Pemimpin Redaksi Solopos, Suwarmin memandu Seminar Ekonomi Digital dan Masa Depan Ekonomi Kita di STMIK Sinar Nusantara, Rabu (25/4/2018). (Solopos-Shoqib Angriawan)

Solopos.com, SOLO — Dukungan dunia pendidikan dituntut mampu mencetak sumber daya manusia (SDM) yang siap bersaing di era ekonomi digital.

Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Sinar Nusantara sebagai salah satu sekolah tinggi bidang teknologi informasi pun dituntut kreatif urusan kurikulum agar lulusannya tidak hanya menguasai urusan teknik informatika melainkan mampu membaca peluang pasar.

Ketua STMIK Sinar Nusantara, Kumaratih Sandradewi, menjelaskan SDM di STMIK Sinar Nusantara tak lagi gagap menghadapi era digital karena inilah yang digeluti sejak STMIK berdiri.

“Jadi yang bisa kami lakukan menghadapi era ini adalah kreatif pada penyesuaian kurikulum agar mahasiswa bisa mendapatkan ilmu yang pas untuk di terapkan di pasar dan dunia kerja,” kata Kumaratih, saat berbincang dengan Solopos.com, seusai Seminar Ekonomi Digital dan Masa Depan Ekonomi Kita, Rabu (25/4/2018). Acara ini didukung oleh Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM).

Pembantu Ketua Bidang Akademik STMIK Sinar Nusantara, Wawan Laksito, pun membeberkan kesiapan dunia pendidikan khususnya pendidikan di bidang IT tidak hanya pembelajaran yang bersifat teknis, tapi juga terkait budaya pemanfaatan teknologi informasi mengingat saat ini mulai ada distorsi pada era ini di mana teknologi lebih banyak dimanfaatkan untuk hal-hal yang kurang produktif.

“Dalam proses pembelajaran mereka harus bisa membiasakan diri atau membentuk lifestyle bahwa informasi teknologi adalah untuk produktivitas,” kata Wawan.

Lifestyle semacam ini dimulai dengan sistem pembelajaran yang mengkombinasikan tatap muka di kelas dengan pemanfaatan e-learning, “jadi mahasiswa ke kelas sudah punya bahan diskusi.”

Selain budaya, juga ada pembentukan karakter wirausaha dengan mengolaborasikan ilmu teknologi dengan entrepreneur.

Dia mencontohkan gitar batik yang sempat booming dan akhirnya mampu menembus pasar ekspor hingga ke Amerika Serikat adalah karya lulusan mahasiswa STMIK Sinar Nusantara. “Itu awalnya dari mata kuliah kewirausahaan. Satu kelompok mahasiswa patungan membuat gitar batik kemudian dimasukkan ke kaskus. Dan hasilnya sekarang mereka sudah bisa ekspor gitar batik itu,” kata Wawan.

Saat ini pun, mahasiswa STMIK Sinar Nusantara mulai belajar tentang start up, meskipun masih dibilang sederhana serta belajar memulai bisnis dengan memanfaatkan layanan e-commerce yang ada.

Kurikulum di sekolah tinggi yang berlokasi di Jl.K.H.Samanhudi Laweyan Solo itu pun siap menerjunkan lulusannya masuk ke sektor industri yang juga menghadapi tantangan Making Indonesia 4.0.

“Kami punya mata kuliah mengenai enterprise riset planning, artificial intelegensi atau kecerdasan buatan, dan segala tuntutan di industri digital. Kami sudah antisipasi itu semua, bahkan untuk tugas akhir mahasiswa sudah tidak hanya soal pengambilan keputusan berbasis data tapi mengarah pada kecerdasan buatan dan sistem pasar, serta pemanfaatan teknologi untuk bisnis,” imbuh Wawan.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten