Tutup Iklan

Susu Kental Manis Hanya untuk Topping, Bukan Diseduh dan Diminum

Dari penelitian ditemukan 28,96 persen dari total responden mengatakan kental manis adalah susu pertumbuhan.

 Ilustrasi susu kental manis. (Freepik)

SOLOPOS.COM - Ilustrasi susu kental manis. (Freepik)

Solopos,com, SOLO-Badan Pengawasan Obat & Makanan (BPOM) mengingatkan masyarakat bahwa susu kental manis (SKM) bukanlah asupan pengganti susu melainkan hanya untuk topping atau pelengkap sajian makanan.

Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan, Rita Endang, menyatakan SKM tidak untuk diseduh atau diminum langsung sebagaimana susu pada umumnya, sebab fungsi SKM tidak untuk menggantikan ASI, tidak cocok untuk bayi sampai 12 bulan, serta tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya sumber gizi.

“Tipikal dari SKM adalah susu yang manis, memang tidak untuk usia anak-anak di bawah 1 tahun. Sudah ada peringatannya, masyarakat yang memang berisiko terhadap kandungan gulanya seharusnya perlu mengoreksi diri,” kata Rita.

Menurut Rita, SKM seharusnya digunakan untuk topping bukan untuk diseduh. “Sebab, cara konsumsi seperti itu [diseduh] merupakan kebiasaan yang salah dan harus diubah,” kata dia seperti dikutip dari Antaranews.com, Selasa (14/9/2021).

Baca Juga: Sering Kelelahan di Sore Hari? Lakukan 6 Cara Ini Agar Kembali Bersemangat

“Kami sudah menuangkan dalam regulasi peraturan badan POM Nomor 31 Tahun 2018 tentang label pangan olahan jadi memang ditegaskan pula bahwa penggunaan yang benar itu digunakan sebagai topping misalnya untuk martabak, campuran kopi, coklat, dan lain-lain,” kata dia.

Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia (YAICI), Arif Hidayat mengapresiasi hal tersebut. Menurut Arif, larangan kental manis atau SKM diseduh merupakan kemajuan, karena selama ini YAICI mengadvokasi dan meminta BPOM agar ada aturan bahwa kental manis bukan untuk diseduh, melainkan hanya sebagai topping makanan.

“Kami, YAICI berharap larangan ini bisa disosialisasikan kepada masyarakat terutama masyarakat yang selama ini menganggap kental manis boleh diseduh,” ujar Arif.

Arif menambahkan, meskipun BPOM sudah mengeluarkan larangan, YAICI akan tetap memantau penerapan di lapangan, “Jangan sampai larangan ini hanya sebatas larangan tanpa adanya sosialisasi kepada masyarakat, dan lebih penting lagi tindak tegas kepada produsen agar merevisi kegunaan kental manis,” kata dia.

Penelitian menunjukkan bahwa sebagian ibu atau sekitar 28,9 persen masih menganggap susu kental manis (SKM) sebagai susu pertumbuhan.

Baca Juga: Mau Memperkuat Otot Bahu? Cobalah Gerakan Y Raise

“Diketahui 48 persen ibu mengakui bahwa SKM sebagai minuman untuk anak dari media TV, koran dan sosial media. Ada 16,5 persen mengatakan informasi tersebut didapat dari tenaga kesehatan,” ucap Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Dra Chairunnisa, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta.

Penelitian dilakukan YAICI, PP Muslimat NU dan PP Aisyiyah tentang Persepsi Masyarakat Tentang Kental Manis pada 2020 dengan total responden 2.068 ibu yang memiliki anak usia 0 – 59 bulan atau 5 tahun.

Dari penelitian ditemukan 28,96 persen dari total responden mengatakan kental manis adalah susu pertumbuhan, dan 16,97 persen ibu memberikan kental manis untuk anak setiap hari.

Temuan menarik lainnya adalah, kategori usia yang paling banyak mengonsumsi kental manis adalah usia tiga hingga empat tahun ada 26,1 persen,bmenyusul anak usia dua hingga tiga tahun ada 23,9 persen.

Sementara konsumsi kental manis oleh anak usia satu hingga dua tahun sebanyak 9,5 persen, usia empat hingga lima tahun sebanyak 15,8 persen dan 6,9 persen anak usia lima tahun mengkonsumsi kental manis sebagai minuman sehari-hari.

Chairunnisa mengatakan media sangat memiliki peran penting di dalam memberikan persepsi kepada masyarakat. “Betul, bahwa memang media ini memiliki peran penting didalam memberikan persepsi kepada masyarakat tentang kental manis adalah susu,” kata Chairunnisa.

Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, Erna Yulia Soefihara, mengatakan bahwa ia dan kadernya di seluruh Indonesia mencoba untuk merubah persepsi bahwa kental manis itu bukanlah susu yang bisa diminum untuk balita.

“Tapi memang sangat sulit ya, saat kitamelakukan sosialisasi itu karena sudah begitu lama di mereka itu bahwa susukental manis itu sehat. Sudah menjadi kebiasaan, setelah lepas ASI merekamengganti tidak dengan susu untuk anak, tapi memberikan kental manis,” kata Erna.

Ketua Harian YAICI, Arif Hidayat, mengatakan,pentingnya persoalan kental manis tidak hanya sebatas mencukupi gizi anak tapi juga potensi kerugian yang dialami negara akibat stunting bisa mencapai dua persen sampai tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) setiap tahunnya.
“Ini angka yang besar sekali. Kita lihat PDB 2019 sebesar Rp 15.833,9 triliun, makakerugian stunting bisa mencapai Rp 474,9 triliun. Jumlah itu mencakup biayamengatasi stunting dan hilangnya potensi pendapatan akibat rendahnyaproduktivitas anak yang tumbuh dengan kondisi stunting,” jelas Arif.

Baca Juga:  Pola Makan Tentukan Kesehatan Mental Anda, Begini Penjelasannya

Dosen Prodi Gizi, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tria Astika Endah Permatasari, mengingatkan pemberian susu untuk anak harus disesuaikan dengan kategori usia.

Salah satu jenis produk susu yang sebaiknya tidak diberikan kepada anak terutama bayi dan balita adalah susu kental manis.

“Kental manis sebetulnya bukan susu, dilihat dari tabel kandungan gizi, kental manis memiliki kandungan karbohidrat paling tinggi yaitu 55 persen per 100 gram, sehingga tidak dianjurkan untuk balita.” jelas Tria.

Anak yang sudah terbiasa mengkonsumsi kental manis akan beresiko mengalami kekurangan nutrisi dan kelebihan nutrisi dan berpotensi mengidap penyakit lainnya.

Berita Terkait

Berita Terkini

4 Tanda Anda Tidak Bahagia Dilihat dari Sisi Psikologis

Seringkali kita mengartikan orang yang jarang tersenyum sebagai tanda tidak bahagia.

Perhatikan Ini Sebelum Melepas Anak Sekolah Tatap Muka

Berikut berapa hal dapat disiapkan orang tua sebelum melepas anak untuk sekolah tatap muka.

Serem! Perempuan ini Diganggu Hantu Sampai Terseret ke Dapur

Video seorang perempuan yang tengah membuka sebuah kardus tiba-tiba terseret ke dapur rumahnya tanpa sebab menjadi viral.

Bak Pinang Dibelah, Wajah Perempuan Solo Ini Mirip Ernest Prakasa

Video seorang wanita yang disebut memiliki wajah yang mirip dengan aktor Ernest Prakasa viral di dunia maya.

Bukan Hanya Otak, Organ Lain Juga Rawan Kena Komplikasi Hipertensi

Kerusakan organ tubuh akibat komplikasi hipertensi tergantung kepada besarnya peningkatan tekanan darah dan lamanya kondisi yang tidak terdiagnosis dan tidak diobati.

Pisang Jumbo di Papua Ini Ukurannya Bikin Melongo

Pisang berukuran jumbo dengan diameter 10 cm ditemukan di Papua.

Seperti Tukul Arwana, Banyak Orang Tidak Menyadari Idap Hipertensi

Sebagian besar penderita tidak mengetahui dirinya idap hipertensi sehingga tidak mendapatkan pengobatan.

Kenali Gejala Hipertensi Seperti Dialami Tukul Arwana

Sebenarnya Tukul Arwana juga sudah menunjukkan gejala hipertensi, namun banyak yang tak menyadarinya.

5 Kuliner Khas Mandalika Lombok, Semuanya Menggugah Selera

Ini dia lima kuliner khas Mandalika, Lombok Tengah, NTB, yang bisa kamu coba setelah menonton balapan di Sirkuit Mandalika.

Asale Mandalika, Surga Tersembunyi di Lombok

Inilah sejarah dan potensi wisata di Mandalika yang disebut sebagai surga tersembunyi di Lombok, NTB.

Wisata Dekat Sirkuit Mandalika Lombok, Hangout Sambil Nonton Balapan

Ini dia deretan wisata eksotis dari pantai hingga budaya di dekat atau sekitar Sirkuit Mandalika di Lombok yang bisa kamu kunjungi sembari nonton balapan.

Legenda Putri Mandalika Bersejarah dengan Sirkuit MotoGP Megah

Terdapat legenda bersejarah Putri Mandalika di Lombok yang konon katanya memiliki paras cantik jeita. Ini dia ceritanya!

Viral Hijabers Dugem, Netizen: Tanda-Tanda Kiamat!

Para pemudi berhijab itu disebut 'dugem halal' karena asyik joget di kafe dengan lampu percahayaan yang minim.

Begini Cara Mencuci Beras yang Benar Agar Nutrisinya Terjaga

Tips memasak nasi kali ini membahas tentang bagaimana cara mencuci beras yang benar agar vitaminnya tidak hilang?

Ikuti Jejak Mark Zuckerberg, Yuk Terapkan Frugal Living

Di Indonesia, ada Cinta Laura, Desi Anwar, dan Raditya Dika yang telah menerapkan gaya hidup frugal living.

Memasuki Usia 40 Tahun, Wanita Disarankan Rutin Lakukan Ini

Memasuki usia 40 tahun, ada sejumlah hal yang sebaiknya menjadi perhatian wanita salah satunya adalah terkait kesehatan tubuh.