Ilustrasi sunat perempuan (Freepik)

Solopos.com, SOLO -- Tradisi sunat perempuan masih terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Ada beragam mitos yang melingkupi tradisi turun-temurun ini termasuk soal urusan gairah seksual.

Praktik sunat perempuan telah ditemukan di beberapa wilayah dan suku-suku bangsa Indonesia sejak abad ke-18 oleh sejumlah peneliti dari Belanda. Misalnya ada di Aceh, Jawa, Gorontalo, Suku Sunda, Suku Bugis, Suku Minangkabau.

Bahkan sunat bagi wanita atau kerap disebut pemotongan/pelukaan genitalia perempuan (P2GP) di Indonesia disebut-sebut sudah ada sejak 6.000 tahun yang lalu dan bertahan hingga saat ini.

Dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang dilakukan Kemenkes tercatat 51% anak perempuan berusia 0-11 tahun mengalami surat perempuan. Mayoritas sunat perempuan dilakukan saat masih bayi yaitu usia 1-5 bulan yaitu 72,4%. Kemudian ada yang saat berusia 1-4 tahun sebanyak 13,9%.

Ada berbagai mitos yang berkembang di masyarakat sehingga praktik sunat perempuan tetap berjalan selama ini. Selain soal tradisi yang turun-temurun dan perintah agama, di beberapa negara, sunat perempuan dilakukan untuk mempersiapkan perempuan untuk menjadi dewasa atau sebelum menikah karena menandakan bahwa sang perempuan masih perawan.

Mengintip Pembuatan Boneka Seks Di Pabriknya

Selain itu, berkembang mitos bahwa sunat perempuan dapat mengurangi nafsu seksual perempuan dan membantu untuk mengendalikan nafsu seksualnya sehingga mereka tetap dapat menjaga kehormatan dirinya sampai menikah.

Ada juga mitos yang menyebutkan P2GP dilakukan untuk meningkatkan kepuasan laki-laki ketika berhubungan seksual. Praktik membuang klitoris dianggap sebagai membuang bagian "maskulin" dari tubuh dan untuk mempercantik bentuk genitalia perempuan.

”Praktik ini sangat mereleksikan ketidaksetaraan gender, diskriminasi terhadap perempuan, dan merepresentasikan kondisi sosial budaya yang patriarkis di masyarakat,” sebut Komnas Perempuan dalam hasil penelitian tentang P2GP, Persimpangan Antara Tradisi dan Modernitas, yang dikutip beberapa waktu lalu.

Komnas Perempuan dalam penelitiannya menggali data di berbagai daerah yang kasus sunat perempuan tergolong tinggi. Gorontalo misalnya yang menurut data Riskesdas 2013 ada 83,7% anak perempuan usia 0-11 tahun yang mengalami P2GP. Kemudian juga Bangka Belitung, Banten, sampai Kalimantan Selatan.

Mandi Lemon

Di Gorontalo praktik sunat perempuan tidak bisa dilepaskan dari adat istiadat Gorontalo dan laku keagamaan. Praktik ini dikenal dengan sebutan Mo Polihu Lo Limu atau Molubingo. Mo Polihu Lo Limu atau Mandi Lemon diartikan sebagai mandi air ramuan jeruk purut/lemon dan ramuan lainnya.

Sedangkan Molubingo dimaknai sebagai mencubit. Mandi Lemon/Cubit diyakini sebagai ritual mengeluarkan barang haram yang berwarna putih dari kelamin anak perempuan. Kelengkapan adat atau hulande harus selalu tersedia dalam setiap acara mandi lemon.

Yuni Shara Blak-Blakan Soal Kehidupan Seksual

Ritual ini dianggap sakral dan wajib dilalui anak perempuan di Gorontalo yang beragama Islam karena prosesi P2GP menjadi semacam bukti keislaman. Sebagai sebuah ritual adat, praktik ini hanya boleh dilakukan oleh hulango (dukun/paraji) setempat, tidak oleh tenaga kesehatan.

Ritual saat sunat perempuan juga menjadi ajang meramalkan perilaku dan hal-hal tertentu dari si anak perempuan. Misalnya, jika ada darah saat sunat maka anak perempuan itu akan menjadi binal ketika dewasa nanti. Jika bagian klitoris mengeluarkan "cahaya", anak perempuan itu akan memberi berkah dan peruntungan dalam berdagang.

”Bagian klitoris yang diambil atau dicubit dalam proses P2GP dianggap najis, tetapi bila dimasukkan dalam lemon dapat menjadi jimat peruntungan.”

Di Belitung Timur, Bangka Belitung, praktik ini menjadi kebutuhan. Praktik ini dilakukan bisa dilakukan pada bayi berusia 1-2 hari, seminggu, 40 hari atau 44 hari. Di wilayah tertentu seperti Bakolimau, sunat adalah kewajiban, bahkan perempuan dewasa yang hendak menikah tetapi belum disunat, harus melakukannya.

Cerita lain datang dari Samarinda yang praktik sunat perempuan juga cukup tinggi. Di wilayah ini, ada semacam mitos bahwa anak perempuan yang tidak menjalani ritual ini akan mengalami kesulitan saat ia dewasa dan saat akan melahirkan.

Dalam berbagai penelitian menyebutkan praktik semacam itu berpotensi menyebabkan adanya berbagai komplikasi secara langsung maupun tidak langsung atau jangka panjang. Komplikasi langsung yang dialami adalah pendarahan, rasa sakit yang parah, infeksi lokal, sampai kesulitan buang air kecil.

Komplikasi jangka panjang yang mungkin terjadi antara lain kista, ketidaksuburan, komplikasi ketika melahirkan, sulit berhubungan seksual, gangguan psikologis, keloid dan pembengkakan, serta bisamenyebabkan rasa sakit dan kesulitan buang air kecil.

Punya Anak, Kontrasepsi Ini Jadi Favorit Suami-Istri

Sunat perempuan juga disebut memiliki dampak seksual seperti rasa sakit saat berhubungan intim, masalah psikoseksual, dysmenorrhea (sakit luar biasa yang dirasakan ketika menstruasi), kurangnya hasrat seksual, kurangnya frekuensi dan gairah seksual, kurang menyenangi seks, dan kesulitan mencapai orgasme.

Komnas Perempuan dalam kesimpulan penelitian itu menyatakan praktik sunat itu menyebabkan perempuan terlanggar hak reproduksi dan seksualnya. Sebab, praktik ini berdampak, selain pada kesehatan seksual dan trauma berkepanjangan, serta ketubuhan perempuan yang memiliki organ kelamin yang sensitif.

”Praktik P2GP terus turun dari generasi ke generasi karena kuatnya tradisi masyarakat, agama dan keyakinan atau kepercayaan lainnya untuk memuliakan perempuan dan sebagai syarat sebagai perempuan Islam, menghilangkan kotoran atau najis serta mengontrol perilaku perempuan secara moral dan seksualitas.”


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten