoyo yang jadi panitia talkshow mengajak Buya Syafii makan siang di warung sate kambing. Saya diajak ikut serta. Satu setengah tahun sebelumnya saat Syafii ke Solo, Widi juga mengajaknya ke warung sate H. Kasdi. Jadi, Widi  tahu warung sate kesukaan Buya. Tentu tak ada penolakan dari Buya saat ditawari makan siang tengkleng dan sate kambing.

Ahmad Syafii Maarif
Ahmad Syafii Maarif (Antara/Reno Esnir)

Awalnya Buya Syafii menikmati sepiring tengkleng, tulang yang dibalut sedikit daging dengan kuah encer warna kuning. Dia makan dengan cara muluk alias menggunakan  tangan. Sendok hanya untuk mengambil kuah dari piring tengkleng, memasukkannya ke piring nasi atau ke mulutnya.

Apakah Buya tak memiliki pantangan? “Tidak. [Penyakit] gula saja,” kata Buya Syafii. Segelas teh tawar menemani tengkleng, sate, nasi panas, dan kerupuk. Sensasi makan tengkleng salah satunya adalah mbrakoti tulang-belulang itu. Abaikan soal jaim (jaga imej). Yang penting enak.

Buya Syafii sering makan tengkleng dan sate. Saat sepiring  sate datang ke mejanya, dia mengambilnya satu tusuk, lalu diulangi beberapa kali. Saat ditawari  sate buntel, Syafii menolaknya. “Terlalu besar [ukurannya]. Ini saja.”

Sekitar setengah jam di warung itu, kami menemani Buya Syafii makan siang. Satu piring tengkleng di depan Buya Syafii tandas. Hanya tersisa sedikit kuah. Demikian pula sate.  Iseng-iseng saya tanya berapa sate yang dia makan. Dia lalu menghitung tusuk sate di depannya. “Satu, dua, tiga, empat, lima.”

Setelah minum, dia mengucap “Alhamdulillah” sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ada butir-butir keringat di wajahnya.

Di Solo, selain warung di depan Balapan, ada warung sate lain yang biasa didatangi. Dia tak hafal lokasi tepatnya, cuma menyebut dekat Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Ada dua hal yang tak bisa ditinggalkan oleh Buya Syafii yaitu kuliner dan bersepeda. Jika tak pergi ke luar kota, Buya Syafii selalu menyempatkan untuk gowes dari rumahnya di Perumahan Nogotirto, Gamping, Sleman. “Hampir setiap hari. Tak selalu pagi. Bisa juga sore. Tak tentu,” ujar Buya.

Jarak tempuhnya sekitar 6 km. Selama gowes itu, Syafii sering mampir. Betul, mampir ke warung makan. Banyak makanan dan warung yang dia coba. “Termasuk yang seperti ini,” kata dia sambil menunjuk sate.

Di samping itu, makanan kesukaannya adalah oseng-oseng. “Yang campur-campur,” jawabnya saat ditanya jenis oseng-osengnya.

Saat ke Solo, Syafii naik taksi sendirian dari rumahnya ke Stasiun Tugu pada pagi hari, lalu menumpang KA Malioboro. Seusai acara, dia juga memilih naik KA Prameks pada pukul 14.00 WIB. Setelah menikmati tengkleng dan sate di warung H. Kasdi, dia tinggal berjalan ke Stasiun Balapan. Tak ada yang menemani, kecuali para penumpang KA.

Fajar Riza Ul Haq dari Maarif Institute mengatakan Syafii sering tak mau dijemput pakai mobil. Saat bepergian jauh, Buya Syafii terkadang membawa tongkat dari stainless untuk membantunya berjalan. Dia yakin kekhawatiran dan rasa takut itu bisa dia lawan, termasuk dalam hal makanan.

Buya Syafii  berpulang pada usia 86 tahun. Seharusnya, 31 Mei 2022 Buya berulang tahun. Kita kehilangan sosok guru yang menjaga moral bangsa. Kalimat “Musuh terbesar itu adalah rasa takut” tak hanya Buya Syafii praktikkan dalam berkuliner, tapi juga kehidupan berbangsa dan bernegara. Dia sering bersikap keras. Kepada koruptor, elite politik  yang culas, hingga orang-orang yang sering melakukan kekerasan atas nama agama. Tak ada rasa takut. Bahkan Buya Syafii berani dianggap tak populer gara-gara kritikan kerasnya itu. Selamat jalan Buya Syafii  yang menjadi muazin bangsa.

Tulisan lama ini diolah kembali dengan momentum wafatnya Ahmad Syafii Maarif. Ditulis oleh Syifaul Arifin

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

Espos Plus

Lekukan Garis Pantai Jawa Tengah Hasil Pertemuan Sesar Mendatar

+ PLUS Lekukan Garis Pantai Jawa Tengah Hasil Pertemuan Sesar Mendatar

Garis Pantai Utara dan Selatan Jawa Tengah menyempit masuk lebih ke dalam membentuk lekukan (indentasi) dibandingkan dengan garis Pantai Utara dan Selatan Jawa Barat dan Jawa Timur diduga merupakan hasil pertemuan sepasang sesar mendatar besar yang saling berlawanan arah.

Berita Terkini

Erick Thohir dan Panggung 2024

Tidak cukup dengan segudang prestasi yang berhasil dicetak Erick Thohir untuk bisa meramaikan panggung Pilpres 2024.

Eksplorasi Inovasi Energi 2022

Seiring dengan Pemberangkatan Tim Ekspedisi Energi 2022, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyajikan artikel opini bertajuk Eksplorasi Inovasi Energi 2022 di Rubrik Gagasan Solopos, Kamis 23 Juni 2022.

Career Advancement dengan Penguatan Soft Skills

Untuk dapat menyelesaikan masalah dan menciptakan ideasi baru dalam karier, setiap individu harus mampu berpikir kritis.

Swasembada Beras, Hil yang (Tak Lagi) Mustahal

Berbeda dengan keberadaan jalan tol, keberadaan infrastuktur penyedia air irigasi bagi lahan pertanian yang juga banyak dibangun belakangan ini, relatif jarang dibicarakan.

Merawat Kenangan

Merawat kenangan adalah sebuah bentuk penghargaan. Candi Borobudur layak mendapatkannya, karena kebanggaan bangsa.

Negara dan Dana Pesantren

Dosen UIN Raden Mas Said Solo dan peneliti Pusat Pengkajian Masyarakat dan Pendidikan Islam Nusantara (PPM PIN) Zainal Anwar pada 23 Oktober 2021 menyajikan artikel opini bertajuk Negara dan Dana Pesantren dalam rangka Hari Santri tahun 2021. Dosen UIN Raden Mas Said Solo dan peneliti di Pusat Pengkajian Masyarakat dan Pendidikan Islam Nusantara (PPM PIN), Zainal Anwar, 23 Oktober 2021, menyajikan artikel opini bertajuk Negara dan Dana Pesantren dalam Koran Solopos.

Beranda: Euforia Bank Digital, Pelajaran dari Bank MNC

Pada rubrik Beranda Koran Solo edisi 22 Oktober 2022 Hery Trianto, jurnalis Bisnis Indonesia. menyajikan kolom atau artikel opini bertajuk Euforia Bank Digital, Pelajaran dari Bank MNC.

Menolak Legalitas Nikah Siri

Penghulu Madya KUA Kecamatan Teras Boyolali yang juga Sekretaris  PW Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Jawa Tengah, Mahmuduzzaman, S.Ag., pada 21 Oktober 2022, menyajikan artikel opiini bertajuk Menolak Legalitas Nikah Siri di Kora Solopos.

Pemerataan Mutu Pendidikan Solo Raya

Khaerul Anwar sebagai pengawas SMA pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah pada 20 Oktober 2021 berkontribusi pada rubrik Opini Gagasan di Harian Solopos melalui tulisan bertajuk Pemerataan Mutu Pendidikan Solo Raya.

Syafii Maarif Mengalahkan Rasa Takut

Kini, Buya Syafii Maarif berpulang pada usia 86 tahun. Seharusnya, 31 Mei 2022 Buya berulang tahun. Kita kehilangan sosok guru bangsa yang menjaga moral bangsa.

Apem, Kolak, dan Ketan

Pura Mangkunegaran bikin gebrakan kecil. Beberapa paket wisata disajikan untuk masyarakat umum. Antara lain paket kuliner khas Pura berupa apem, kolak pisang dan ketan.

Kue Ekonomi Lebaran

Lebaran tahun ini menjadi evidence alias bukti yang nyata. Mudik bukan sekadar perjalanan spiritual menengok kampung leluhur atau sungkem kepada orang tua, melainkan juga menjadi manifestasi geliat ekonomi wisata yang nyata.

Adil dalam Pikiran dan Perbuatan

Sekarang ini, orang cenderung menyukai informasi atau pendapat yang memperkuat keyakinan atau nilai-nilai mereka sebelumnya. Mereka mengabaikan bukti-bukti baru yang berbeda dengan keyakinannya.

Saling Menguatkan, Saling Memulihkan

Lebaran tahun ini, ada kebahagiaan membuncah. Kerinduan panjang tak bersua bakal terobati.

Mudik, Rohali, dan Rojali

Bayangkan perputaran uang yang tercipta dari sekitar 85 juta orang itu. Tentu tidak sedikit. Apalagi, dua tahun sudah agenda mudik ini tidak dilakukan. maria.benyamin@bisnis.com 

Hukum Cagar Budaya dan Agraria

Bagimana untuk mencegah terjadinya perusakan bangunan, struktur, situs cagar budaya terkait keberadaan masyarakat yang menempatinya? Tentu saja harmonisasi hukum antara UU Cagar Budaya dan UU Agraria perlu dijalankan.