Kawasan Sunan Kuning bakal ditutup Agustus nanti. (dok. Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Semarangpos.com, SEMARANG — Para penghuni Resosialisasi Argorejo atau yang populer disebut Sunan Kuning menolak rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang yang akan menjadikan kawasan prostitusi itu sebagai kampung tematik wisata dan kuliner. Penolakan tak hanya muncul dari wanita pekerja seksual (WPS), tapi juga pemilik wisma atau tempat karaoke.

Salah seorang pemilik tempat karaoke, Rokhmad, tak menolak jika praktik prostitusi di Sunan Kuning dihilangkan jika nanti jadi ditutup pada 15 Agustus. Meski demikian, ia berharap tempat karaoke di kawasan itu tetap diizinkan beroperasi.

“Oke, prostitusi dihilangkan, tapi karaoke tetap jalan. Masih banyak warga di sini yang menggantungkan hidup dari tempat karaoke. Kalau ditutup, banyak warga yang kehilangan penghasilan,” ujar pemilik tempat karaoke Maharani itu kepada Semarangpos.com, Kamis (20/6/2019).

Rokhmad mengaku pesimistis kesejahteraan warga akan terjamin jika Sunan Kuning berubah menjadi kampung kuliner. Apalagi, dengan lokasi Sunan Kuning yang berada di tengah perkampungan.

“Kalau letaknya di pinggir jalan besar, mungkin cocok jadi kampung kuliner. Ini kan masuk gang, siapa yang mau ke sini? Kampung tematik di Semarang kan banyak juga yang mati,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Rokhmad pun meminta Pemkot Semarang tetap mengizinkan tempat karaoke di Sunan Kuning beroperasi. Bahkan, ia meminta Pemkot memberikan status ilegal terhadap tempat karaoke yang ada di Sunan Kuning melalui surat keputusan (SK) wali kota atau peraturan daerah.

“Selama ini kan memang belum ada izin. Makanya, kalau mau prostitusi dihilangkan, sebaiknya karaokenya dilegalkan. Jika masih ada praktik prostitusi kan tergantung masing-masing individu. Kalau saya dari dulu hanya menyediakan tempat karaoke, bukan prostitusi,” ujarnya.

Terpisah, Ketua Resosialisasi Argorejo, Suwandi Eko Putranto, menyebut ada 177 tempat karaoke yang saat ini beroperasi di Sunan Kuning. Menurutnya, keberadaan 177 tempat karaoke itu mampu memberikan keuntungan bagi sekitar 10.000 orang.

”Kalau mau jujur ya, ada sekitar 10.000 orang yang mencari nafkah di sini. Mereka kan enggak cuma yang main prostitusi, tapi ada pedagang makanan keliling, tukang kredit, penjual minuman, dan lain-lain. Itu di luar yang 479 orang. [warga binaan Resosialisasi Argorejo],” ujar Suwandi.

Menurutnya sejak Sunan Kuning ia kelola pada awal 1990 silam, kegiatan yang ada selama ini juga berjalan kondusif. Ia mengklaim bahwa perputaran uang yang dihasilkan di setiap rumah karaoke bisa mencapai Rp5 juta per malam.

Namun jika dihitung secara keseluruhan, perputaran uang yang dihasilkan di Sunan Kuning selama satu bulan bisa menembus angka Rp1 miliar. Ia bahkan menilai jumlah pendapatan itu bisa naik berlipat ganda saat momentum tertentu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten