Tutup Iklan
Solopos Hari Ini Selasa (20/8/2019)

Solopos.com, SOLO – Kapasitas berlebih di rutan dan LP jadi kendala petugas membina narapidana dan tahanan. Yang berlangsung bukan pemasyarakatan, rutan dan LP malah menjadi “sekolah kejahatan” bagi warga binaan pemasyarakatan.

Seperti yang terjadi pada Icuk Cahyadi, baru sehari keluar dari Rutan Wonogiri, malah mencoba merampok sopir taksi online di Klaten, Minggu (18/8/2019). Sebelumnya, dia menjalani penahanan karena kasus penggelapan. Begitu keluar dari penjara dia “naik kelas” dengan merampok taksi online

Perubahan konsep sistem kepenjaraan menjadi pemasyarakatan sebenarnya upaya mencegah penularan kejahatan antarnapi agar tak muncul istilah sekolah kejahatan. Namun, pada kenyataannya tidak demikian.

Ulasan mengenai PR Besar LP-Rutan tersebut masih menjadi sorotan utama di Harian Umum Solopos edisi hari ini, Selasa (120/8/2019). Berita tersebut dapat disimak selengkapnya di: ">E-Paper Solopos

Selain itu, ada ulasan mengenai masyarakat Papua yang meminta Presiden Joko Widodo untuk segera mengatasi diskriminasi oleh aparat keamanan kepada mereka.

Cegah Diskriminasi, Jokowi Perlu Berdialog

JAYAPURA – Aksi unjuk rasa yang terjadi di sejumlah tempat di Indonesia (Surabaya, Malang, Semarang, Papua). Unjuk rasa itu dilakukan masyarakat Papua sebagai bentuk kekecewaan pada aparat keamanan yang dianggap melakukan diskriminasi terhadap mereka.

Akibat kericuhan tersebut, masyarakat Papua mengharapkan Presiden Jokowi segera mengambil langkah tepat untuk mengatasi masalah ini. Pemerintah harus membuka diri untuk melakukan dialog atau dengan rakyat Papua.

”Kami harap Presiden Jokowi harus ambil langkah tepat untuk mengatasi masalah ini. Pemerintah harus membuka diri untuk melakukan dialog atau dengan rakyat Papua. Jangan alergi dengan dialog,” ujar Gubernur Papua Lukas Enembe menyebut dugaan rasisme yang terjadi di Surabaya menyakiti orang Papua.

Simak selengkapan di ">E-Paper Solopos

Sedangkan di halaman Soloraya, ada kabar mengenai penyelidikan kasus tabrak lari di Flyover Manahan Solo akan segera dilanjutkan oleh Kapolresta Baru. Ada pula berita mengenai penemuan sumber api yang sempat menggegerkan masyarakat Sragen.

Pengusutan Dilanjutkan Kapolresta Baru

SOLO – Kapolresta Baru, AKBP Andy Rifai, akan segera mengungkap dan memproses kasus tabrak lari di Flyover Manahan Solo hingga ke pengadilan. Hal tersebut akan dilaksanakan setelah serah terima jabatan (sertijab), Selasa (20/8) ini di Mapolda Jateng.

Kasus tabrak lari di Flyover Manahan Solo yang mengakibatkan Retnoningtri, 54, warga Kecamatan Serengan, Solo, meninggal dunia, sampai sekarang belum ada titik terang. Namun, hal itu akan segera diatasi sebagai bentuk perjanjian kepada masyarakat.

Kabarnya, apabila pelaku tak segera menyerahkan diri hingga 19 September pihak LP3HI akan menggugat pelaku secara perdata untuk menyantuni keluarga korban senilai total Rp1 miliar.

Simak selengkapnya di ">E-Paper Solopos 

Api Muncul dari Tanah Bikin Gempar Warga

SRAGEN – Munculnya api dari dalam tanah di wilayah Dukuh Banyurip RT 022, Desa Bonagung, Tanon, Sragen, pada Minggu (18/8) pukul 19.00 WIB membuat gempar warga Sragen. Sejak Minggu malam mulai pukul 19.00 WIB sampai Senin (19/8) pukul 02.00 WIB, lokasi sumber api itu didatangi ratusan orang dari berbagai daerah di Sragen.

Sumber api itu berada di ladang atau tegalan milik Wignyo Dikromo alias Rebo, 65, seluas 4.000 meter persegi. Sebelum keluar api, Rebo sudah mencium bau gas seperti bau bensin dibakar.

Tak kalah akal, penemuan api alam tersebut saat ini dimanfaatkan Karang Taruna Putra Mayung Banyurip, sebagai sumber penghasilan. Para pengunjung bermotor dan bermobil yang datang akan diberi tarif sebesar Rp2.000 untuk parkir.

SImak selengkapnya di ">E-Paper Solopos

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten