Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dirawat di rumah sakit, Senin (15/10/2018). (Twitter-@Sutopo_PN)

Solopos.com, SOLO - Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia, Minggu (7/7/2019). Sebelum berobat ke China ia sempat mengunggah video di Instagram yang sekaligus menjadi unggahan terakhirnya.

"Hari ini saya ke Guangzhou untuk berobat dari kanker paru yang telah menyebar di banyak tulang dan organ tubuh lain. Kondisinya sangat menyakitkan sekali," tulis Sutopo 15 Juni 2019.

Unggahan tersebut menampilkan video situasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta ketika Sutopo hendak berangkat ke Guangzhou, China.

Dalam video itu, Sutopo mengatakan dia berangkat berobat ke Guangzhou karena penyakit kanker sudah menggerogoti tubuhnya.

"Saya mohon doa restu pada rekan2 bisa sembuh dari sakit kanker ini. Bisa berkumpul kembali dengan keluarga dan teman-teman," kata Sutopo dalam video tersebut.

Di unggahan tersebut Sutopo mengatakan dia direncanakan berada di Guangzhou selama satu bulan sekaligus meminta maaf tidak bisa menyampaikan informasi tentang bencana dengan cepat.

Namun, takdir Illahi berkata lain. Minggu sekitar pukul 02.00 waktu Guangzhou atau 01.00 WIB, Sutopo meninggal dunia di Rumah Sakit Kanker Modern St Stamford, Guangzhou pada usia 49 tahun.

Kabar duka tersebut pertama kali diunggah anaknya yang bernama Ivanka Rizaldy melalui akun Instagramnya dengan menampilkan foto keluarga.

"Malam ini telah berpulang ke Rahmatullah seorang pahlawan dan ayahanda tercinta saya, Sutopo Purwo Nugroho saat menjalani pengobatan di Guangzhou, China," tulis Ivan.

Kebenaran berita itu juga dikabarkan oleh tim Hubungan Masyarakat BNPB melalui pesan tertulis yang disebarkan melalui perpesanan Whatsapp.

"Kami, kita, semua merasa kehilangan Pak Sutopo. Sosok yang terdepan dan gigih dalam menyampaikan informasi bencana di Indonesia," bunyi salah satu bagian dari pesan tersebut.

Tetap Bekerja Saat Sakit
Sakit, sehat, hidup, mati, itu adalah bagian dari kehidupan. Semua sudah diatur, saya nikmati saja. Yang penting saya ikhtiar," kata Sutopo saat diwawancarai seusai jumpa pers pada 26 Februari 2018.

Wawancara tersebut dilakukan tidak lama setelah Sutopo mengumumkan kanker paru stadium IVB yang dia idap melalui media sosial. Dia divonis mengidap kanker pada 17 Januari 2018.

Untuk menyampaikan informasi-informasi kebencanaan, Sutopo memang aktif menggunakan berbagai media, termasuk media sosial. Dia juga mengabarkan penyakitnya tersebut melalui media sosial.

Sutopo mengatakan kenyataan sebagai salah satu pengidap kanker itu sempat membuatnya terguncang. Pasalnya, dia merasa selama ini sudah menerapkan hidup sehat dengan makan makanan yang sehat dan tidak merokok.

"Saya syok, tetapi tidak sampai menangis. Istri dan anak saya yang menangis. Mungkin ini memang teguran dari Tuhan. Saya ikhlas," tuturnya.

Di tengah vonis dokter terhadap penyakit yang diidapnya, Sutopo sempat berpikir untuk mengurangi aktivitasnya melayani wartawan. Namun, dia berpikir masyarakat dan wartawan masih memerlukan dia.

"Saat saya tidak ada, kejadian bencana tidak diberitakan oleh media. Kalau pun ada, pernyataan dari pejabat berwenang sangat normatif," katanya.

Akhirnya dia memutuskan untuk tetap aktif bekerja meskipun sudah disibukkan dengan pengobatan yang harus dijalani. Dia menganggap pekerjaannya melayani wartawan sebagai bagian dari ibadah.

Karena itu, di saat dia sedang menjalani terapi atau pengobatan, dia tetap mengumpulkan data dan membuat siaran pers ketika terjadi bencana.

Di tengah tubuhnya yang didera rasa sakit, Sutopo tetap mengadakan jumpa pers untuk memberikan informasi terkini tentang penanganan bencana yang sedang dilakukan.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten