Tutup Iklan
Status Risiko Covid-19 Solo Berbeda Menurut Bappenas dan Gugus Tugas, Kok Bisa?
Ilustrasi hasil tes Covid-19. (Freepik)

Solopos.com, SOLO -- Status risiko penularan Covid-19 Kota Solo berbeda menurut Bappenas dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pusat.

Hal itu terjadi karena perbedaan hitung data di dua situs pemerintah itu. Berdasarkan data terbaru pada situs covid.bappenas.go.id, Minggu (5/7/2020), angka reproduksi Covid-19 yang disimbolkan dengan huruf R di bawah 1, tepatnya 0,86.

Hitungan hingga Kamis (2/7/2020) itu membuat angka reproduktif efektif Solo masuk kategori hijau. Sementara menurut grafis di situs peta risiko covid19.go.id, Kota Bengawan masuk zona oranye atau risiko sedang atau naik satu tingkat dibanding sebelumnya.

Sebaran Covid-19 Indonesia 5 Juli 2020: Jatim Tambah 552 Kasus, Jateng 208

Pada Selasa (30/6/2020), status risiko Covid-19 Solo masuk zona kuning atau risiko rendah. Artinya, masih ditemukan kasus positif Covid-19, kemudian transmisi dari kasus impor dan tingkat rumah tangga bisa terjadi. Di sisi lain, klaster penyebaran terkendali dan tidak bertambah.

Arti Zona Oranye

Sedangkan arti zona oranye adalah tingkat penyebaran tinggi dan potensi virus tidak terkendali. Penjabarannya, transmisi lokal mungkin bisa terjadi dengan cepat, transmisi dari kasus impor mungkin terjadi secara cepat.

Selain itu klaster-klaster baru harus terpantau dan dikontrol melalui testing dan tracing agresif.

Ada Luka Lecet Hingga Pendarahan di Mulut Remaja Gatak Sukoharjo Yang Meninggal Saat Latihan Silat

Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Siti Wahyuningsih, mengatakan jumlah pasien terkonfirmasi positif Covid-19 hingga Minggu tersisa empat orang. Tiga di antaranya dirawat inap di rumah sakit dan seorang menjalani karantina mandiri.

Sedangkan kumulatifnya 43 orang, 35 sembuh, dan empat meninggal dunia. Ning, sapaan akrabnya, menduga hitungan Bappenas terkait status risiko Covid-19 Solo kemungkinan baru sampai sebelum 2 Juli.

"Sebelum 2 Juli jumlah kasus bertahan di 42 orang selama hampir sepekan. Angka R kan dihitung dua pekan ke belakang. Kasus kembali bertambah pada 2 Juli, seorang dari Kelurahan Purwosari, Laweyan. Saat ini masih kami tracing masif,” kata dia saat dihubungi Minggu.

Sementara status risiko zona oranye Solo menurut Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Ning menduga karena kasus pada 2 Juli itu sudah dihitung.

Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani, mengatakan jarak antara tanggal uji swab dengan tanggal bepergian pasien asal Purwosari itu terlalu dekat.

Masa inkubasi virus itu umumnya antara 6-14 hari. Riwayat bepergian pasien asal Purwosari itu pada 21 Juni. Sedangkan uji swab dilakukan 22 Juni.

Transmisi Lokal

Karenanya meski memiliki riwayat ke luar kota, Ahyani mengatakan bisa saja kasus yang membuat risiko Covid-19 Solo masuk zona oranye menurut gugus tugas tingkat pusat itu merupakan produk transmisi lokal.

Perempuan Berbaju Merah Muda Tertangkap Kamera Curi Uang Rp19 Juta di Pasar Legi Solo, Siapa Dia?

“Hasil uji swab keluarga belum juga keluar sampai Minggu. Kami meminta keluarga, termasuk kontak erat dan dekatnya menjalani karantina mandiri. Entah dari mana tertularnya, yang paling penting kami memutus rantai penyebaran virusnya. Penularannya sudah antarpenduduk, bukan kasus impor satu demi satu lagi,” ucap Ahyani.

Sementara itu, jumlah kumulatif pasien dalam pengawasan (PDP) hingga Minggu tercatat 278 orang. Dari jumlah itu, tinggal delapan orang yang menjalani rawat inap.

Sisanya sebanyak 233 orang sembuh dan 37 orang meninggal dunia. Sementara jumlah orang dalam pemantauan (ODP) 659 orang, dengan uraian 14 orang menjalani rawat jalan dan sisanya selesai pemantauan


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho