Harian Umum Solopos edisi Senin (14/10/2019).

Solopos.com, SOLO — PDIP Solo memiliki kepercayaan diri tinggi menghadapi pilkada 2020. Kader mengklaim siapa pun yang melawan pasangan calon wali kota-wakil wali kota yang diusung PDIP hanya membuang-buang duit.

Hal itu disampaikan Ketua PAC PDIP Banjarsari, Joko Santoso, saat dihubungi Espos melalui ponsel, Minggu (13/10/2019). "Kami PDIP Banjarsari tidak takut melawan siapa pun lawan. Apakah itu pasangan calon dari jalur independen maupun yang diusung gabungan partai politik. Buang-buang duit saja kalau mau melawan PDIP," tutur dia.

Kabar tentang kesiapan PDIP Solo dalam Pilkada Solo 2020 itu menjadi headline di Harian Umum Solopos edisi hari ini, Senin (14/10/2019). Kabar tersebut bisa dibaca secara lengkap di E-Paper Solopos.

Selain itu, di halaman utama Harian Umum Solopos edisi hari ini juga terdapat pernyataan Bupati Boyolali Seno Samodro yang membantah demokrasi di Boyolali sudah mati.

Seno Samodro Bantah Demokrasi Boyolali Mati

Bupati Boyolali, Seno Samodro, membantah pandangan sejumlah tokoh politik dan akademisi yang menyebutkan demokrasi di Boyolali telah mati. Apa lagi jika kematian demokrasi itu didasarkan pada dominasi PDIP sebagai partai pemenang pemilu.

Pengamat politik yang pernah duduk di DPRD Boyolali, Thontowi Jauhari, pernah mengatakan bahwa pilkada 2020 di Boyolali sebenarnya sudah selesai. Tak hanya Thontowi, Direktur Boyolali Research and Analysis Movement (BRAM) Institute, Bramastia, mengatakan jika partai politik tidak bergerak mengusung calon penantang PDIP dalam pilkada maka demokrasi bisa dikatakan mati.

Baca selengkapnya di: E-Paper Solopos.

Sedangkan di halaman Soloraya, ada lasan tentang investasi bodong di Sragen. Ada pula kabar tentang Hari Tanpa Bayangan yang memicu perhatian publik.

Pelunasan 4.000 Mitra Diangsur

Sugiyono, owner CV Mitra Sukses Bersama (MSB) tidak bisa mengembalikan uang milik lebih dari 4.000 mitra dalam hitungan bulan sejak bisnis yang bergerak di bidang ternak semut rangrang itu kolaps pada pertengahan Mei lalu. Dalam kesepakatan pertama, Sugiyono berjanji bakal mengembalikan uang mitra paling lambat Oktober 2019.

Akan tetapi, kesepakatan yang telah dibuat itu akhirnya direvisi di hadapan notaris pada September lalu.

"Ada dua hal yang membuat kesepakatan pertama itu harus direvisi. Pertama, ada rasa ketidakadilan bagi semua mitra karena ada mitra yang sudah terima empat bulan cicilan, tetapi ada yang belum sama sekali. Selain itu, sesuai kesepakatan pertama, dalam sehari kami harus menyiapkan dana senilai Rp7 miliar untuk membayar cicilan, kami tentu kesulitan untuk menyiapkannya setiap hari. Oleh sebab itu, kami bikin kesepakatan baru yang sudah dilegalisasi oleh notaris," jelas Sugiyono saat ditemui Espos di rumahnya di Dukuh Kroyo, Desa Taraman, Sidoharjo, Sragen, Minggu (13/10/2019).

Simak selengkapnya di: E-Paper Solopos.

Mengabadikan Hari Tanpa Bayangan

Siang itu sekitar pukul 11.00 WIB, Dicky Ipe, merasakan panas akibat sinar matahari di rumahnya Dusun Jati, Desa Jati, Kecamatan Jaten, Karanganyar. Ia keluar rumah melihat bayangan jemuran di rumah sejajar dengan benda aslinya.

Ia pun meraih tongkat sapu bekas dan menancapkan gagang sapu tersebut ke bidang tanah. Ia menunggu momen tanpa bayangan yang didengar dari sejumlah media televisi mengenai hari tanpa bayangan yang puncak terjadi pada Minggu (13/10/2019).

Simak secara lengkap di: E-Paper Solopos.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten