Soloraya Ladang Ranjau dan Aksi Peledakan Jembatan Pascakemerdekaan 

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan di wilayah Soloraya melahirkan aksi peledakan jembatan dan pemasangan ranjau di sejumlah lokasi, yang terkadang memakan korban dari bangsa sendiri.

 Salah satu hasil peledakan yang tidak berhasil pada salah satu jembatan di sebelah barat Kota Solo pada 21 Desember 1948. (Sumber: Gahetna.nl)

SOLOPOS.COM - Salah satu hasil peledakan yang tidak berhasil pada salah satu jembatan di sebelah barat Kota Solo pada 21 Desember 1948. (Sumber: Gahetna.nl)

Solopos.com, SOLO — Perjuangan mempertahankan kemerdekaan di wilayah Soloraya melahirkan aksi peledakan jembatan dan pemasangan ranjau di sejumlah lokasi, yang terkadang memakan korban dari bangsa sendiri. Perang pada 1949 hingga 1950 itu berlangsung saat Republik Indonesia baru seumur jagung.

Operasi bumi hangus yang menyasar beberapa instalasi vital seperti jembatan, bangunan penting, dan sarana strategis lainnya memiliki berbagai tujuan. Di antaranya, agar objek vital itu tak dikuasai pemerintah kolonial, selain menghambat pergerakan tentara Belanda.

Aksi bumi hangus di Solo berlangsung pada 19 Desember 1948 bertepatan dengan Agresi Militer II 1948 dilakukan oleh Kompi III Tentara Genie Pelajar. Mereka menggunakan bom ukuran rata-rata 100 kilogram pada gedung-gedung vital di dalam Kota Solo dan beberapa jembatan di luar Kota Solo. 

Espos Plus

Nenek Moyang Suku Jawa, Pelaut Tangguh Austronesia

+ PLUS Nenek Moyang Suku Jawa, Pelaut Tangguh Austronesia

Seperti kebanyakan kelompok etnis Indonesia yang lain, termasuk masyarakat Sunda, masyarakat Jawa merupakan bangsa Austronesia yang diceritakan sebagai sosok pelaut tangguh.

Espos Plus Lainnya

+ PLUS Jejak Manusia Karst dari Gua Kidang Blora

Di Gua Kidang Blora ditemukan kerangka manusia purba modern Homo sapiens berjuluk Manusia Karst yang menghuni kawasan itu pada Zaman Holosen.

+ PLUS Rekahan Gunung Slamet di Dasar Bumi, Munculkan Air Panas Alami

Mata air panas di Kawasan Baturraden, Kabupaten Banyumas dan Guci, Kabupaten Tegal dihasilkan dari panas bumi Gunung Slamet, yang sampai saat ini masih dinyatakan sebagai gunung aktif.

+ PLUS Hubungan Manusia dan Semesta dalam Ritual Tedhak Siten

Meski mengajarkan tentang nilai-nilai luhur, ritual tedhak siten makin jarang dilaksanakan masyarakat Jawa. Ritual ini salah satunya bertujuan mengingatkan seorang anak untuk senatiasa menjaga bumi, tempat manusia berpijak.

+ PLUS Menilik Kualitas Hidup Warga Finlandia yang Disebut Paling Berbahagia di Dunia

Finlandia dinobatkan sebagai negara dengan kualitas hidup terbaik. Negara Seribu Danau ini diberi skor 99,06 dari 100 dan dianggap memiliki kualitas hidup tertinggi secara global.

+ PLUS Manis Gula Olahan, Racun Badan dari Minuman Ringan

Sejumlah produk minuman ringan hanya mencantumkan tambahan gula olahan dalam ukuran sendok makan, yang terkadang diabaikan karena dianggap sedikit, sehingga berpotensi menjadi racun badan di masa depan.

+ PLUS Jalan Sunyi Handojo Santosa Sebagai Konglomerat

Menyandang status sebagai konglomerat, Handojo Santosa memiliki berbagai kemewahan untuk menjadi orang besar, terkemuka dan berkuasa. Namun, wajahnya tergolong jarang tampil di hadapan media massa. Ia memilih jalan sunyi sebagai pemimpin yang melayani.

+ PLUS Pakai Baju Bekas Biar Gaul

Pemakaian baju bekas impor alias thrifting menjadi tren fesyen anak muda masa kini.

+ PLUS Toponimi dan Filosofi Kantor Kelurahan di Banjarsari Solo Berlokasi di Pojokan

Ada alasan filosofis di balik pembangunan sebagian besar kantor kelurahan di Kecamatan Banjarsari, Solo, berlokasi di pojokan atau dekat persimpangan jalan.

+ PLUS Saat Raja Thailand Belajar Ilmu Budaya kepada Raja-Raja Jawa

Hubungan antara raja-raja di Jawa dengan Kerajaan di Thailand sudah terjalin dengan baik sejak 151 tahun lalu, tepatnya pada 1871. Kala itu, Raja Thailand, Chulalongkorn (Rama V) yang naik takhta pada usia 15 tahun melawat ke Jawa untuk belajar ilmu pemerintahan sekaligus ilmu budaya.

+ PLUS Kejayaan Dangdut Koplo: Selera Lokal Tembus Pasar Nasional

Dangdut koplo adalah kesenian dangdut yang lahir di daerah, namun berubah menjadi selera nasional.

+ PLUS PHK Besar-Besaran Indosat dan Senjakala Layanan Telepon & SMS

Disrupsi teknologi mengancam keberlangsungan operator telekomunikasi. Kini, semakin jarang orang yang memanfaatkan layanan telepon dan SMS akibat gempuran instant messenging seperti WhatsApp yang menawarkan layanan lebih praktis dan hemat tentunya.

+ PLUS Dilema Tim Escort Pengawal Ambulans, Dibutuhkan tapi Tak Diinginkan

Walau dianggap melanggar undang-undang, keberadaan Indonesia Escorting Ambulance (IEA) amat dibutuhkan ambulans, terutama untuk mengawal perjalanan pasien menuju rumah sakit supaya tidak terjebak kemacetan.

+ PLUS Label Haram Capit Boneka dan Nasib Permainan Lain di Game Zone

Permainan capit boneka yang banyak dijumpai di game zone pusat perbelanjaan mendapat label haram dari PC NU Purworejo.

+ PLUS Peluang Lukas Enembe jadi Kepala Daerah Paling Korup Sepanjang Sejarah

Gubernur Papua, Lukas Enembe berpotensi menjadi kepala daerah paling korup sepanjang sejarah menurut Indonesia Corruption Watch (ICW). Hingga kini terdapat 176 kepala daerah baik bupati, wali kota hingga gubernur terjerat kasus korupsi yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

+ PLUS One Piece, Mahakarya Fenomenal Kelas Dunia

One Piece adalah mahakarya fenomenal kelas dunia yang memiliki puluhan juta penggemar.

+ PLUS Uji Prestasi Kompor Induksi

Tidak semua makanan cocok dimasak menggunakan kompor induksi.

+ PLUS Jembatan Callender Hamilton, Urat Nadi Jalur Trans Jawa

Jembatan tipe Callender Hamilton merupakan urat nadi di jalur utama trans Jawa.

+ PLUS Manusia dan Ternak Berbagi Lewat Secuil Brem Wonogiri

Brem merupakan makanan khas Wonogiri, Jawa Tengah, yang menjadi sarana berbagi antara manusia dengan hewan ternak.

+ PLUS Teori Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman, Tuai Kontroversi tapi Raih Apresiasi

Berdasar bukti sejarah, Candi Borobudur bukan peninggalan Nabi Sulaiman. Alasannya, Nabi Sulaiman hidup pada masa sebelum masehi, sedangkan Syailendra hidup setelah masehi. Namun, Fahmi Basya tidak menggunakan waktu sebagai ukuran untuk menyampaikan teori.

+ PLUS Satria Piningit & Mitos Presiden RI Harus dari Jawa

Ramalan tentang kemunculan Satria Piningit selalu dikaitkan dengan kecenderungan Presiden RI selalu datang dari Suku Jawa.