Sri

"Bisakah kamu tujuh hari saja tidak menangis, Sri?" Bapakku tersenyum, merengkuh lembut pundakku.

"Aku tak tahu Pak, apa yang salah dengan lakon ini, atau harus ada yang dibenahi dari sudut-sudut yang disebut cinta?"

"Cinta? Cinta selalu menjadi sebab semua kejadian, Nak. Aku begini karena cinta, aku begitu karena cinta dan lagi-lagi cinta adalah salah, namun di satu sisi, cinta selalu bertakhta di atas segalanya."

"Aku terluka, Pak. Aku terluka !!!" Aku tergugu.

"Aku tersiksa di istanaku sendiri, aku terdampar pada poros yang dinamakan pengorbanan, aku terbunuh pelan-pelan ... aku menyesal telah mengambil jalan yang remang, bukan jalan yang terang yang bapak isyaratkan."

Aku terbangun. Kurengkuh udara dingin pagi ini, bukan lagi sesal, bukan lagi bimbang. Namun perjuangan dan pengorbanan tiap tetes air mata adalah hal yang tak mampu ditukar tambahkan. Ketiadaan yang memaksa ada, keterpurukan rasa yang diperas sekeras mungkin supaya melahirkan ribuan rindu dan kekuatan. Segudang rasa tanpa warna, berubah abu-abu, hitam lalu kelam.

Aku tersadar. Ini bukan mimpi buruk lagi. Ini nyata, bukan kabar dari neraka. Namun hidup. Namun nyata, namun ada, namun wajib aku telan mentah-mentah tiap inci perjalanan hati, pilihan hati dan ketetapan hati ... mengantarku pada bab yang disebut mati.

"Sri, anakku. Tidak peduli di istana mana, takdir wanita adalah di bawah, abdi dalem, pelayan hidup sang raja. Jika diam adalah yang terbaik maka diamlah, Nak. Jika satu suaramu adalah keburukan, diamlah hingga matahari tak menampakkan diri lagi."

"Aku ingin ikut bapak ... aku lelah Pak, aku ikut Pak ...!!!"

"Sri, jika kematian adalah jawaban tiap masalah, maka 90% manusia akan bunuh diri, termasuk kamu, Nak."

"Bunuh diri itu dosa Pak?"

"Sri ... tidurlah Nak. Esok semoga air matamu mengering. Kematian bukan dicari-cari."

Aku tertidur, antara setengah hidup dan mati aku melihat bapak pergi ... sore ini, di senja ini. Senja yang sama, di mana dulu bapak mengharapkan aku pulang.

Namun, kini bapak telah bahagia di surga. Tidak akan pulang dan tak akan pernah lagi merengkuh bahuku. Bisa ... tapi dalam mimpi.

Adalah aku, Sri. Emak dan bapak sepakat hanya menamaiku Sri. Entah apa yang ada di benak mereka hingga bertemu nama ini. Menjadi gadis kampung yang telat menikah, bagi Emak adalah aib. Ya, aib. Namun siapa yang meminta menjadikan diri ini seonggok aib.Usia  33 tahun bukan lagi usia gadis bagi keluargaku yang hidup masih dalam kotak yang dinamakan kampung, bergelut dengan ribuan adat dan puluhan kebiasaan yang terkadang bertentangan dengan hati nuraniku yang setengah umurku hidup di kota penuh sejuta warna.

"Kamu harus menikah, pokoknya harus mau. Juragan Yanto itu kaya, duda tanpa anak, mobilnya aja ada dua, Sri. Kamu nanti hidup enak, tidak usah kerja ke Jakarta, cukup di rumah jadi Nyonya Yanto. Enak to?"

Itulah Emak. Wanita berusia 55 tahun yang selalu membulatkan netra ketika membahas masalah harta. Dan menutup mata erat-erat ketika membahas masalah wanita serta hak-haknya. Aku bisa apa dengan titah emak. Aku anak tunggal, kesayangan emak dan bapak, itu kata mereka. Nyatanya tidak bagiku, emak melarangku sekolah tinggi dengan satu alasan 'wanita itu nanti juga cuma ngasuh anak di rumah' jadilah aku yang hanya tamatan Sekolah Dasar harus rajin-rajin membaca buku, merantau hanya sekadar ingin tahu dunia ini seperti apa, dengan dalih mencari uang dan sekolah langsung pada alam, pada dunia.

Pesta pernikahan digelar mewah dua hari dua malam, diiringi beberapa tarian daerah dan ratusan undangan datang. Aku terdiam dalam sepi, riuh tak terdengar, ramai namun sunyi. Apakah benar ini jalan akhir seorang makhluk yang disebut wanita? Menerima apa pun yang emak katakan, menerima takdir apa pun yang telah digariskan. Demi nama, ya nama yang disebut wanita.

"Kamu sudah sah sebagai istriku. Paham to, bagaimana kewajiban istri. Melayani."

"Iya, Mas."

Percakapan pertamaku dengan dia yang kusebut suami. Ya, suami impian emak bukan impianku. Juragan Yanto berusia 57 tahun, seumuran bapak. Dia pantas jadi bapakku. Tapi apa dayaku yang hanya wanita tak berdaya ketika titah emak dikumandangkan. Aku akan membungkam diri, membuang sejuta ego yang mendidih dalam tiap inci hati. Aku harus menerima.

Waktu seakan berjalan cepat. Pengabdianku pada sosok yang kusebut suami pun tak serumit yang kubayangkan. Tugasku hanya melayani, apa yang suami mau, namun sayang menginjak usia ke dua tahun pernikahanku, semua berubah.

"Permisi, maaf Bu apa benar ini rumah Pak Yanto?" Seseorang setengah berteriak di balik pagar rumahku.

"Iya Buk, ibu ini siapa? Dan ada kepentingan apa ya?" Tanyaku selidik.

"Maaf Bu, saya Ratmi, istri Mas Yanto. Dia sudah lima bulan tiada kabar, anak saya sakit mencari bapaknya. Saya menemukan sebuah amplop tagihan listrik di saku celana Mas Yanto, kebetulan ada alamatnya dan saya langsung mencari. Ibu ini namanya Sri kan? Pembantu di sini. Mas Yanto sering bercerita soal ibu, yang pandai merawat rumah dan memasak. Nanti jika saya sudah nikah resmi dengan Mas Yanto, boleh ya Bu ajari saya masak." Wanita yang mengaku bernama Ratmi mengoceh tiada henti.

Aku? Haruskan aku jujur aku adalah istri sahnya? Sementara berita ini adalah kesempatanku untuk minta pisah dengan suamiku. Rumah tangga tanpa komunikasi, tanpa cinta, tanpa tujuan bagaikan seorang prajurit kehilangan pedang dalam perang. Bimbang. Kutata hatiku sebaik mungkin. Kutatap lembut seorang anak berusia dua tahun ini, cantik. Mungkin garis kecantikan ibunya menurun pada anak ini. Namanya Cahaya.

"Maaf Bu, Pak Yanto jarang pulang. Katanya ada bisnis baru di luar kota. HP juga jarang aktif, ibu mau menunggu atau ...." sengaja kugantungkan kalimatku.

"Begini saja Bu. Saya titip Cahaya, beserta barang-barangnya. Saya akan ke rumah dulu ambil sesuatu yang tertinggal. Boleh ya Bu?"

"Cahaya, Bunda mau pulang ambil barang. Kamu di sini ya, sama Bu Sri, paling cuma tiga jam Bunda sudah kembali."

Cahaya mengangguk pelan. Apalah dayaku yang cuma mengangguk pula. Kini aku dan Cahaya masuk rumah.

"Nama bapakmu siapa?" Tanyaku.

Dia cuma menarik-narik tanganku menuju meja makan, mungkin ia lapar.

"Makan?"  Tanyaku.

"He eh."

Kusuapi ia tanpa rasa apa pun. Sakit hati? Tentu tidak. Untuk apa sakit hati jika suamiku pun aku tak pernah mencintai. Bukankah dulu katanya, tugas istri melayani? Tidak wajib mencintai. Dosa? Biar hanya aku dan Tuhan yang mengerti. Malam mulai datang, wanita bernama Ratmi tak kunjung datang. Semalam, dua malam sampai hampir setengah purnama Ratmi tak menampakkan batang hidungya.

"Apa-apaan ini?" Gumamku.

Kring ... kring ...

"Tante tipon ...."

Cahaya berteriak kurang jelas karena belum lancar berbicara. Ternyata ada telepon.

"Halo, siapa?"

"Mbak Sri, ini aku Ratmi. Sebelumnya saya minta maaf Mbak. Cahaya adalah anak Mas Yanto, tapi saya tidak bisa merawatnya. Karena saya adalah istri orang. Saya berdosa pada suami saya yang pergi merantau mencari rizki. Mbak bantulah saya dengan merawat Cahaya. Dia tidak berdosa. Jangan benci dia, saya mohon Mbak. Mas Yanto ada dan tiada pun saya rasa Mbak Sri sanggup merawatnya. Mbak tolonglah saya."

Suara Ratmi di telepon, tak ubahnya lolongan anjing hutan yang meminta belas kasihan pada pengguna jalan. Miris. Dan siapa pula yang peduli.

Wanita. Ya ini mungkin kata emak dulu. Wanita adalah abdi dalem, pelayan keluarga, pelayan suami. Tidak boleh keluar rumah tanpa izin suami, tidak boleh ke A B C tanpa rida suami. Lalu? Apakah benar suami bisa seenaknya keluar masuk rumah tanpa rida istri? Tanpa minta izin istri sehingga datanglah kiamat seperti Ratmi. Punya anak dari suamiku sendiri. Jijik. Hanya itu. Apakah masih bisa ia disebut lelaki, suami, imam dalam rumah tanggaku ini. Oh ya, aku hampir lupa. Ini bukan rumah tangga, tapi rumah kontrakan.

Kupandangi gadis kecil yang tertidur pulas di depan TV, kubuang? Atau kubunuh? Ah Gusti. Apakah ini takdir untuk hambaMu yang bernama Sri ini. Bapak? Apakah ini jalan dan rumah tangga yang emak impikan. Kugendong Cahaya. Berjalan aku terus berjalan tanpa tujuan. Tanpa arah tanpa menoleh lagi. Bahkan jika aku boleh memilih aku ingin mati bersama Cahaya.

Malang, 10 Januari 2020

 

Jassy Ae

Penulis adalah mantan BMI Taiwan. Juara II New Taipei Literature Award 2018.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom