Solopos Hari Ini: Tragedi Tsunami Tanpa Peringatan Dini
Harian Umum Solopos edisi hari ini, Senin (24/12/2018).

Solopos.com, SOLO — Sedikitnya 222 orang meninggal dan 28 orang hilang akibat tsunami di Selat Sunda, Sabtu (22/12/2018) malam. Kejadian itu menjadi pengingat pentingnya integrasi sistem peringatan dini.

Tsunami di Pandeglang dan Serang, Banten, serta Lampung Selatan dan Tanggamus, Lampung itu menerjang daratan tanpa peringatan diri. Tsunami diduga terjadi karena kombinasi longsoran bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang tinggi saat bulan purnama.

Kabar mengenai bencana tsunami di Selat Sunda itu menjadi headline pada Harian Umum Solopos edisi hari ini, Senin (24/12/2018). Berita itu bisa dibaca selengkapnya di E-Paper Solopos.

Selain itu, Harian Umum Solopos edisi hari ini juga menyajikan kabar utama mengenai kepadatan lalu lintas di masa libur akhir tahun. Tol Trans-Jawa dianggap bisa mengurangi kepadatan lalu lintas.

Tol Padat, Tempat Wisata Ramai

Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Solo menilai dibukanya ruas tol Trans-Jawa menjadikan arus lalu lintas di Kota Solo selama libur akhir tahun tidak sepadat tahun lalu. Namun, kepadatan tetap terjadi terutama di kawasan wisata dan pusat perbelanjaan.

Sementara itu, ruas tol Semarang-Solo-Ngawi terus dipadati pengguna jalan, Minggu (23/12/2018). Kasatlantas Polresta Solo Komisaris Polisi Imam Safii memprediksi sebagian kendaraan akan memilih melintasi tol yang sudah tersambung.

Simak secara lengkap di: E-Paper Solopos.

Di halaman Soloraya, ada ulasan mengenai kebingungan para pemegang kartu Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta. Ada pula ulasan mengenai kebingungan para pemilih untuk Pemilu 2019 mendatang karena tak mengenal orang-orang yang mencalonkan diri.

Dibatasi Toko, Pemegang Kartu Bingung

Ratusan orang pemegang kartu Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS) kebingungan karena sejumlah toko mitra membatasi jumlah penggunanya. Salah satunya warga Pasar Kliwon, Septianing, 39, yang menyebut dirinya tak bisa masuk di beberapa toko mitra yang ditunjuk melayani pengguna kartu BPMKS.

"Kemarin saya datang ke toko mitra seperti Penni dan Sami Luwes tapi saya enggak bisa masuk karena jumlah pengguna kartu BPMKS sudah melebihi kuota," ujarnya saat dijumpai di toko alat tulis Tunas Mekar, Sriwedari, Minggu (23/12/2018).

Baca secara lengkap di: E-Paper Solopos.

Tak Kenal Caleg, Bingung Surat Suara

Masih banyak warga yang tidak mengenal calon anggota legislatif (caleg) baik dari DPRD kabupaten/kota, DPRD provinsi, DPR RI, maupun anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Mereka juga masih bingung mencoblos mengingat jumlah surat suara yang diterima mereka nanti di tempat pemungutan suara (TPS) sebanyak lima lembar.

Persoalan tersebut mencuat saat tim Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sragen melakukan sosialisasi pengawasan partisipatif di wilayah Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Sabtu (22/12/2018), dan di Pasar Bunder, Sragen, Minggu (23/12). "Belum tahu cara mencoblosnya bagaimana. Kartunya katanya lima itu yang dicoblos siapa juga tidak tahu. Untuk DPRD itu warna apa, DPR warna apa, masih bingung. Tadi baru saja dijelaskan tetapi sudah lupa," ujar Warsini, 42, warga Dukuh Tambak RT 012, Desa Sribit, Sidoharjo, Sragen, saat berbincang dengan Espos, Sabtu siang.

Simak selengkapnya di: E-Paper Solopos.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom