Petugas Polres Boyolali berjaga di sekitar kotak logistik KPU Boyolali di lapangan tenis indoor di Jl. Perintis Kemerdekaan Boyolali, Jumat (22/6/2018). (Solopos-Akhmad Ludiyanto)

<p><strong>Solopos.com, BOYOLALI</strong> -- Lapangan tenis indoor di Jl. Perintis Kemerdekaan Boyolali menjadi tempat penyimpanan logistik Pemilihan Gubernur Jawa Tengah (<a title="PILGUB JATENG 2018: Panwas Boyolali Temukan 3.600 DPS Bermasalah" href="http://soloraya.solopos.com/read/20180331/492/907197/pilgub-jateng-2018-panwas-boyolali-temukan-3.600-dps-bermasalah">Pilgub Jateng</a>) 2018 milik Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat.</p><p>Sebanyak 1.645 kotak tersegel yang berisi surat suara dan perlengkapannya tertata rapi di tiga lapangan tenis. Sejak dikemas beberapa waktu lalu, logistik yang merupakan dokumen penting ini harus diawasi keutuhannya selama disimpan. Jangan sampai ada orang yang tidak berkepentingan membuka kotak-kotak tersebut hingga tiba waktunya didistribusikan.</p><p>Tiga petugas, masing-masing dua personel Polres <a title="Pilkada 2018: KPU Boyolali Coret 2.076 Nama DPS" href="http://soloraya.solopos.com/read/20180419/492/911339/pilkada-2018-kpu-boyolali-coret-2.076-nama-dps">Boyolali </a>&nbsp;dan satu petugas keamanan KPU ditugaskan menjaga logistik tersebut 24 jam sehari. Setiap hari mereka bergantian dengan tim lainnya.</p><p>Bagi para penjaga, mengawasi logistik yang merupakan benda mati sebenarnya tidak membutuhkan banyak tenaga. Mereka hanya memantau situasi di dalam dan luar ruangan. Pada siang hari, tugas itu terasa lebih mudah karena situasi di luar maupun di dalam ruangan cukup terang dan memudahkan pengawasan.</p><p>Di malam hari, penerangan di luar ruangan berkurang sehingga butuh kewaspadaan ekstra jika ada sesuatu yang mencurigakan. Beruntung, selama dalam penjagaan mereka hingga Jumat (22/6/2018), di mana logistik mulai dikirimkan ke kecamatan-kecamatan, tidak ada gangguan dari orang.</p><p>Gangguan justru datang dari sesuatu yang tak kasatmata, khususnya di malam hari. Beberapa petugas mengaku kerap mendengar suara aneh dari kotak suara maupun dinding bangunan lapangan tenis yang terbuat dari seng tersebut.</p><p>&ldquo;Kalau suara glodakan [gedubrakan] biasa. Kami semua sering mendengarnya dari kotak-kotak itu. Biasanya kami biarkan saja,&rdquo; ujar Bripda Wahyu Setiawan, salah satu petugas penjaga logistik saat berbincang dengan <em>Solopos.com</em>, Jumat.</p><p>Petugas penjaga logistik lainnya, Tri Darmadi, mengatakan hal yang sama. &ldquo;Sering lah terdengar suara-suara aneh dari kotak suara atau dari dinding. Kalau asal suara dari dalam kami biarkan. Kalau suara dari dinding luar, kami langsung cek dan biasanya tidak ada apa-apa,&rdquo; ujar petugas keamanan KPUD <a title="Pilgub Jateng 2018: Lipat Surat Suara, KPU Sukoharjo Libatkan 50 Warga" href="http://soloraya.solopos.com/read/20180518/490/917032/pilgub-jateng-2018-lipat-surat-suara-kpu-sukoharjo-libatkan-50-warga">Boyolali </a>&nbsp;ini.</p><p>Meski terbiasa mendengar suara-suara itu bukan berarti mereka tidak merinding. Mereka merasa takut sendirian dan selalu pergi bertiga pada malam hari untuk mengecek situasi di luar ruangan maupun sekadar buang air kecil di toilet.</p><p>Puncak ketakutan mereka adalah ketika pada Selasa (12/6/2018) dini hari mereka mendengar suara riuh candaan anak kecil. &ldquo;Wah itu yang paling seram. Kami yang jaga [bertiga] semua mendengar suara itu berasal dari toilet lapangan dan pojok selatan-timur ruangan,&rdquo; ungkap Tri dengan antusias.</p><p>Penasaran dengan suara itu, ketiganya pun pergi mengecek ke arah sumbernya. Namun tidak ada anak-anak yang sedang bercanda seperti yang mereka dengar. &ldquo;Sejak saat itu kalau salah satu di antara kami mau buang air kecil pasti minta ditemani,&rdquo; kata dia.</p><p>Lapangan tenis indoor itu sebenarnya dekat perumahan penduduk. Bahkan di salah satu sisinya bersebelahan dengan Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) dan Kantor Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Boyolali. Namun aura ganjil tetap dirasakan para penjaga.</p><p>Wahyu dan Tri mengaku pengalaman &ldquo;menakutkan&rdquo; ini tak sampai membuat mereka ingin mundur dari tugas. &ldquo;Tugas tetap tugas. Tapi ya itu. Kadang ngeri saja,&rdquo; kata Tri.</p><p><br /><br /></p>

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten