Kondisi Gedung SMAN SBBS Gemolong mangkrak dalam dua tahun terakhir. Foto diambil Sabtu (18/5/2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Sempat menjadi sekolah favorit pada awal pendiriannya, SMAN Sragen Bilingual Boarding School (SBBS) Gemolong kini justru tenggelam.

Sekolah yang mulai dibuka pada 2008 ini tutup di usianya yang belum genap 10 tahun, tepatnya pada 2017 lalu. Sebagai akibatnya, aset pendidikan senilai miliaran rupiah mangkrak dalam dua tahun terakhir.

Aset pendidikan yang mangkrak itu meliputi bangunan sekolah yang terdiri atas belasan ruang kelas, laboratorium fisika, laboratorium biologi, laboratorium kimia dan gedung pertemuan.

“Sebagian besar ruang kelas menganggur, tiga laboratorium kurang terawat karena sudah jarang dipakai. Gedung pertemuan pun sudah ambles pada bagian panggungnya. Ini karena kami tidak memiliki cukup dana untuk merawat semua aset ini,” ujar Farhan, salah seorang mantan guru SMAN SBBS Gemolong yang kini mengajar di SMP SBBS Gemolong saat ditemui Solopos.com di lokasi, Sabtu (18/5/2019).

Gedung SBBS Gemolong berdiri di lahan seluas hampir satu hektare. Awalnya, SBBS Gemolong yang berdiri sejak 2008 itu terdiri atas tiga sekolah yakni SDN SBI SBBS Gemolong, SMPN SBBS Gemolong, dan SMAN SBBS Gemolong.

SDN SBI kemudian berubah nama menjadi SDN Gemolong sejak semua SBI dan RSBI dibubarkan pada 2013 lalu. Sementara SMAN SBBS Gemolong dibubarkan oleh Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud per 7 Desember 2017.

Sejak tahun ajaran 2017-2018, SMAN SBBS Gemolong sudah tidak menerima peserta didik baru. Meski sudah dua tahun berlalu, alasan di balik pembubaran SMAN SBBS Gemolong masih mengundang perdebatan di kalangan mantan guru.

Para mantan guru SMAN SBBS Gemolong merasa alasan di balik pembubaran lembaga pendidikan tersebut terkesan sengaja dibuat-buat. Salah satu alasan pembubaran SMAN SBBS Gemolong yang dikemukakan Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jateng karena sejak tahun ajaran 2017-2018 tidak lagi menerima siswa baru.

“Bukannya tidak ada siswa yang mau mendaftar ke SMAN SBBS Gemolong, tetapi memang tidak ada izin dari kepala sekolah untuk menerima siswa baru. Sampai sekarang kami tidak tahu alasan kepala sekolah tidak mau membentuk kepanitiaan PPDB pada saat itu,” papar Farhan.

Alasan lain yang dikemukakan Disdik Jateng adalah SMAN SBBS Gemolong sudah tidak punya aset tanah. Status tanah sudah tercatat milik SDN Gemolong dan SMPN SBBS Gemolong.

Padahal, sebelum aset SMA/MA diambil alih Disdik Provinsi Jateng, aset SBBS menjadi milik bersama antara SDN Gemolong, SMPN SBBS Gemolong, dan SMAN SBBS Gemolong.

“Memang pada saat itu sedang masa transisi peralihan pengelolaan aset dari kabupaten ke provinsi. Tapi anehnya, aset SMAN SBBS Gemolong tidak masuk dalam daftar aset yang dikelola provinsi,” ucap guru lainnya, Eko Haryanto.

Berharap Dibuka Lagi

Farhan dan Eko mewakili 13 guru yang pernah mengajar di SMAN SBBS Gemolong berharap SMAN SBBS Gemolong bisa kembali dibuka pada tahun ajaran 2019/2020. Segala upaya sudah ditempuh, namun sejauh ini belum ada respons positif dari Kemendikbud untuk membuka kembali SMAN SBBS Gemolong.

Ketua Komite Orang Tua Siswa SMPN SBBS Gemolong, Agung Purnomo, menambahkan jika dibuka lagi, ada banyak lulusan SMPN SBBS Gemolong yang berniat sekolah di SMAN SBBS Gemolong. Para siswa itu bahkan sudah membubuhkan tanda tangan sebagai komitmen awal.

Semua guru SMPN SBBS Gemolong, komite orang tua siswa, lurah dan kades di tiga kecamatan hingga ketua DPRD Sragen juga sudah memberikan dukungan supaya SMAN SBBS Gemolong bisa dibuka lagi.

"Kami sudah berusaha beraudiensi dengan gubernur dan Komisi E DPRD Jateng, tapi sejauh ini belum ada respons positif dari pemerintah untuk membuka kembali SMAN SBBS Gemolong,” kata Agung.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten