Suka Edit Foto Berlebihan, Hati-Hati Bisa Berujung Body Dysmorphic Disorder
Ilustrasi foto bersama (Freepik)

Solopos.com, SOLO — Mengedit foto sudah menjadi hal yang lumrah, apalagi sebelum diunggah di media sosial. Namunm bagi yang sudah mengedit foto berlebihan selayaknya Anda berhati-hati karena bisa berujung ke gangguan mental yang disebut dengan body dysmorphic disorder (BDD).

Ada banyak alasan yang disampaikan ketika seseorang mengedit foto mereka. Salah satunya Anna Nuarita Ima Priasti, 21, yang mengaku memperbagus foto yang akan diunggah.

”Alasannya biar lebih bagus dan enak dilihat sih. Aku biasanya kalau edit foto lebih ke kontras sama warnanya,” ujar perempuan yang akrab disapa Anna kepada jeda.id, beberapa waktu lalu.

Hampir Kelar, Edutorium UMS Solo Dilengkapi Tribune VVIP Hingga 4 Lift

Pengakuan serupa juga datang dari Margareta Wulan Enggal Pinesti, 22. Ia mengedit foto agar terlihat lebih estetik. ”Aku kalau edit foto, biasanya cuma edit warna sama mempertajam gambar. Terus biar fotonya juga lebih estetik,” tutur perempuan yang akrab disapa Enggal.

Berbeda dengan Anna dan Enggal. Gita Cyntia Nusanto Putri, 21, mengaku tidak pernah mengedit foto yang akan diunggah. Dia mengaku pernah mengedit foto saat masih SMA. Edit foto sebatas memberi filter agar tampak lebih baik.

Tidak hanya membuat lebih estetik dan menarik dilihat ternyata ada alasan lain orang mengedit foto mereka. Sebagaimana dikutip dari Liputan6.com, mengedit foto juga untuk meningkatkan kepercayaan diri.

Bagi sebagian orang, mengedit foto dapat meningkatkan kepercayaan diri. Salah satunya Enggal, ia merasa lebih percaya diri jika fotonya terlihat lebih bagus. ”Kalau buatku, ada pengaruh ke rasa pede [percaya diri]. Soalnya kalau fotonya bagus, bisa jadi nilai tambah,” ujar Enggal.

Jadi Kecanduan

Walau begitu, mengedit foto bisa menyebabkan kecanduan. Rasa percaya diri cenderung menurun ketika foto yang akan diunggah terlihat kurang bagus.

Romantis, Ini Cerita Sri Mulyani tentang LDR hingga Drakor

Ada juga yang mengedit foto agar jumlah like di media sosial bertambah. Kepercayaan diri semakin meningkat, jika foto yang diunggah mendapat banyak like [suka]. Salah satunya Anna, ia merasa lebih percaya diri jika mendapat banyak like dan komentar.

”Aku jadi lebih pede karena banyak yang like sama kasih komentar. Tapi buatku, mau yang like banyak atau sedikit enggak pengaruh ke aku,” tutur Anna.

Bila terlalu sering mengedit foto dan editingnya berlebihan seperti mengubah bentuk badan atau detail wajah hal itu akan mengarah ke body dysmorphic disorder.

BDD lebih banyak menimpa remaja berusia 12 atau 13 tahun. Diperkirakan body dysmorphic disorder bisa memengaruhi 1,7%-2,4% remaja.

Di Amerika Serikat, jumlah pria yang mengalami body dysmorphic disorder sekitar 2,5 persen,s edangkan perempuan ada 2,2% yang mengalami BDD.

Ternyata Menguap Memang Menular, Begini Penjelasannya

Dilansir dari Universitas Pendidikan Indonesia, BDD termasuk dalam obsessive compulsive disorder (OCD). Penderita OCD cenderung merasa cemas dan pikirannya tidak mudah dikontrol. Serupa dengan OCD, penderita BDD memiliki rasa cemas yang berlebih.

Penderita body dysmorphic disorder menganggap jika ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya. Padahal kenyataannya, tidak ada sesuatu yang salah dengan dirinya.

Anggapan inilah yang membuat penderita BDD memiliki kecemasan berlebih. Selain itu, penderita BDD juga memiliki rasa percaya diri yang minim.

Sibuk Bercermin

bercermin
Ilustrasi bercermin (Freepik)

Penderita BDD kerap memandangi dirinya selama beberapa jam di depan cermin. Tidak hanya itu, pengidap BDD juga berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki penampilannya.

Alih-alih membuat dirinya merasa lebih baik, rasa cemas berlebih ini terus bertambah. Pengidap body dysmorphic disorder berbeda dengan penderita anoreksia.

Orang yang menderita anoreksia, cenderung cemas dengan ukuran serta berat badan. Sedangkan pengidap BDD cemas dengan beberapa bagian tubuhnya.

Disebut Mirip Dengan Sungai Amazon, Seperti Inilah Potret Sungai Maron di Pacitan

Contohnya bentuk mata, rambut, warna kulit, bibir, dagu, alis, bekas luka, dan lain-lain. Orang yang menderita body dysmorphic disorder bisa diketahui sejak remaja.

Bukan masalah, jika orang kerap memperhatikan penampilannya. Namun, akan mengganggu jika kebiasaan ini terus bertambah parah tiap harinya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom