Tutup Iklan
Harian Umum Solopos edisi Jumat (23/8/2019).

Solopos.com, SOLO — Lokasi ibu kota baru negara Republik Indonesia diputuskan di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Namun, belum ada kepastian kota yang akan menggantikan Jakarta itu.

"Iya, Kaltim benar, tapi belum tahu lokasi spesifiknya di mana yang belum," kata Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Sofyan Djalil saat ditemui wartawan di Kantor Kemenko Perekonomian, Kamis (22/8/2019).

Kabar mengenai pemindahan ibu kota negara ke Kaltim itu menjadi headline di Harian Umum ">Solopos edisi hari ini, Jumat (23/8/2019). Berita tersebut bisa disimak secara lengkap di: ">E-Paper Solopos.

Selain itu, ada ulasan mengenai Kampung Budaya Brajadenta di Sragen. Banyak pepatah Jawa menempel di setiap gang kampung tersebut.

Pepatah Jawa di Setiap Gang Kampung Budaya Brajadenta

Sragen mendeklarasikan diri sebagai kampung budaya. "Marsudi ing Reh Budaya Karana Luhuring Budaya Daditya Ukurane Jiwa Jawi". Kata-kata mutiara Jawa itu tertulis pada belabak kayu trembesi di simpang empat Pasar Jambanan.

Tulisan itu dibuat para warga dan anggota karang taruna Desa Jambanan, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, dalam satu pekan ini. Hampir setiap gang masuk di Jambanan dipasang belabak bertuliskan pepatah Jawa yang disesuaikan dengan lingkungannya.

Simak ulasan lengkapnya di: ">E-Paper Solopos.

Sedangkan di halaman Soloraya, ada kabar mengenai penundaan pembangunan underpass di Jl. Transito Solo. Ada pula kabar mengenai bantahan polisi terkait isu sengaja mengeksekusi residivis pembunuhan di Wonogiri.

Underpass Jl. Transito Ditunda

Pemerintah Kota (Pemkot) Solo membatalkan rencana pembangunan underpass atau lintas bawah Jl. Transito, Laweyan, pada tahun ini. Imbasnya, anggaran yang telah disediakan terpaksa menjadi sisa lebih penggunaan anggaran (Silpa) atau dialihkan untuk pembangunan infrastruktur lain.

Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengatakan pembatalan dikarenakan munculnya kebutuhan tak terduga yang mengakibatkan pembengkakan anggaran. "Setelah pertemuan dengan Kementerian Perhubungan [Kemenhub], ternyata kami harus membuat konstruksi tiang penyangga rel kereta api. Spesifikasi penyangga itu harus sesuai yang ditentukan. Enggak mungkin hanya untuk lima tahun, ya, harus tahan puluhan tahun. Artinya, anggaran enggak cukup. Kebutuhan itu enggak terprediksi sebelumnya,” kata dia, kepada wartawan, Rabu (21/8/2019).

Baca selengkapnya di: ">E-Paper Solopos.

Polisi Bantah Isu Wondri Sengaja Dieksekusi

Polres Wonogiri membantah isu yang menyebutkan Andri Novianto atau Wondri, 37, residivis pembunuhan yang meninggal dunia, Selasa (20/8/2019) malam lalu, karena dieksekusi polisi. Polisi menegaskan penembakan terhadap Wondri dilakukan secara terukur dan sesuai prosedur kepolisian.

Kapolres, AKBP Uri Nartanti Istiwidayati, menyatakan bertanggung jawab atas tindakan anggotanya tersebut. Hal itu disampaikan otoritas Polres Wonogiri dalam jumpa pers di Aula Mapolres Wonogiri, Kamis (22/8/2019). Kasatreskrim, AKP Purbo Ajar Waskito, mengatakan isu yang beredar terkait Wondri meninggal dunia akibat dieksekusi polisi sama sekali tidak benar.

Baca secara lengkap di: ">E-Paper Solopos.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten