Tutup Iklan -->
Sri Mulyani Sebut Indonesia Bisa Jadi Pemasok Alat Kesehatan, Kok Kekurangan?
Bantuan 40.000 disposable protective coverall atau setelan baju dan celana pelindung untuk tenaga medis, diterima Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Senin (23/3/2020) pagi. [Suara.com/Dok Pemprov DKI Jakarta]

Solopos.com, JAKARTA -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan Indonesia memiliki kapasitas sebagai pemasok alat kesehatan. Namun kenyataannya, saat ini Indonesia justru kekurangan suplai alat kesehatan khususnya alat pelindung diri (APD) dan masker medis.

Sri Mulyani beralasan wabah pandemik virus Corona (Covid-19) telah menimbulkan disrupsi pasokan rantai global atau global supply chain. Salah satu yang terdampak adalah produksi alat-alat kesehatan.

Hal itu menjadi bahasan utama para pemimpin negara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa G20 melalui teleconference, Kamis (26/3/2020).

"Leaders G20 berkomitmen memperlancar dan meningkatkan supply alat-alat kesehatan. Seperti yang terjadi di Eropa, Amerika Serikat, bahkan Indonesia. Semua negara kekurangan alat kesehatan [selama penanganan Covid-19]," katanya dalam konferensi pers yang diunggah di Channel YouTube Setkab RI, Jumat (27/3/2020).

Dia menuturkan beberapa jenis alat kesehatan sangat dibutuhkan dunia saat ini. Indonesia merupakan salah satu negara yang bisa jadi pemasok alat kesehatan. Misalnya APD bagi tenaga medis, test kit virus corona, dan ventilator bagi pasien.

Sri Mulyani mengungkapkan IMF dan World Bank berencana memberikan stimulus prioritas kepada produsen alkes. Produk-produk alkes itu akan didistribusikan ke negara yang membutuhkan. Indonesia, katanya, bisa menjadi penyuplai alat kesehatan.

"Indonesia memiliki kapasitas menyuplai alat kesehatan, termasuk hand sanitizer, dan sebagainya. Pemerintah akan membuat daftar perusahaan mana saja yang dapat memasok alkes," jelasnya.

Bantuan untuk Negara Miskin

Selain memperbaiki rantai suplai alat kesehatan, Menkeu juga memaparkan G20 berkomitmen membantu negara berkembang atau berpenghasilan rendah. Hal itu, lanjutnya, disampaikan Pemimpin Arab Saudi Raja Salman sekaligus tuan rumah KTT G20 pada 2020.

Bukan itu saja, IMF dan World Bank berencana mengidentifikasi negara-negara berpenghasilan rendah yang telah terinfeksi Covid-19. "Jadi, nanti akan dilakukan restrukturisasi utamg kepada low income country yang highly infected [virus Corona]. Ini yang sedang dilakukan G20," ucapnya.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa G20 secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Kamis (26/3/2020). KTT tersebut membahas upaya negara-negara anggota G20 dalam penanganan Covid-19.

Mengutip siaran pers Sekretariat Presiden, Jokowi didampingi oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Selama krisis Covid-19 di China, perusahaan di Indonesia menjadi pemasok alat kesehatan seperti masker medis ke berbagai negara. Namun saat ini, masyarakat Indonesia justru sulit mendapatkan masker dan hand sanitizer, bahkan tenaga medis kekurangan APD.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho