Rumah maha menteri Keraton Agung Sejagat, Wiwik Untari, di Kebondalem Lor, Prambanan, Klaten, Jumat (17/1/2020). (Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN -- Seperti halnya di Purworejo, Keraton Agung Sejagat Klaten yang terletak di Saren RT 014/RW 007, Brajan, Prambanan, juga merekrut pengikut.

Perekrutan dilakukan oleh Sri Agung, 50, pemilik sanggar yang dijadikan pusat kegiatan Keraton Agung Sejagat di Brajan, Prambanan. Salah seorang warga Brajan, Sri Mulyani, 50, sempat menjadi pengikut keraton tersebut.

Buruh pengemas cabai di Brajan itu mengaku sempat tertarik menjadi pengikut karena diiming-imingi akan memperoleh sejumlah uang.

“Saya ikut pas awal [2017]. Waktu itu saya ikut iuran pertama Rp350.000. Tapi setelah itu saya keluar. Soalnya saya sudah tak punya uang lagi. Di samping itu sepertinya memang tidak jelas,” kata Sri kepada Solopos.com, Jumat (17/1/2020).

Saat mengundurkan diri, Sri Mulyani mengaku tidak tidak meminta kembali uang yang dia setorkan saat mendaftar. "Para tetangga saya di sini juga sudah banyak yang mundur," imbuh dia.

Informasi yang diperoleh Kepala Desa Brajan, Saptono, saat ini pengikut Keraton Agung Sejagat di Klaten sudah ada sekitar 100 orang.

Derita Maha Menteri Keraton Agung Sejagat yang Dijanjikan Gaji Ratusan Juta

“Setahu saya setiap pengikut baru ditarik uang pendaftaran senilai Rp20.000-Rp25.000 per orang. Setelah itu membayar seragam Rp2 juta. Iuran sukarela tergantung pangkat dan jabatan. Iuran itu katanya untuk kepentingan kemanusiaan,” kata Saptono, saat ditemui Solopos.com di desanya, Jumat.

Setelah lima tahun berselang, lanjut Saptono, para pengikut dijanjikan digaji dalam dolar Amerika Serikat. Jika dikurs rupiah nilainya hingga Rp1 miliar. Dana itu diambilkan dari Swiss.

Saptono mengatakan Sri Agung mulai aktif mencari pengikut sejak 2017 dan hingga sekarang pengikutnya mencapai 100-an orang. Para pengikut itu berasal dari Prambanan, Jogonalan, dan daerah lain di Klaten.

“Warga Brajan yang tertarik menjadi pengikut berkisar 30-40 orang. Itu termasuk Pak RW 007, Samijo. Tapi, lama-lama para pengikut pilih mundur. Istilahnya banyak yang mutung. Soalnya, ngarep-ngarep sing ra cetho. Iming-iming uang itu tak masuk akal,” katanya.

Kades Kebondalem Lor, Kecamatan Prambanan, Murtiyanto, mengatakan warganya juga ada yang menjadi pengikut Keraton Agung Sejagat. Bahkan, warga RT 013/RW 005, Kebondalem, Wiwik Untari, menjabat sebagai mahamenteri di Keraton Agung Sejagat.

Posisi tersebut setara perdana menteri di bawah seorang raja dan ratu di Purworejo. “Sebelum menjadi mahamenteri itu, Ibu Wiwik ini bekerja di bidang asuransi. Sekitar 2-3 tahun lalu pernah membuka usaha air isi ulang. Sudah lebih dari satu bulan ini usahanya tutup. Ibu Wiwik dan suaminya, Parwoto, itu orangnya tertutup,” kata Murtiyanto.

Kronologi Penemuan Terowongan Peninggalan Belanda di Klaten

Kepala Dusun (Kadus) III Kebondalem Lor, Gatot Suwandi, mengatakan Wiwik Untari pernah door to door mengajak warga lainnya menjadi pengikut Keraton Agung Sejagat. Tapi ajakan tersebut tidak digubris warga lainnya.

“Saya pernah menyarankan kalau mengajak seperti itu mending di acara RT sekalian. Yang bersangkutan tidak mau. Bu Wiwik ini pangkatnya sudah bintang empat. Memang iming-iming itu [gaji hingga miliaran rupiah] tidak masuk akal. Ada salah seorang pengikutnya dari Kebondalem Kidul yang mundur,” katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten