Status Gunung Sinabung Awas, Gunung Agung Siaga
Gunung Sinabung menyemburkan material vulkanik ketika erupsi, di Karo, Sumatra Utara, Senin (19/2/2018)./ANTARA-Maz Yons

Solopos.com, JAKARTA – Gunung Sinabung berstatus Awas, sedangkan Gunung Agung berstatus Siaga pada Minggu (30/12/2018) hari ini. Hal itu terungkap dari laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang dibuplikasikan melalui laman resminya http://www.vsi.esdm.go.id.

Sekadar informasi, tingkatan bahaya gunung berapi ada 4 level yakni Level I: Aktif Normal, Level II: Waspada, Level III: Siagal, Level IV: Awas

Dari 127 gunung api Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:

  • 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  • 3 (tiga) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018 dan G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018.
  • Sebanyak 16 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi, Marapi, Kerinci, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunungapi: Status NORMAL/Level I.

Gunung api Sinabung (Sumatera Utara) Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini visual gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah dengan tinggi sekitar 500 meter berwarna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Melalui rekaman seismograf tanggal 29 Desember 2018 tercatat 2 kali gempa Tornillo dan 5 kali gempa Tektonik Jauh.

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat. Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali) Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi.

Pemantauan secara visual Gunung Agung dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status Gunung Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan.

Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018.

Pascagempa Lombok, erupsi Gunung Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik.

Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas Gunung Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun embusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati. Dari kemarin hingga pagi ini visual cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah timur.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan tinggi sekitar 700 meter dari puncak dan intensitas tipis. Terjadi erupsi pada tanggal 30 Desember 2018, pukul 04:09 WITA, namun tinggi kolom abu tidak teramati. Melalui rekaman seismograf tanggal 29 Desember 2018 tercatat 3 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Tektonik Jauh. 

Kegempaan tanggal 30 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat 1 kali gempa Erupsi/Letusan, 1 kali gempa Vulkanik Dangkal, 1 kali gempa Vulkanik Dalam. Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunung Agung.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom