Menjaga kebersihan lingkungan sangat dianjurkan dalam Islam. (dok)

Solopos.com, SUKOHARJO – Kebersihan sebagian dari iman. Kalimat itu seringkali kita temukan di berbagai kesempatan. Entah dalam kajian, buku, maupun pengumuman yang tertempel di dinding. Makna yang disampaikan dari kalimat itu seringkali berhubungan dengan menjaga kebersihan atau imbauan untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Dihimpun dari berbagai sumber, kalimat kebersihan sebagian dari iman bukan merupakan sebuah hadis melainkan hanya sebagai peribahasa atau hadis dalam kategori lemah (dhoif). Namun, agama Islam memang menyukai kebersihan dan keindahan. Rasulullah bersabda, “Kesucian merupakan sebagian dari Iman.” (H.R Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah bersabda,“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan.” (H.R Muslim)

Ustazah Esti Ambarwati, saat ditemui Solopos.com di wilayah Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (7/3/2019), mengatakan makna kebersihan sebagaian dari iman menurut syari yakni kebersihan hati dari segala bentuk kemusyrikan kepada Allah.

“Kalimat itu dapat dimaknai pula membersihkan diri dari sifat tercela atau membersihkan diri dari najis atau kotoran dengan diniatkan kepada Allah saja,” ujarnya.

Ia menambahkan kalimat itu mengandung dua poin yakni kebersihan lahir dan batin. Dalam syariat Islam selain menjaga kesucian diri, juga mengajarkan manusia untuk menjaga kebersihan fisik atau lingkungan. Secara umum membuang sampah dapat menyebabkan hilangnya keindahan hingga bencana banjir. Tentunya, dengan perilaku membuang sampah sembarangan atau tidak menjaga kebersihan juga akan merugikan orang lain. Sehingga perbuatan itu dapat mengarah pada perbuatan merusak muka bumi.

Allah berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S Ar Rum: 41)

Dalam ayat itu, Allah menyatakan bahwa semua kerusakan yang terjadi di bumi penyebabnya adalah tangan manusia yang bermaksiat. Oleh sebab itu maka manusia wajib menjaga tangan-tangan mereka dari perbuatan merusak sekecil apa pun.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai kebaikan. Allah itu bersih dan menyukai kebersihan. Allah itu mulia dan menyukai kemuliaan. Allah itu dermawan dan Ia menyukai kedermawanan maka bersihkanlah olehmu tempat-tempatmu.” (H.R Tirmizi)

Ia menambahkan, selain kebersihan fisik seperti menjaga kebersihan lingkungan hingga keamanan lingkungan, seseorang wajib menjaga kebersihan hatinya untuk menjauhkan diri dari perbuatan tercela. Menjaga kebersihan hati merupakan upaya untuk menyempurnakan ibadah. Walaupun menjaga kebersihan hati lebih sulit daripada sekadar membersihkan lingkungan.

Terdapat berbagai amalan untuk menjaga kebersihan hati seperti segera menunaikan ibadah wajib. Ketika telah mendengar azan jangan sampai menunda-nunda untuk menunaikan ibadah salat. Banyak riwayat yang menyebutkan seseorang mendapat siksa sedangkan ia menunaikan ibadahnya namun menunda-nunda demi urusan duniawi.

Menjalankan ibadah sunah walaupun apabila tidak dilaksanakan tidak berdosa namun sebagai muslim, hal itu untuk menyempurnakan ibadah. Berbagai amalan sunah tidak boleh dipandang sebelah mata. Berbagai keutamaan Allah janjikan seperti Salat Duha yang akan membuka pintu rezeki. Berkumpul dan berada di lingkungan yang baik juga sebagai upaya menjaga kebersihan hati. Hal itu dapat dimanfaatkan sebagai upaya untuk saling mengingatkan dalam urusan akhirat. Sebaliknya, bukan tidak mungkin seseorang akan terpengaruh pada perilaku yang buruk akibat lingkungannya pula.

Lantas, memperbanyak berzikir dan mengingat kematian yang bisa dapat datang kapan saja. Berzikir kepada Allah mewujudkan kecintaan seseorang dan mengingatkan bahwa kelak semuanya akan kembali kepada Allah. Kemudian, menghindari sifat riya. Biar pun itu perkara kecil namun akibatnya bisa sangat fatal. Ketika seseorang telah berbuat kebaikan dengan ikhlas namun di tengah jalan muncul sifat itu maka seluruhnya akan menjadi sia-sia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten