Tutup Iklan
Pekerja seks komersil (PSK) Sunan Kuning mengikuti pengarahan dari LSM Lentera Asa di Balai RW 006, Kelurahan Kalibanteng, Semarang Barat, Semarang, Selasa (19/7/2016). (Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com)

Solopos.com, SEMARANG — Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang berencana menutup kawasan prostitusi Sunan Kuning atau Resosialisasi Argorejo mulai Jumat-Senin (18-21/10/2019). Kendati bisnis esek-esek dilarang, Pemkot Semarang akan mengizinkan tempat hiburan malam atau karaoke di kawasan itu beroperasi.

Hal itu disampaikan Kepala Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja (PP) Kota Semarang, Fajar Purwoto, saat dijumpai Semarangpos.com di kantornya, Selasa (15/10/2019) pagi.

“Iya, nanti setelah WPS [wanita pekerja seks] kita pulangkan, tempat karaoke untuk sementara waktu kita buka. Kenapa tidak kita tutup? Itu rumah hak mereka [warga kawasan lokalisasi Sunan Kuning] yang sudah ber-IMB [Izin Mendirikan Bangunan],” ujar Fajar.

Fajar menambahkan proses beroperasinya kembali tempat hiburan karaoke di kawasan yang terkenal dengan bisnis prostitusi terbesar di Jawa Tengah (Jateng) itu akan dimulai Selasa (22/10/2019) atau sehari setelah proses penutupan dan pemulangan WPS.

Kendati diizinkan beroperasi, Fajar mengaku ada beberapa ketentuan yang harus dipatuhi para pemilik tempat karaoke. Salah satu ketentuan itu, yakni dilarang menjalankan bisnis esek-esek atau prostitusi di kawasan tersebut.

Terlebih lagi selama ini, tempat karaoke seringkali menjadi kedok dari bisnis prostitusi karena menyediakan pemandu (PK) atau lady companion (LC) yang bisa diajak berkencan.

“Nanti tanggal 16 Oktober atau Rabu besok. Kita akan kumpulkan semua pemilik karaoke. Kita akan beri rambu-rambu yang harus dipatuhi. Total ada sekitar 109 tempat karaoke yang akan beroperasi di sana,” imbuh mantan Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang itu.

Kendati tempat karaoke diizinkan beroperasi, Fajar menyatakan akan memastikan jika bisnis prostitusi tidak akan lagi berjalan di kawasan yang terletak di RW 004, Kalibanteng Kulon, Semarang Barat itu. Terlebih selama masa penutupan hingga pertengahan Desember nanti, pihaknya akan mendirikan posko di kawasan tersebut.

“Posko itu kami dirikan untuk memonitor kawasan itu pasca-penutupan. Jadi kami akan terus gencarkan operasi yustisi, karena kami sadar menutup lokalisasi itu tidak seperti menebang pohon, harus melalui proses,” imbuhnya.

Fajar menambahkan saat ini sekitar 488 WPS yang berada di Sunan Kuning sudah siap dipulangkan. Namun sebelum pulang, para WPS itu akan mendapat dana tali asih dari Pemkot Semarang Rp5 juta per orang.

“Proses pemulangan akan kami lakukan mulai tanggal 18-21 Oktober. Nanti mereka akan kami pulangkan dengan bus. Kalau tidak mau pakai bus, nanti akan kami lakukan pengawalan,” tegasnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten