Seorang warga melihat gambar Cakades Irianto di pinggir Jalan Tunjungan-Gondang, Dukuh Jaten, Toyogo, Sambungmacan, Sragen, Rabu (11/9/2019). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN -- Penetapan Calon Kepala Desa (-sragen-terima-aduan-soal-indikasi-politik-uang-di-pilkades-patihan" title="Polres Sragen Terima Aduan Soal Indikasi Politik Uang di Pilkades Patihan">Cakades) Toyogo, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, atas nama Irianto dianulir. Penyebabnya, ada kesalahan penjumlahan nilai hasil seleksi tambahan oleh tim dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Penganuliran cakades Irianto dilakukan dalam rapat pleno Panitia Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Toyogo di balai desa setempat, Selasa (10/9/2019) malam.

Penganuliran itu karena hasil penjumlahan yang keliru dari Tim Seleksi -hadiri-rapat-timses-cakades-patihan-inpektorat-sragen-siap-beri-sanksi" title="PNS Hadiri Rapat Timses Cakades Patihan, Inpektorat Sragen Siap Beri Sanksi">Cakades Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Irianto yang sebelumnya mendapat nilai ujian tertulis 36 setelah dikoreksi secara manual ternyata total nilainya turun menjadi 26.

Setelah diakumulasi dengan prestasi dan dedikasi, Irianto yang semula ranking 5 turun menjadi ranking 6. Sementara Budi Utomo yang semula ranking 6 naik menjadi ranking 5 karena nilainya ujian tertulisnya 35.

Camat Sambungmacan Y. David Supriyadi saat ditemui Solopos.com seusai deklarasi Pilkades Damai di Gondang, Sragen, Rabu (11/9/2019), menyampaikan awalnya cakades Budi Utomo protes dan mengadu ke Polres Sragen terkait hasil tes tertulis yang diduga ada kekeliruan.

Saat ada aduan itu, kata David, panitia -cakades-celep-sragen-dirobek-orang-tak-dikenal" title="Gambar Cakades Celep Sragen Dirobek Orang Tak Dikenal">Pilkades Toyogo juga dipanggil ke Polres. Setelah dipelajari, Polres menyimpulkan aduan itu masuk ranah administrasi sehingga wewenangnya ada di panitia Pilkades tingkat desa.

"Setelah diserahkan ke panitia tingkat desa, panitia akhirnya mengundang semua calon dan panitia pilkades tingkat desa, kecamatan, dan kabupaten untuk hadir di Balai Desa Toyogo selasa malam. Dari UMS juga datang,” ujar David.

David menjelaskan pada saat awal penetapan cakades pada Kamis (5/9/2019) lalu nilai ujian langsung dibuka bersama-sama dan yang dilihat hanya jumlah akhirnya sehingga tidak sempat melakukan pengecekan nilai karena percaya kepada tim UMS.

“Sampai Senin [9/9/2019] tidak ada masalah dan pada Selasa baru ada persoalan itu. Semua dirugikan akibat human error dari UMS ini. Panitia dirugikan dan khususnya Pak Irianto juga dirugikan karena sudah terlanjur pasang gambar. Kami minta dari panitia desa segera berkomunikasi dengan Pak Irianto. Kesalahan bukan di panitia desa tetapi ada human error dari UMS,” jelasnya.

David menyampaikan ada tiga desa yang bekerja sama dengan UMS, yakni Toyogo, Karanganyar, dan Sambungmacan tetapi masalahnya hanya di Toyogo. Biaya tes tertulis di UMS itu mencapai Rp1,25 juta per cakades.

Ketua Panitia Seleksi Cakades UMS, Daryono, mengakui ada human error dalam penjumlahan nilai ujian tertulis pada salah satu cakades di Toyogo, Sambungmacan, Sragen. Dia mengatakan kesalahannya hanya pada penjumlahan bukan pada nilainya sehingga kesalahan itu sudah dibetulkan dan selanjutnya diserahkan kepada Panitia Pilkades Toyogo.

“Kebetulan petugas yang menghitung itu secara manual dan terjadi kesalahan dalam penulisan angka, yakni mestinya 26 ternyata tertulis 36. Ya, human error dan sudah dibetulkan,” jelasnya.

Cakades Irianto tidak terima dengan keputusan anulir tersebut. Irianto meminta dirinya tetap menjadi cakades dan bersaing secara fair dalam Pilkades Serentak 2019. Berdasarkan pantauan Solopos.com, Rabu, gambar Irianto sebagai cakades sudah terpasang di sejumlah tempat di Desa Toyogo.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten