Air mengalir deras di mulut saluran spillway atau pintu utama Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, Senin (18/3/2019). (Solopos/Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI -- Perum Jasa Tirta (PJT) membutuskan membuka spillway atau pintu limpasan air Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, Senin (18/3/2019) pukul 10.30 WIB. Debit air yang dilepas/dikeluarkan mencapai 100 m3/detik. 

Hal itu menyusul bertambahnya volume air yang masuk ke WGM yang terlihat dari tinggi permukaan air (elevasi) yang terus naik. Meski demikian, kontribusi dari WGM yang mengalir ke Sungai Bengawan Solo tergolong kecil jika dibandingkan kontribusi dari berbagai anak sungainya. 

Pantauan Solopos.com di mulut spillway, Senin, air yang dikeluarkan sangat deras. Pada awal pembukaan, air membawa material lain, seperti batang kayu. Sejumlah warga merekam detik-detik air meluncur dari saluran spillway secara penuh. 

Data di Kantor Sub Divisi Jasa Air dan Sumber Air (ASA) III PJT I di Wonogiri, Senin, saat spillway dibuka elevasi atau tinggi muka air WGM tercatat 135,66 meter soerabaia haven vloed peil (shvp). 

Elevasi itu naik 59 cm shvp dibanding elevasi pada Minggu (17/3/2019) pukul 11.00 WIB (sebelum hujan deras pada Minggu malam) yang saat itu tercatat 135,07 meter shvp.  Sementara rata-rata inflow atau air yang masuk dari wilayah hulu yang tercatat pada Minggu pukul 24.00 WIB (setelah hujan deras) sebesar 290,52 m3/detik. 

Selain dari spillway, air waduk juga dikeluarkan melalui pintu turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sebesar 58,4 m3/detik. Total air yang dikeluarkan dari WGM 158,4 m3/detik.

Kepala Sub Divisi ASA III PJT I, Didit Priambodo, kepada Solopos.com, Senin, mengatakan spillway dibuka untuk mengimbangi inflow yang besar. Inflow meningkat signifikan setelah beberapa hari hujan deras di wilayah hulu. 

Peningkatan debit inflow secara otomatis meningkatkan elevasi atau tinggi muka air (TMA) waduk yang signifikan pula hingga di posisi lebih dari 135,6 meter shvp. Elevasi itu melampaui control water level (CWL) atau batas aman, yakni 135,3 meter shvp. 

Atas kondisi itu spillway dibuka untuk menjaga agar elevasi tak menyentuh highest water level (HWL) atau elevasi maksimal WGM, yakni 136 meter shvp. “Debit yang dikeluarkan dari spillway itu [100 m3/detik] debit minimal. Kami melepas air memperhatikan kondisi hilir. Saat spillway dibuka, debit Sungai Bengawan Solo yang tercatat di pos pantau Jurug di posisi siaga hijau. Posisi itu kategori aman,” kata Didit.

Dia menjelaskan kontribusi air ke Sungai Bengawan Solo dari WGM tergolong kecil dibandingkan kontribusi dari anak sungai. Pada kondisi di hulu siaga hijau seperti sekarang ini, debit sungai lebih kurang 600 m3/detik. Sementara saat siaga kuning, debit sungai bisa mencapai 1.000 m3/detik.

Pada sisi lain kontribusi dari WGM saat ini tercatat 158,4 m3/detik. Volume terbesar yang pernah dikeluarkan melalui spillway 200 m3/detik. Hal itu menunjukkan air yang dilepas dari WGM memang memengaruhi debit sungai, tetapi tidak dominan. 

Kontribusi terbesar yang masuk ke Sungai Bengawan Solo, yakni dari Sungai Dengkeng, Klaten dan Samin, Karanganyar. Ditanya sampai kapan spillway dibuka, Didit mengatakan tergantung inflow. 

Jika curah hujan tinggi yang membuat inflow meningkat signifikan lagi, tidak menutup kemungkinan akan meningkatkan debit outflow atau air yang dikeluarkan dari WGM. Jika sebaliknya dan elevasi kembali di posisi CWL, spillway akan ditutup. 

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten