Tutup Iklan
Warga melihat kondisi sungai di Desa Drono, Kecamatan Ngawen, Klaten, yang tercemar limbah tahu dan tempe, Selasa (5/11/2019). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Air sungai di Desa Drono, Kecamatan Ngawen, Klaten, berubah warna jadi putih dan berbau busuk beberapa waktu terakhir. Sungai itu diduga tercemar limbah produksi tahu dan tempe yang banyak berdiri di desa itu.

Salah satu warga Dukuh Modinan, Desa Drono, Heru Santoso, 34, mengatakan bau busuk itu sudah tercium sejak dua bulan terakhir. Tak jarang, bau busuk tercium hingga ke rumahnya yang berjarak sekitar 20 meter dari sungai.

Heru menjelaskan bau busuk tercium sejak air sungai tak mengalir lantaran memasuki musim kemarau. Limbah berwarna putih banyak yang tertahan pada kubangan di tengah sungai.

“Kalau air sungai berwarna putih itu terjadi setiap hari. Namun, bau busuk tercium itu akhir-akhir ini ketika air sungai surut dan tidak bisa mengalir,” kata Heru saat ditemui wartawan di Desa Drono, Selasa (5/11/2019) siang.

Ibu-Ibu Karanganyar Tabrak Rumah Saat Belajar Nyetir, Suaminya Terluka

Heru menjelaskan dampak bau busuk terutama dirasakan warga yang tinggal di tepi sungai wilayah Dukuh Modinan. Soal sumber limbah, Heru tak mengetahui secara persis.

Hanya, di desa setempat terdapat sejumlah tempat produksi tahu dan tempe. Kepala Desa (Kades) Drono, Mukti Cahyono, mengatakan ada sekitar delapan pengusaha tahu dan tempe di Dukuh Drono serta Mlandangan.

Soal pencemaran sungai, Mukti tak menampik itu akibat limbah tahu dan tempe. Dia menegaskan sudah ada upaya untuk mengatasi persoalan limbah tersebut.

Pemerintah desa dan kecamatan sudah mengumpulkan para pengusaha tahu dan tempe beberapa waktu lalu. Dari pertemuan itu, para pengusaha membentuk paguyuban.

Heboh! Isi Diary Santriwati Ungkap Hubungan Intim dengan Kepala Madrasah

Setelah paguyuban terbentuk, mereka mengusulkan proposal permintaan bantuan ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Klaten agar mendapatkan bantuan pembuatan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL).

“Lokasi pembuatan IPAL juga sudah disiapkan di tanah bengkok Kades dan Sekdes. Sementara proposal sudah dikirimkan dan ini tinggal menunggu realisasi,” kata Mukti.

Sembari menunggu turunnya bantuan pembuatan IPAL, Mukti berembuk kembali dengan para pengusaha untuk mencari solusi sementara agar limbah tak mencemari sungai.

Jadi Trending Topic Gara-Gara Lemot, Telkomsel Beri Penjelasan

“Mungkin bisa dibuat sumur resapan agar limbah tidak sampai ke sungai,” kata Mukti saat ditemui sebelum menggelar pertemuan dengan pengusaha tahu dan tempe, Selasa siang.

Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Desa Drono, Yahya, mengakui limbah hasil produksi selama ini dibuang ke sungai terutama limbah dari produksi tahu. Limbah yang dibuang ke sungai merupakan air sisa memasak tahu.

“Terus terang memang seperti itu [dibuang ke sungai]. Namun, kami tetap berusaha agar tidak ada lagi limbah yang dibuang ke sungai salah satunya bekerja sama dengan pemerintah desa mengajukan proposal ke pemkab,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten