Dwi Laura (kiri) memerankan tokoh Anjasmara, istri dari Damarwulan, saat pentas ketoprak Minak Jingga Lena di Ngablak, Desa Kroyo, Kecamatan Karangmalang, Sragen, Kamis (28/8/2014) malam. Dwi Laura adalah waria yang menjadi ikon Paguyuban Sedap Malam Sragen. (Kurniawan/JIBI/Solopos)

Solopos.com, SRAGEN — Para wanita pria alias waria sering dipandang sebelah mata masyarakat. Tak jarang, mereka bahkan dibenci dan dihindari. Tapi di Karangmalang, Kabupaten Sragen mereka justru merasa dihargai.

Kala Solopos.com menyingkap Sragen Undercover, Kamis (28/8), malam sudah larut sehingga angin terasa menusuk kulit, namun ratusan warga Dukuh Ngablak, Kroyo, Karangmalang, Sragen tetap setia menyaksikan pentas ketoprak di halaman rumah warga setempat. Lakon malam itu adalah Minak Jingga Lena.

Sembari duduk lesehan, sorot mata mereka tak lepas pada tingkah polah para pemain ketoprak di panggung, terutama sosok Anjasmara, istri dari Damarwulan. Tokoh Anjasmara diperankan oleh Dwi Laura, seorang waria anggota Paguyuban Sedap Malam.

Dwi sudah kondang sebagai ikon paguyuban tersebut. Sepak terjangnya sebagai seniwati Paguyuban Sedap Malam sudah menggema di seantero Sragen, bahkan sebagian Ngawi, Jawa Timur.

Pemilik nama asli Dwi Setya Utomo tersebut memang mempunyai kemampuan komplet seorang seniwati. Malam itu, Dwi tanpa kesulitan memerankan tokoh Anjasmara yang merupakan seorang putri patih. Bahkan aksinya di panggung benar-benar menghibur penonton terutama saat beradegan mesra dengan tokoh Damarwulan.

Tokoh Damarwulan diperankan oleh Hartoyo, Ketua Paguyuban Ketoprak Joyo Gendelo Ngablak. Pentas malam itu merupakan kolaborasi antara Paguyuban Joyo Gendelo dan Paguyuban Sedap Malam.

Sekelumit pentas ketoprak kolaborasi Paguyuban Ketoprak Joyo Gendelo dan Paguyuban Sedap Malam tersebut adalah salah satu bukti eksistensi kaum waria Sragen. Selain seni ketoprak, para waria yang tergabung dalam Paguyuban Sedap Malam mahir dalam beberapa seni tari, teater, guyon maton, serta rias pengantin.

Beberapa di antara mereka telah eksis dan berhasil hidup mandiri dari usaha rias pengantin. Salah satunya Dwi Laura yang berasal dari Kecamatan Karangmalang. Saat ditemui Koran O di sela pentas ketoprak di Ngablak, Dwi mengakui kemampuannya berkesenian didapat dan diasah di Paguyuban Sedap Malam.

Pagar Ayu
Dwi menuturkan kini usaha rias pengantin yang dijalankannya sudah mempunyai pelanggan cukup banyak. Job merias pun tak pernah putus setiap pekan. Terbaru, bersama Paguyuban Sedap Malam, Dwi kerap diminta menjadi bagian rombongan putri domas atau pagar ayu dalam sebuah prosesi pernikahan.

Tidak main-main, untuk Agustus 2014 saja, ada 27 permintaan menjadi pagar ayu. Penuturan senada disampaikan Sofi, 42, anggota lain Paguyuban Sedap Malam.

Waria asal Kepoh, Desa Wonokerso, Kedawung Supar itu merasa lebih dihargai di tengah masyarakat selama menjadi anggota Paguyuban Sedap Malam Sragen. "Untuk penghasilan bulan memang belum begitu mencukupi, tapi sekarang saya lebih dihargai di tengah masyarakat dengan kemampuan yang saya punya," aku dia.

Sofi yang juga inisiator pendirian Paguyuban Sedap Malam mengisahkan kehidupannya saat masih "mangkal" untuk menjajakan diri di beberapa kota besar. Saat itu dia mengaku kerap direndahkan dan menjadi bahan olok-olok masyarakat.

Perlakuan tersebut membuat Sofi kesulitan masuk dalam pergaulan masyarakat. Namun sejak menjadi anggota paguyuban, tak ada lagi yang mengolok-olok dia. Masyarakat lebih melihat Sofi sebagai perias pengantin dan seniwati.

Baik Dwi maupun Sofi, selalu berpenampilan normal saat berada di rumah. Mereka sering kali menggunakan busana laki-laki saat di rumah. Mereka juga tidak pernah mengenakan make up berlebihan saat beraktivitas di rumah.

Tapi berbeda bila mereka harus ke luar rumah. Mereka lebih sering berdandan dan menggunakan make up. Seperti yang dilakukan Sofi saat merias para pemain ketoprak di Ngablak, Desa Kroyo Karangmalang, Kamis malam.

Cadangan Penghasilan
Pemilik nama asli Supar tersebut mengenakan lipstick warna merah dan bedak tipis di wajahnya. Rambutnya yang berombak sedikit panjang dikuncirnya di belakang.

Soal pendapatan, informasi yang diperoleh Solopos.com, menyebut para anggota Paguyuban Sedap Malam mempunyai cadangan sumber penghasilan. Salah satunya Sofi yang mempunyai satu patok sawah. Tapi sawah tersebut tidak digarapnya sendiri. "Saya serahkan saudara. Kalau tidak, pas order sepi saya mau makan apa?" tutur dia.

Ketua Paguyuban Sedap Malam Sragen, Sri Riyanto, saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Rabu (27/8), mengatakan saat ini anggota aktif paguyuban sekitar 15 waria. Ada juga anggota dari kalangan ibu-ibu rumah tangga yang ahli rias.

Menurut dia, kemampuan merias anggota waria diperoleh dari anggota perempuan. Riyanto mengatakan awalnya anggota waria paguyuban ini mencapai 25 orang. Namun lambat laun mereka mundur lantaran tidak tahan dengan banyaknya kegiatan tanpa bayaran.

"Tidak betah karena awalnya tenaga dan waktu mereka tersita untuk kegiatan sosial dan berlatih menari. Tidak mendapat bayaran atau pemasukan," tutur dia. Namun situasi mulai berubah sejak beberapa tahun terakhir.

Menurut Riyanto, perlahan-lahan Paguyuban Sedap Malam mendapat tempat di masyarakat Sragen. Bahkan, beberapa kali Paguyuban Sedap Malam tampil dalam kegiatan resmi Pemkab Sragen. Salah satunya saat puncak perayaan Hari Jadi Kabupaten Sragen, Mei 2014.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten