Ilustrasi kampanye setop perundungan. (wblk.com)

Solopos.com, SOLO – Perundungan atau biasa dikenal dengan bullying menjadi perhatian masyarakat Tanah Air. Guna memerangi bullying, seorang wanita bernama Katyana Wardhana, 22, mendirikan komunitas sekaligus gerakan anti-bullying, Sudah Dong.

Sudah Dong didirikan sejak 2014 di bawah naungan Yayasan Madani. Komunitas ini berkomitmen penuh mengajak masyarakat peduli dengan kasus bullying di Indonesia. Hingga kini, komunitas tersebut telah beranggotakan lebih dari 2.000 orang yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia seperti Aceh, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Banjarmasin.

Dipantau Solopos.com dari video tayangan Kick Andy Metro TV, Kamis (5/9/2019), Katyana Wardhana menginisiai komunitas Sudah Dong karena merasa prihatin dengan korban bullying. Ia sendiri juga pernah diejek dengan sebutan Miss Muscle karena otot besar di bagian lengannya.

Katyana Wardhana menganggap kasus bullying menjadi ancaman besar. Kasus itu dapat mencegah generasi muda mewujudkan impian mereka. Namun, melalui gerakan Sudah Dong, anak-anak akan lebih teredukasi.

Komunitas Sudah Dong mengedukasi masyarakat melalui media sosial dan gerakan langsung seperti talkshow, presentasi, dan seminar di beberapa sekolah dan perguruan tinggi.

“Dalam kegiatan edukasi, kami [Sudah Dong] mempunyai inisiatif goes to school. Hal tersebut dicapai dengan talkshow, presentasi, maupun seminar di sekolah dan universitas. Hingga kini, kami telah mengunjungi 42 sekolah dan 12 universitas, serta melakukan 100 talkshow,” terang Katyana Wardhana dalam program talkshow Kick Andy.

Selain dilakukan dengan talkshow, seminar, dan presentasi, Sudah Dong juga mengedukasi masyarakat lewat media sosialnya. Korban perundungan bisa berkeluh kesah lewat fitur berbagi cerita yang ada di situs resmi Sudahdong.com. Langkah selanjutnya, Sudah Dong akan memberikan feedback berupa saran.

Sebagai informasi, kasus bullying di Indonesia terus meningkat. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti, mengatakan, bullying dapat menimpa siapa saja tanpa mengenal usia, jenis kelamin, maupun kondisi perekonomian.

Menurut Retno Listyarti, kasus bullying disebabkan pembangunan karakter yang salah oleh orang tua, baik dari pelaku maupun korban perundungan. Jika seorang anak dididik dengan cara negatif seperti kekerasan, cacian, dan hinaan maka ia akan melakukan hal yang sama seperti didikan tersebut.

Di sisi lain, jika orang tua membiasakan anak manja, maka dia tidak akan berani keluar dari zona nyaman. Korban bullying cenderung takut mengeluarkan pendapat dan sering lari dari masalah. (Egitya Eryaningwidhi/Solopos.com)


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten