Warga Dusun Bakalan, Desa Kenokorejo, Polokarto, Sukoharjo, Hariyanto, melihat sumur yang mulai mengering di pekarangan rumahnya, Selasa (25/6/2019). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Volume air di sumur milik warga Dusun Bakalan, Desa Kenokorejo, Kecamatan Polokarto, https://soloraya.solopos.com/read/20190520/490/993250/warga-sukoharjo-di-4-kecamatan-ini-sulit-dapat-air-bersih-saat-kemarau" title="Warga Sukoharjo di 4 Kecamatan Ini Sulit Dapat Air Bersih saat Kemarau">Sukoharjo, menyusut drastis pada musim kemarau ini. Warga harus menghemat pemakaian air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Ketua RT 003/RW 004, Dusun Bakalan, Desa Kenokorejo, Kecamatan Polokarto, Sugito, mengatakan air di sumur menyusut drastis sejak awal Ramadan. Kala itu, air sumur masih bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari seperti mencuci, mandi dan memasak.

Kini, volumeen air menyusut drastis sehingga tak bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan setiap hari. “Ada tiga-empat sumur warga yang volume airnya menyusut drastis saat musim kemarau. Rata-rata kedalaman sumur sembilan meter-12 meter,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa (25/6/2019).

Kendati menyusut drastis, air sumur tetap bisa digunakan warga untuk mencuci atau mandi. Namun, mereka harus menunggu berjam-jam hingga volumen air sumur mulai naik. Tak sedikit warga yang harus meminta air bersih dari tetangga rumah untuk memasak dan mencuci.

Menyusutnya sumur warga kerap terjadi saat musim https://soloraya.solopos.com/read/20181104/489/950543/sumur-di-41-kelurahan-solo-rawan-kering" title="Sumur di 41 Kelurahan Solo Rawan Kering">kemarau. Pada 2018, debit air sumur warga juga menyusut drastis saat musim kemarau.

“Setiap musim kemarau memang seperti ini [debit air sumur menyusut]. Namun, biasanya terjadi saat puncak musim kemarau pada Agustus-Oktober,” ujar dia.

Beberapa warga membuat sumur bor baru dengan kedalaman lebih dari 25 meter untuk mencari sumber air. Mereka tak ingin kesulitan mencari air bersih saat musim kemarau. Sugito memperkirakan menyusutnya sumur warga terjadi hingga akhir musim kemarau.

Menurut Sugito, kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi sehingga tak perlu meminta bantuan air bersih dari Pemkab https://soloraya.solopos.com/read/20180812/490/933733/kekeringan-sukoharjo-masjid-diprioritaskan-dapat-bantuan-air" title="Kekeringan Sukoharjo: Masjid Diprioritaskan Dapat Bantuan Air">Sukoharjo. “Belum ada permohonan droping air bersih. [Air sumur] masih bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” papar dia.

Sementara itu, seorang warga setempat, Hariyanto, mengatakan telah berulang kali menambah kedalaman sumur agar debit air bersih tetap normal saat musim kemarau. Upaya itu tak membuahkan hasil lantaran debit air sumur tetap menyusut drastis saat musim kemarau.

Hariyanto dan keluarganya rela menunggu berjam-jam untuk mendapatkan beberapa ember air bersih. “Hanya untuk mandi dan mencuci. Untuk memasak atau minum, saya mengambil air di sumur milik tetangga rumah,” kata dia.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten