Tutup Iklan
Sugiman, 43, menimba air di Sumur Emas, Dusun Grenjeng, Desa Dayu, Gondangrejo, Karanganyar, Senin (19/8/2019). (Solopos/Wahyu Prakoso)

Solopos.com, KARANGANYAR -- Belik air di dekat sungai Dusun Grenjeng, Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, itu hanya berdiameter kira-kira 50 sentimeter.

Meski kecil, belik itu tak pernah berhenti mengeluarkan-sukoharjo-di-4-kecamatan-ini-sulit-dapat-air-bersih-saat-kemarau" title="Warga Sukoharjo di 4 Kecamatan Ini Sulit Dapat Air Bersih saat ..."> air bersih sepanjang tahun, termasuk saat musim kemarau panjang seperti saat ini. Dari belik itulah warga menggantung kebutuhan air bersih untuk hidup sehari-hari.

Belik itu benar-benar menjadi penolong bagi warga dan menghindarkan warga dari -memprediksi-tak-ada-kekeringan-di-solo-hanya-beberapa-krisis-air" title="BPBD Memprediksi Tak Ada Kekeringan di Solo, Hanya Beberapa Krisis Air">krisis air bersih saat kemarau. Saking berharganya warga menyebut belik itu dengan sebutan Sumur Emas.

Pantauan Solopos.com, Senin (19/8/2019 pukul 14.20 WIB, belasan warga melintasi jalan Dusun Grenjeng kira-kira sejauh satu kilometer dari Kantor Desa Dayu menuju Sumur Emas. Mayoritas warga memodifikasi sepeda motor untuk mengangkut jeriken air ukuran 20 liter.

Sampai di tepi sungai, warga memarkir sepeda motor menghadap selatan dengan memasang ganjal batu besar pada ban sepeda motor. Mereka berjalan menuju belik air di sungai tersebut.

Warga bergantian mengisi jeriken air karena hanya tersedia dua gayung. Salah satu warga Dusun Jambu, Agus, 25, mengambil air pada bilik setelah pulang bekerja di pabrik siang itu.

Ia mengambil lima jeriken air untuk diantar kepada pelanggan yang memesan melalui pesan Whatsapp. “Saya jual Rp5.000 per jeriken,” ujarnya kepada Solopos.com.

Sumur Emas dikelola salah satu warga setempat, Sugiman, 43, sejak tujuh tahun lalu. Semua warga boleh mengambil air dari belik tersebut secara cuma-cuma. Kecuali, bagi para pengambil air untuk dikomersialkan.

Mereka diwajibkan membayar Rp100.000 setiap bulan kepada Sugiman. Sebanyak 10 warga desa Krendowahono dan Desa Tuban mencari nafkah dengan menjual air bersih dari sumber air tersebut.

Sugiman menyisihkan pendapatan Rp350.000 sebagai pemasukan kas Dusun Grenjeng. Sejak akses jalan menuju Sumur Emas dibangun, banyak warga datang sendiri mengambil air ke belik tersebut.

Biasanya terjadi antrean panjang setelah Subuh dan sore pukul 16.30 WIB. Papan peringatan dipasang di timur belik supaya antrean berjalan efektif.

Sugiman menjelaskan pada pagi hari air-masuk-peta-bpbd-3-kecamatan-karanganyar-ini-krisis-air" title="Tak Masuk Peta BPBD, 3 Kecamatan Karanganyar Ini Krisis Air"> Sumur Emas terasa hangat sehingga warga yang mengambil air pada Subuh tidak merasa kedinginan. Air juga mengandung kadar oksigen yang tinggi sehingga aman untuk langsung dikonsumsi.

“Sudah ada uji laboratorium dari rumah sakit. Kadar oksigennya tinggi,” ujarnya.

Ia mengklaim tidak ada limbah rumah tangga yang mengalir pada Kali Grenjeng tersebut. Selain mengelola Sumur Emas, Sugiman juga menjual air. Ia menjual air kepada warga Rp5.000 sampai Rp10.000 per jeriken sesuai jarak tempuh rumah warga.

Sedikitnya ia mendistribusikan sebanyak 25 jeriken per hari. “Untuk wilayah Ngemplak, Boyolali, saya kemas dalam galon. Air galon bisa langsung dikonsumsi,” ungkapnya.

Dia menjelaskan ide dasar menamai belik air dengan Sumur Emas karena banyaknya warga yang memanfaatkan sumber air tersebut. “Sumber air seperti ladang emas bagi warga,” ungkapnya.

Kepala Desa Dayu, M. Agus Susilo, menjelaskan air sumur di wilayahnya mengandung kapur sehingga tidak baik untuk dikonsumsi. Warga biasa memanfaatkan sumber air dari Sumur Emas untuk keperluan air minum dan masak.

"Salah satu potensi desa kami yaitu Sumur Emas karena kualitas air baik. Bahkan bisa langsung diminum," katanya kepada Solopos.com saat ditemui di kantornya.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten