Pertunjukan musik tradisional bertajuk "Sunda Manda" di Teater Besar ISI Solo, belum lama ini. /Solopos-M. Ferri Setiawan

Solopos.com, SOLO - Kekuatan permainan anak khas Banyumas yang lazim dikenal dengan sebutan engklek atau sunda manda diadopsi menjadi karya konser musik sakral. Sang komposer, Guruh Purbo Pramono, mentransformasi permainan anak itu menjadi karya yang selama hampir satu jam membawa emosi penonton naik turun. Karyanya digelar di Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, beberapa waktu lalu.

Guruh mengolah karyanya ke dalam empat repertoar.  Pertama berjudul Tekad, kedua Krekat, ketiga Sambat, disusul Sumringah. Tekad mengartikan semangat menggebu-gebu di awal permainan. Krekat berisi cita-cita yang luhur. Sambat menggambarkan perjalanan ketika jatuh bangun, sementara Sumringah adalah penutup yang berakhir gembira. “Ini seperti perjalanan kehidupan. Dimulai dari semangat, terjatuh, hingga bangkit kembali. Ya terinspirasi dari permainan yang saya alami juga saat masih kecil,” terangnya saat berbincang dengan Espos.

Guruh membangkitkan kenangan masa lalunya lewat instrumen musik Banyumasan yang terdiri dari seperangkat gambang calung. Dikolaborasikan dengan gamelan Jawa, rebab, siter, dan saksofon. Disusul beberapa tembang Banyumasan untuk menyempurnakan sajian musiknya. Sumringah yang ditandai dengan pergantian tembang benar-benar membawa penonton pada puncak bahagia. Semua instrumen dimainkan bersamaan. Pengunjung yang hampir memenuhi ruang konser seperti diajak berpesta. Apalagi tembang-tembang pembangkit semangat terus digeber para sinden. Ada empat kata yang dibawakan berulang-ulang: Sumringah, Gumregah, Sengkut, Agawe Bungah. “Awalnya hanya tiga yang akan saya bawakan. Tapi kami berupaya mementaskan empat repertoar dengan ending bahagia,” kata dia.

Repertoar ini sebelumnya pernah dibawakan Guruh di Galeri Indonesia Kaya Jakarta. Karya itu kemudian dibawa ke pameran seni rupa ArtJog, Minggu (11/8/2019).  Tak sekadar konser musik, Guruh memiliki misi mulia menghidupkan kembali permainan tradisional sunda manda yang mulai dilupakan. Riset dilakukan sejak satu tahun lalu. Namun karena kendala teknis, ia baru aktif menyelesaikan project ini sekitar satu setengah bulan terakhir.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten