Stadion Serbaguna Manahan
Agus Kristiyanto (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Sebagaimana telah diberitakan Solopos edisi Kamis, 24 Desember 2020, calon wali Kota Solo terpilih Gibran Rakabuming Raka mewacanakan pemanfaatan Stadion Manahan untuk berbagi fungsi dan kegiatan di luar olahraga, terutama yang dia tekankan adalah kemungkinan menggelar konser musik Stadion Manahan.

Wacana tersebut disampaikan di forum stakeholders pariwisata Kota Solo yang kemudian mengundang berbagai respons dari berbagai lapisan masyarakat, terutama masyarakat olahraga dan pariwisata. Bagi masyarakat, wacana tersebut memiliki arti sebagai “pesan” perenungan yang berurgensi tinggi.

Gibran adalah calon pemimpin baru Kota Solo periode 2021-2026. Wacana tersebut dapat berkonotasi sebagai bentuk “bocoran” rencana besar  goodwill Pemerintah Kota Solo pada masa depan.  Penggunaan Stadion Manahan adalah persoalan yang tidak sebatas pada lingkup olahraga dan musik, melainkan menyangkut banyak hal yang bersifat multidimensional.

Stadion sebagai bangunan khusus dan sakral untuk acara olahraga merupakan sebuah warisan besar perkembangan peradaban manusia. Kali pertama muncul dalam catatan sejarah  pada 776 SM, yakni stadion di Olympia, Ploponnesos, Yunani. Stadion pada masa itu merupakan  tempat keramat yang dibangun  atas inisiatif ”para keturunan dewa”.

Stadion versi awal berupa panggung terbuka untuk umum dan digunakan sebagai tempat penyelenggaraan olimpiade kuno. Stadion menjadi prasarana niscaya bagi cikal bakal lahirnya olimpiade modern yang eksis terselenggara hingga saat ini. Tumbuh dan berdirinya stadion di permukaan bumi menjadi bukti bahwa peradaban dunia menerima dengan baik gerakan olimpiade modern yang sepaket dengan olympism values.

Gema citius (lebih cepat), altius (lebih tinggi), fortius (lebuh kuat) berpadu dengan pesan solidaritas kemanusiaan universal dalam bentuk performa friendship (persahabatan),  excellence (keunggulan), dan respect (rasa hormat). Secara filosofis stadion  dibangun dan didirikan bagai “folder istimewa” yang  semestinya menyimpan “file-file” olympism values tersebut.

Seluruh bangsa di dunia kemudian membuat “folder istimewa” dalam bentuk bangunan tertutup atau semi tertutup seperti kubah yang disebut stadion. Stadion dibangun dengan desain interior dan eksterior yang bervariasi. Daya tampung menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan.

Terdapat satu yang standar yakni ada stade di dalamnya, yakni lintasan lari yang lurus dan datar dengan ukuran panjang persis sama dengan panggung kehormatan tribun, yakni 100 meter. Sebuah lintasan kehormatan yang digunakan untuk pembuktian siapa yang menjadi manusia tercepat.

Stade merupakan lintasan yang menjadi core/jantung lintasan lingkaran sepanjang 400 meter yang mengelilingi lapangan sepak bola yang berada di tengah stadion. Stadion bukan sekadar sebuah bangunan yang digunakan untuk perlombaan dan pertandingan olahraga. Stadion didesain untuk mengamalgamasikan cabang olahraga dan nomor olahraga yang merepresentasikan kehidupan, terutama atletik dan sepak bola.

Atletik adalah mother of sport yang merepresentasikan bahwa hidup itu adalah jalan, lari, lempar, dan lompat. Sedangkan sepak bola adalah permainan yang merupakan miniatur kehidupan. Sepasang gawang yang tegak permanen di lapangan adalah sebuah prasasti pengingat bahwa hidup itu harus punya goal, harus punya tujuan.

Kalkulasi Fungsi

Konsep serbaguna bagi masyarakat Indonesia merupakan sesuatu yang lazim ditemu dan dikenali. Serbaguna menunjuk pada  fungsi sebuah tempat yang dapat digunakan untuk aneka aktivitas. Sebuah bangunan gedung olahraga  (GOR)  pun otomatis “diperlakukan” sebagai gedung serbaguna.

Gedung yang awalnya dibangun sebagai arena beraktivitas olahraga badminton dan tenis meja dapat digunakan secara luwes untuk keperluan lain, seperti arisan keluarga, acara ulang tahun, atau acara resepsi pernikahan. Bangsal olahraga di sebuah sekolah pun sering dikembangkan manfaatnya untuk diserbagunakan sebagai aula kegiatan lain yang bermanfaat.

Walakin, untuk pengembangan fungsi serbaguna prasarana olahraga, apalagi stadion yang berstandar internasional, tentu butuh kalkulasi yang cermat dan teliti. Setidaknya ada tiga pisau analisis yang bisa digunakan untuk mengalkulasi kaidah serbaguna dari sebuah stadion, yakni kebisaan, kelayakan, dan kepatutan.

Pertama, dari sisi kalkulasi kebisaan dilakukan dengan melihat fakta yang pernah terjadi. Stadion Manahan sebagai tempat konser musik di samping fungsi utamanya sebagai arena olahraga telah berlangsung beberapa kali. Pada Juli 2017 di Stadion Manahan pernah diselenggarakan konser musik yang menampilkan grup band Noah.

Ariel dan kawan-kawan kala itu telah menyedot publik penggemar memadati stadion dengan 20.000 tempat duduk tersebut. Kebisaan menggelar konser musik di stadion olahraga juga telah sukses diselenggarakan di beberapa kota besar di Indonesia. Konser musik di stadion olahraga  bahkan menjadi agenda tahunan di beberapa negara di Eropa.

Stadion terbesar dan termasyhur di Inggris, Wembley, pada 1985 menjadi berita dunia bukan semata-mata karena sukses menjadi stadion utama penyelenggaraan olimpiade. Stadion dengan 90.000 tempat duduk tersebut oleh Bob Geldof disulap menjadi lokasi konser musik akbar.

Konser itu bukan untuk mengumpulkan banyak orang berjingkrak di stadion, tetapi konser tersebut merupakan konser amal terbesar untuk membantu masalah kelaparan di Ethiopia kala itu. Kedua, dari sisi kelayakan stadion tentu saja Stadion Manahan sebagai stadion berstandar Internasional yang sudah dua kali mengalami renovasi memiliki standar kelayakan yang melampaui syarat sebagai panggung konser musik berskala besar.

Seluruh sisi dan sudut stadion amat sangat representatif, walaupun secara teknis perlu ditambahkan standar teknis, seperti flooring dan sebagainya. Pada sisi lain, konser musik yang diizinkan di stadion kebanggaan tersebut juga harus memenuhi syarat kelayakan yang sebanding. Layak penyelenggaranya, dengan event organizer yang bonafid, dan penyelenggaraannya yang berbasis aman dan tertib.

Harus pula memenuhi syarat layak misi konsernya dari pertimbangan pengembangan pariwisata, akselerasi performa perkekonomian, serta kemanfaatan dan misi jelas amal kemanusiaan yang luas dan universal. Ketiga, sisi kepatutan merupakan sebuah orientasi yang membandingkan antara alternatif pemanfaatan Stadion  Manahan dengan aneka ruang publik yang lain.

Terdapat ruang publik yang berkarakteristik khas di Kota Solo, seperti Alun-alun Utara dan Alun-Alun Selatan Keraton Solo. Di kawasan Gladag juga representatif untuk ajang konser dan festival. Mungkin kawasan Bandara Internasional Adi Soemarmo juga berpotensi bagus untuk suatu saat dipinjam dan disulap menjadi arena konser musik berskala besar.

Ada pasal menarik di Undang-undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional yang perlu dicermati bersama. Pasal 67 ayat (7) undang-undang itu menyatakan setiap orang dilarang meniadakan dan/atau mengalihfungsikan prasarana olahraga yang telah menjadi aset/milik pemerintah atau pemerintah daerah tanpa rekomendasi menteri dan tanpa izin atau persetujuan dari yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pelarangan sebagaimana pada Pasal 67 tersebut tentu saja berlaku untuk pengalihfungsian yang bersifat permanen, bukan bersifat insidental. Welcome jika memang  dipastikan memenuhi syarat manfaat yang besar bagi nilai kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Bukankah sebagaimana kebijakan car free day (CFD) itu kebijakan mulia untuk mengalihfungsikan fungsi utama jalan protokol secara sementara dan periodik?

CFD menjadi opsi penyelamatan lingkungan kota dari polusi udara dan suara, bersamaan dengan memberikan tambahan ruang terbuka bagi publik untuk berolahraga dan aneka interaksi sosial, terutama pada Minggu pagi.

Pintu masuk memahami gambaran besar olahraga memang sangat ideal bila dimulai dengan “memasuki” pintu utama sebuah stadion. Nilai friendship antara olahraga dan musik telah lama mengakar sebagai persahabatan bersimbiosis mutualisme. Bukankah kita sudah sangat lama mengenal standar label baku toko sport and music yang tetap eksis hingga kini di mana-mana?

Jangan sampai kalkulasi alternatif menyerbagunakan fungsi stadion kurang cermat yang justru akan merusak persahabatan antara olahraga dan musik. Jangan sampai terjadi stadion olahraga dirusak oleh konser musik atau konser musik terkesan tertolak oleh keanggunan sebuah stadion olahraga. Olahraga dan musik memberikan warisan terbaik yang sama, yakni persahabatan.

 

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya








Kolom