Sejumlah sukarelawan bencana alam menggotong perahu karet saat pelatihan water rescue di Waduk Mulur, Kecamatan Bendosari, Selasa (9/4/2019). (Solopos-Bony Eko W.)

Solopos.com, SUKOHARJO-Puluhan pria berbaju orange berkumpul di sekitar Waduk Mulur, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo. Mereka berbaris rapi membentuk formasi kelompok. Tak lama kemudian, mereka melakukan pemanasan dengan menggerakkan bagian tubuh mulai dari kepala, kaki dan tangan.

Pada Selasa (9/4), para sukarelawan penanggulangan bencana alam di Sukoharjo melakukan pelatihan dan simulasi water rescue, medis dan dapur umum. Mereka berasal dari 16 organisasi sukarelawan bencana alam seperti Search and Rescue (SAR), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Sukoharjo, Taruna Siaga Bencana (Taruna) Sukoharjo dan Palang Merah Indonesia (PMI) Sukoharjo.

Puluhan sukarelawan itu lantas dibagi menjadi empat kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas delapan orang-10 orang. Mereka langsung menggotong perahu karet menuju pinggir waduk. Masing-masing perahu karet didayung delapan orang menuju tengah waduk. “Jumlah sukarelawan bencana alam yang mengikuti pelatihan sebanyak 120 orang. Sebagian sukarelawan mengikuti pelatihan water rescue. Sementara sebagian sukarelawan lainnya mengikuti pelatihan medis dan dapur umum,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo, Sri Maryanto, Selasa.

Sebelum melakukan praktik simulasi, para peserta wajib mengikuti kelas teori kesiapsiagaan bencana di air. Mereka harus mengevakuasi salah satu korban yang mengapung di waduk. Tak hanya mengevakuasi korban di perairan, para peserta dilatih memberikan pertolongan pertama berupa memeriksa alur nafas dan sirkulasi darah.

Pelatihan ini untuk mengasah keterampilan  saat mengevakuasi warga yang terjebak bencana banjir di rumah. “Wilayah Sukoharjo merupakan daerah rawan bencana banjir lantaran dilewati Sungai Bengawan Solo. Saat air sungai meluap dan merendam rumah penduduk, para sukarelawan bencana alam harus siap mengevakuasi warga yang terjebak banjir,” tutur dia.

Sementara itu, Wakil Komandan SAR Sukoharjo, Muchlis, menyampaikan pelatihan water rescue tak hanya dipraktikkan saat bencana banjir melainkan kecelakaan air yang kerap terjadi di wilayah Kabupaten Jamu. Mereka wajib memiliki skill water rescue saat mencari keberadaan warga yang tenggelam terseret derasnya arus sungai.

Kegiatan serupa bakal dilaksanakan secara rutin untuk meningkatkan skill water rescue para sukarelawan bencana alam. “Kami selalu menggandeng organisasi penanggulangan bencana alam lainnya saat terjadi kecelakaan air maupun bencana banjir. Waduk Mulur cukup representatif menjadi lokasi pelatihan water rescue,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten