Warga Gilingan, Banjarsari, Solo, menimba air keruh di sumur. (Solopos/Sunaryo Haryo Bayu)

Solopos.com, SOLO - Warga RT 001/RW 011, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo, terdampak kekeringan. Sumur-sumur yang bisa meraka manfaatkan mendadak kering. Masih ada satu sumur yang mengeluarkan air namun airnya keruh.

Kendati demikian, warga tetap mengantre di sumur tersebut, Selasa (3/12/2019). Air dalam bak tersebut baru ditimba dari sumur sekitar pukul 10.00 WIB. Warga yang menimba sengaja menutup bak supaya air tidak kemasukan benda kotor dan pasir.

Salah satu warga, Pujiati, menjadi salah satu yang terdampak kekeringan. Dia bersama puluhan warga sekitar memilih untuk menyuling air keruh di sumur tersebut untuk digunakan keperluang sehari-hari. Air di tuang beberapa kali ke bak untuk memisahkan air dengan tanah.

Pujiati mengaku sudah kesulitan air bersih sejak tiga bulan terakhir. Warga setempat yang mayoritas menggunakan sumur dengan kedalaman 25 meter justru kering. “Harus hemat air karena dapat air susah. Mengisi tiga bak air harus nunggu air sumur. Enggak bisa langsung terisi penuh,” ujarnya kepada Solopos.com.

Satu-satunya sumur umum yang berada di tengah kampung tersebut hampir kering dan kecoklatan. Warga lainnya, Galih, 48, memilih menimba air sumur antara pukul 24.00 WIB sampai pukul 03.00 WIB selama dua bulan terakhir. Ia memilih menimba air sumur pada malam hari karena kandungan air lebih banyak pada malam hari.

“Air sumur untuk kebutuhan makan dan mencuci. Kalau beli air mahal. Satu galon harganya Rp3.000. Beli air ketika badan capai saja,” ungkapnya.

Galih menjelaskan, baru tahun ini warga RT 001/RW 011 mengalami kekeringan. Ia menduga air sumur warga kering dampak dari pembangunan sumur dalam salah satu rumah sakit. “Kami enggak tahu penyebab sumur kering karena untuk mengetahui penyebabnya harus ada kajian. Penelitian bisa dilakukan dari tim ahli UNS. Selama ini belum ada kajian,” katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten