Sukoharjo Habiskan Rp70 Miliar untuk Santunan Kematian
Sejumlah ahli waris mengantre saat pencairan dana santunan kematian di Pendapa Graha Satya Praja (GSP), Gedung Setda Sukoharjo, Minggu (16/12/2018). (Solopos/Bony Wicaksonos)

Solopos.com, SUKOHARJO - Selama kurun waktu tujuh tahun, Pemkab Sukoharjo menghabiskan dana hampir Rp70 miliar untuk menyalurkan bantuan sosial uang duka atau santunan kematian. Santunan kematian itu diberikan kepada setiap ahli waris warga miskin senilai Rp3 juta.

Hal itu diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sukoharjo, Sarmadi, di sela-sela penyaluran dana santunan kematian di Pendapa Graha Satya Praja (GSP), Gedung Setda Sukoharjo, Minggu (16/12). Hingga pertengahan Desember 2018, dana santunan kematian disalurkan kepada 1.477 ahli waris senilai Rp4,4 miliar. “Setiap ahli waris menerima bantuan santunan kematian senilai Rp3 juta. Mekanisme penyaluran tak ada yang berubah,” kata dia, Minggu.

Pria yang akrab disapa Medi ini menjelaskan petugas telah memverifikasi ahli waris yang Setiap ahli waris menerima bantuan santunan kematian senilai Rp3 juta. Hal itu untuk menentukan apakah berhak menerima dana santunan kematian atau tidak.

Proses verifikasi terhadap ahli waris yang anggota keluarganya meninggal dunia dilakukan secara ketat. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban uang negara yang dikucurkan kepada para ahli waris. “Proses verifikasi dicatat by name by adress. Jika tak sesuai verifikasi otomatis tak berhak menerima dana santunan kematian,” ujar dia.

Hasil pendataan warga miskin menjadi acuan utama pencairan dan santunan kematian. Pendataan warga miskin dilakukan tim penanggulangan kemiskinan daerah yang terdiri dari sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Lebih jauh, Medi meminta agar para ahli waris menggunakan dana santunan kematian untuk menjaga kelangsungan hidup. “Sebagian dana santunan kematian bisa digunakan untuk membeli hewan ternak atau unggas. Sehingga masyarakat mendapat penghasilan setiap bulan dari beternak kambing atau ayam,” terang Medi.

Sementara itu, Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya, mengatakan santuan kematian merupakan program prorakyat yang menyasar warga miskin di Kabupaten Jamu. Santunan kematian diklaim sangat membantu warga miskin yang anggota keluarganya meninggal dunia.

Orang nomor satu di Sukoharjo ini berharap dana santunan kematian dimanfaatkan warga miskin untuk menopang kehidupannya. “Tak ada potongan dana santunan kematian sepeser pun. Gunakan dana santunan kematian untuk membeli hewan ternak atau membuka usaha kecil-kecilan,” papar dia.

Sementara itu, seorang ahli waris penerima dana santunan kematian asal Kecamatan Bulu, Suradi, mengatakan bantuan sosial itu bakal digunakan untuk membiayai pengajian 1.000 hari dan memasang nisan di makam almarhum kakeknya. Sebagian dana santunan kematian bakal disisihkan untuk membayar hutang biaya pemakaman kakeknya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom