Soros gairahkan industri dirgantara RI

JAKARTA: Industri penerbangan di Indonesia dinilai masih bergairah menyusul rencana masuknya HNA Group asal China, yang sebagian sahamnya dimiliki miliarder AS George Soros.

Dirjen Perhubungan Udara Departemen Perhubungan Herry Bakti S Gumay mengatakan, setelah maskapai Indonesia memperoleh komitmen pinjaman sebesar US$1 miliar dari Bank Exim AS, kini HNA Group siap menanamkan investasi di bisnis penerbangan. "Berarti industri penerbangan nasional masih bergairah, apalagi pertumbuhan ekonomi kita masih positif," ujarnya hari ini.

Dia menjelaskan pihaknya akan tetap meminta HNA Group China mengikuti aturan investasi di Indonesia yakni maksimal kepemilikan saham di penerbangan sebesar 49%. Aturan itu, tegas Herry, telah menjadi keputusan pemerintah sehingga tak ada alasan HNA Group menguasai mayoritas saham di perusahaan penerbangan.

HNA Group berencana membentuk perusahaan patungan untuk berbisnis penerbangan hingga perhotelan dengan menggandeng mitra lokal PT Global Putra International (GPI) Group. Pemerintah mengisyaratkan persetujuan pembentukan perusahaan patungan penerbangan antara HNA Group China dan GPI Group.

Rencana HNA Group itu akan meningkatkan investasi di Tanah Air, seperti maskapai Awair (kini Indonesia AirAsia) yang diakuisisi oleh AirAsia Malaysia pada Oktober 2004. HNA Group telah menandatangani kesepakatan induk atau master agreement dengan GPI Group untuk mengembangkan bisnis penerbangan, pengelolaan bandara, dan perhotelan di Indonesia.

Penandatanganan kerja sama sebagai tonggak pembentukan perusahaan patungan itu disaksikan oleh Menhub dan Duta Besar China untuk Indonesia Zhang Qiyue, pada awal pekan ini. Saat ini, maskapai penerbangan swasta terbesar di China, Hainan Airlines, 18,6% sahamnya dimiliki oleh miliarder asal AS George Soros, Pemerintah Provinsi Hainan 48,6%, dan HNA Group 32,8%. (JIBI/Bisnis.com)

Avatar
Editor:
Budi Cahyono


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom