Kategori: Klaten

Suka Duka Sukarelawan Tak Kendur Urusi Pengungsi Merapi di Klaten


Solopos.com/Taufiq Sidik Prakoso

Solopos.com, KLATEN --  Peran sukarelawan dalam mengurusi pengungsi di kawasan rawan bencana (KRB) III erupsi Gunung Merapi wilayah Klaten selama beberapa bulan terakhir tak bisa dipandang sebelah mata.

Para sukarelawan menemani para pengungsi dan memastikan kebutuhan pengungsi selama berada di tempat evakuasi sementara (TES) tercukupi. Pengelolaan TES itu dilakukan para pengungsi lokal atau desa setempat.

Seperti pengelolaan TES Desa Tegalmulyo, Kemalang, Klaten, yang ditangani sukarelawan dari kalangan warga setempat berjumlah 30-40 orang.

“Selama ini kami masih mengandalkan sukarelawan setempat karena untuk sementara kami masih mampu mengondisikan penanganan pengungsi. Jadi masih sukarelawan lokal semuanya,” kata Koordinator Sekretariat TES Tegalmulyo, Purnama, saat berbincang dengan Solopos.com, pekan lalu.

Baca juga: Sejarah Hari Ini: 3 Februari 2012 HIM Damsyik si Datuk Maringgih Wafat

Para sukarelawan itu berbagi peran. Ada yang bertugas di dapur umum, logistik, evakuasi, hingga pendataan. Berbagai tantangan mereka alami selama mengurusi pengungsi apalagi model pengungsian di TES Tegalmulyo tak sepanjang hari berada di TES.

Selama ini, para pengungsi berada di TES hanya saat malam. Ketika Subuh, mereka kembali ke rumah masing-masing untuk kembali beraktivitas sehari-hari. Proses antar-jemput pengungsi dilakukan sukarelawan.

Atas kondisi itu, jumlah pengungsi di TES Tegalmulyo setiap malamnya fluktuatif. Hal itu memberi tantangan sendiri bagi para sukarelawan. Seperti sat menyediakan menu makanan bagi para pengungsi.

“Kadang saat memasak sedikit, ternyata pengungsinya banyak. Ketika memasak menu banyak, ternyata pengungsinya sedikit,” kata Purnama.

Menjemput Kelompok Rentan

Begitu pula bagi para sukarelawan yang bertugas mengevakuasi warga. Saban malam atau selepas Isya mereka mengaspal jalanan kampung menuju ke KRB III untuk menjemput warga terutama kelompok rentan menggunakan mobil.

“Kalau malam habis isya sudah naik ke atas kemudian menunggu pengungsi salat, mengondisikan keluarga, baru mereka turun. Kemudian saat pagi ketika masih tidur, sukarelawan dibangunkan pengungsi habis subuh pukul 05.00 WIB mengantar ke atas,” kata dia.

Baca juga: Jeritan Hati Perajin Tempe Madiun Tercekik Harga Kedelai Tinggi

Purnama mengakui rasa jenuh dan lelah tetap dirasakan para sukarelawan. Pasalnya, selama hampir tiga bulan lamanya mereka saban hari harus berada di TES.

Namun, rasa jenuh itu tak bisa mengalahkan rasa kemanusiaan mereka untuk membantu sesama terlebih para pengungsi merupakan tetangga mereka sendiri.

“Sudah barang tentu [juga merasakan jenuh]. Kami punya keluarga dan kesibukan sendiri. Tetapi, kami sudah komitmen terkait pelayanan masyarakat kami. Yang jelas kami bangga, setidaknya kami bisa berguna bagi warga sendiri,” kata Purnama.

Sementara itu, pengelolaan TES Balerante juga dilakukan oleh sukarelawan desa setempat. Sama halnya dengan di Desa Tegalmulyo, ada sukarelawan yang juga pengungsi. Salah satunya Karlo, 23, warga Dukuh Sambungrejo, Desa Balerante.

Hamil Sembilan Bulan

Karlo menceritakan keluarganya mengungsi di TES sejak status Merapi dinaikkan ke level siaga. Salah satu anggota keluarga yakni istrinya hamil sembilan bulan.

Baca juga: 4 Gunung Berapi Berstatus Siaga Termasuk Merapi, Begini Kondisinya Saat Ini

Karlo bertugas sebagai driver ambulans. Terkadang, Karlo ikut sukarelawan di kampungnya untuk menggelar ronda.

“Di kampung itu ada beberapa pos jaga. Kami bergantian ronda untuk memantau Merapi sekaligus menjaga keamanan kampung setiap malamnya,” jelas Karlo.

Alhasil, hampir saban hari Karlo bolak-balik TES dan kampungnya di Dukuh Sambungrejo yang masuk KRB III erupsi Gunung Merapi.

Meski disibukkan dengan aktivitas sebagai sukarelawan selama hampir tiga bulan terakhir, Karlo mengaku tetap bisa mengurusi keluarga serta pekerjaannya. “Caranya ketika urusan di rumah sudah selesai semua, baru bertugas menjadi sukarelawan,” jelas dia.

Share
Dipublikasikan oleh
Rohmah Ermawati