Suku Jawa & Melayu Cerai Gegara Penjajah Eropa?

Akibat perjanjian ini, konteks dunia Melayu yang memasukan suku Jawa tergeserkan dan akhirnya Suku Jawa bukan lagi masuk dalam dunia Melayu meskipun secara garis nenek moyang, kedua suku ini berasal dari ras yang sama.

 Ilustrasi lomba karawitan antarsiswa. (JIBI/Solopos/Antara/Destyan Sujarwoko)

SOLOPOS.COM - Ilustrasi lomba karawitan antarsiswa. (JIBI/Solopos/Antara/Destyan Sujarwoko)

Solopos.com, SOLO — Suku Jawa dan Suku Melayu berasal dari rumpun yang sama. Suku ini berasal dari satu ras yang sama, yaitu Ras Austronesia yang konon berasal dari Dataran Yunan, Tiongkok dan sekarang mendiami Pulau Famosa (Taiwan) dan menjadi penduduk asli di sana.

Ras Astonesia ini melahirkan etnis/suku yang tersebar di Asia Tenggara pada umumnya. Secara fisik, Suku Melayu dan Suku Jawa memiliki kemiripan, dari warna kulit yang sawo matang atau kecoklatan hingga rambut yang ikal. Mereka juga memiliki bahasa yang berakar/berumpun sama, yaitu Melayu Polinesia.

Dikutip dari Antaranews.com, Senin (6/12/2021), seorang antropolog asal Belanda bernama Sarasin menyebutkan bahwa pada satu juta tahun yang lalu, Semenanjung Melayu adalah bagian dari Pulau Jawa. Oleh sebab itu banyak orang-orang Jawa yang hingga kini masih tinggal di Semenanjung Melayu (sekarang Malaysia) dan mempertahankan kebudayaan mereka.

Baca Juga: Erupsi Semeru, Ibu-Anak Ditemukan Meninggal Berpelukan di Reruntuhan

Orang Jawi 

Sebenarnya tidak ada istilah Suku Jawa dan Melayu pada saat itu hingga kedatangan bangsa Arab ke Nusantara yang menyebut penduduk Nusantara dengan sebutan Orang Jawi. Sebutan orang Jawi ini adalah mereka yang beragama Islam dan berbahasa Melayu. Baik Suku Jawa ataupun Melayu saat itu disebut sebagai penduduk Nusantara.

Salah satu tokoh Melayu bernama Syed Abdullah bin Abdul Hamid Al Edrus dalam editorial Majalah Qalam di Malaysia (1964), penggunaan istilah dunia Melayu mengacu pada komunitas Muslim di semenanjung Melayu. Dalam editorialnya itu, dia memasukan Muslim Jawa sebagai bagian dari bangsa Melayu.

Dalam editorialnya itu, dia mengungkapkan bahwa seorang Melayu adalah orang yang mengaku Muslim dan biasanya berbicara dengan bahasa Melayu, sesuai dengan kebiasaan Melayu. Orang Jawa saat itu dimasukan dalam kategori suku Melayu karena sama-sama memeluk agama Islam serta sama-sama berbahasa Melayu sehingga orang Jawa saat itu disebut sebagai “migran serumpun.” Bahkan melalui pernyataannya, cakupan Dunia Melayu ini meliputi Semenanjung Melayu, Sumatra  dan Jawa.

Baca Juga: Periksa Teman Novia Widyasari, Ini Kata Polisi Soal Dugaan Pemerkosaan

Namun semuanya berubah saat pasukan kolonial Inggris dan Belanda datang menguasai Nusantara. Terjadi perceraian antara komunitas Jawa dan Melayu saat koloni Inggris menguasai Semenanjung. Melalui perjanjian London 1824 yang dikenal sebagai Treaty of Commerce and Exchange Between Great Britain and Netherland memberi legislasi untuk membelah batas wilayah semenanjung Melayu dengan kekuasaan Belanda di Indonesia yang dulu bernama Hindia Belanda.

Berdasarkan pasal  9 dan 10 pada perjanjian tersebut, pihak Inggris setuju menyerahkan semua pusat perdagangannya di Sumatera, dan tidak akan membuat perjanjian dengan pemimpin lokal setempat. Sebaliknya, Belanda menyerahkan Malaka dan kawasan semenjanjung kepada Inggris dengan pemimpin lokal.

Akibat perjanjian ini, konteks dunia Melayu yang memasukan suku Jawa tergeserkan dan akhirnya Suku Jawa bukan lagi masuk dalam dunia Melayu meskipun secara garis nenek moyang, kedua suku ini berasal dari ras yang sama. Hingga saat ini, suku Melayu dan suku Jawa menganggap diri mereka berbeda satu dengan yang lain. Garis keturunan dan nenek moyang sudah dilupakan akibat perjanjian tersebut.

Baca Juga:  Musim Tanam Padi di Madiun, Pembelian Pupuk Bersubsidi Malah Dibatasi

Perkembangannya hingga saat ini, Suku Melayu di Malaysia masih memegang teguh adat istiadat yaitu sebagai kelompok suku beragama Islam dan berbahasa Melayu. Konsep ini menjadi sistem yang berlaku di Malaysia di mana etnis Melayu tidak diizinkan beragama lain selain Islam kecuali jika dia pergi dari Malaysia dan melepas kewarganegaraannya.

Sedangkan suku Jawa di Indonesia mendapatkan kebebasan untuk memeluk agama apapun yang diyakini. Jaminan kebebasan beragama ini sudah tertuang dalam UUD 45 Pasal 29 Ayat (2). Sedangkan suku Jawa di Malaysia secara hukum masuk dalam kategori etnis Melayu. Hal ini dikarenakan tidak ada kolom etnis Jawa dalam sensus penduduk di Malaysia sehingga suku Jawa di Malaysia harus beragama Islam seperti etnis Melayu pada umumnya.

Berita Terkait

Berita Terkini

Potensi Desa Jadi Sasaran Survei Mahasiswa Pariwisata Indonesia

Mahasiswa pariwisata Indonesia mengadakan survei potensi desa pada wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Diputuskan! Ini Nama Ibu Kota Negara yang Baru di Kalimantan Timur

Presiden Joko Widodo menyetujui nama ibu kota negara (IKN) baru di Kalimantan Timur, yakni Nusantara.

Pelaku Perjalanan dari Turki Penyumbang Terbanyak Kasus Omicron di RI

Pemerintah terus memantau perkembangan pengendalian pandemi Covid-19 termasuk pelaku perjalanan luar negeri (PPLN).

+ PLUS Kepala Daerah Ditangkap KPK Bukti Politik Dinasti Jalan Korupsi Politik

Korupsi politik adalah bentuk transaksi yang dilakukan antaraktor sektor privat dan publik melalui barang publik yang secara ilegal dikonversi ke dalam pertukaran yang bersifat privat.

Dituntut Mati Terkait Kasus Asabri, Nasib Heru Hidayat Ditentukan Besok

Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), Heru Hidayat, dituntut hukuman mati terkait kasus korupsi dana investasi PT Asabri.

+ PLUS Pidana Mati Predator Seksual Bukan Solusi untuk Pemulihan Korban

Predator seksual di Bandung, Jawa Barat, Herry Wirawan, yang memerkosa 13 santriwati, dituntut pidana mati dan denda serta pidana tambahan berupa kebiri kimiawi.

Gempa Bumi Magnitudo 5,4 Guncang Lebak Banten

Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 5,4 mengguncang Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten pada Senin (17/1/2022) pukul 07.25 WIB.

10 Berita Terpopuler: 10 Hari, Menunggu Keputusan Ustaz Yusuf Mansur

Ulasan tentang ustaz Yusuf Mansur menggelar yasinan selama 40 hari untuk menghadapi orang-orang yang dirasa menyerang dirinya menjadi berita terpopuler di Solopos.com, Senin (17/1/2022).

Solopos Hari Ini: Dilema PTM 100%

Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) 100% diliputi dilema ancaman penularan Covid-19 khususnya varian Omicron yang kian meluas.

Kucurkan Rp5,6 M ke Yusuf Mansur, Nur Syamsu Yakin Uang Kembali

Nama besar Ustaz Yusuf Mansur yang membuat dirinya tidak punya prasangka macam-macam saat ditawari investasi pada tahun 2009 silam. 

MAKI: Harusnya Kejakgung Tak Ada Kendala Tangani Korupsi di Kemenhan

Apabila kasus melibatkan oknum TNI, Kejaksaan Agung tidak memiliki kendala karena memiliki Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Militer.

Penggugat: Yusuf Mansur Berjanji Ganti Semua Investasi Batu Bara

Menurut Zaini, dai kondang itu pernah berjanji di hadapan para investor bahwa dirinya akan mengganti seluruh uang investasi jemaahnya. 

Dinyinyiri, Ustaz Yusuf Mansur Banyak Dibela Warganet

Dai kondang itu menggerakkan seluruh santri yang berada di jaringan pondok pesantrennya untuk menggelar yasinan selama 40 hari.

Pertambahan Kubah Lava Gunung Merapi Seiring Kekaguman pada Metaverse

Jika dikonversikan ke muatan truk pasir yang biasa melintas di jalanan pertambahan kubah lava Gunung Merapi itu setara dengan 400 bak truk per hari.

Ini Para Penjaga Ustaz Yusuf Mansur

Bertabur doa mengiringi postingan Yusuf Mansur pada Jumat (14/1/2022) itu.

Aktivis Yakin Terdakwa Kasus Asabri Takkan Dihukum Mati

Dalam laporan tersebut ICJR menyebut hukuman mati sama sekali tidak mempunyai dampak positif terhadap pemberantasan korupsi di suatu negara.