Sultan Minta Maaf, Warga Sebut Kasus Pemotongan Salib di Kotegede Selesai

Solopos.com, JOGJA -- Warga Purbayan, Kotagede, Jogja, menganggap kasus pemotongan salib nisan di TPU Jambon sudah selesai. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X juga telah meminta maaf atas peristiwa yang mendapat reaksi publik secara luas itu.

Ketua RW 13 Purbayan, Kotagede, Slamet Riyadi, mengklaim kasus tersebut sudah selesai. Kesimpulan itu karena sudah ada pertemuan dengan Gubernur DIY sekaligus Raja Kraton Jogja Sri Sultan HB X dan Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti di Balai Kota pada Kamis (20/12/2018) hari ini.

Dalam jumpa pers tersebut, Sri Sultan HB X meminta maaf atas peristiwa pemotongan salib yang terjadi di Kotagede. Menurut Sultan, kebebasan beragama termasuk menggunakan simbol keagamaan telah dijamin oleh konstitusi.

Sultan HB X meminta pembina wilayah (stakeholder terkait) turut menegakkan konstitusi dan tak membiarkan aksi semacam itu terjadi di lingkungannya. Meski di sisi lain ada kesepakatan antarwarga terkait pemotongan salib nisan almarhum, ada jaminan konstitusi yang ditinggalkan.

Adapun Slamet Riyadi menekankan selama proses pemakaman warga Katholik Almarhum Albertus Slamet Sugihardi, 60, warga Purbayan turut membantu persiapan pemakaman. "Sudah selesai ya kasusnya, juga sudah lewat beberapa hari," ujar Slamet, Kamis.

Sementara itu, tokoh masyarakat Purbayan, Bejo Mulyono, mengatakan sudah ada kesepakatan antarwarga perihal pemakaman Albertus tanpa ada tanda salib. "Kesepakatan antar warga dan pihak keluarga memang tidak ada tanda salib," kata dia kepada wartawan.

Lebih lanjut dia menjelaskan setelah dimakamkan ternyata ada tanda salibnya. Ada segelintir warga yang tidak setuju karena dari 700 warga Purbayan yang tinggal, hanya tiga orang yang beragama Kristen. Menurut dia warga akan menjadikan makam tersebut untuk makam orang muslim.

Diberitakan Solopos.com sebelumnya, warga memotong salib nisan milik mendiang Albertus Slamet Sugihardi di TPU Jambon, Purbayan, Kotagede. Warga sekitar enggan memberi komentar pascakejadian ini viral di media massa. Di media sosial, publik mengecam pemotongan tersebut dan menilainya sebagai praktik yang intoleran.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom