Solopos Hari Ini: Kampanye Belum Ubah Peta
Harian Umum Solopos edisi hari ini, Kamis (25/10/2018).

Solopos.com, SOLO -- Masa kampanye selama sekitar satu bulan belum mengubah peta politik Pilpres 2019. Elektabilitas capres-cawapres Joko Widodo (Jokowi)-K.H. Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno cenderung stabil. Dalam survei yang dirilis Populi Center di Jakarta, Rabu (24/10/2018), dan survei Litbang Kompas, pasangan Jokowi-Ma’ruf masih unggul dibandingkan dengan pasangan Prabowo-Sandiaga.

Elektabilitas dari dua pasangan itu tidak terlalu banyak berubah bila dibandingkan dengan hasil survei sebelum masa kampanye berlangsung. "Jokowi-Ma’ruf mendapatkan elektabilitas 56,3 persen. Angka ini cenderung stagnan karena masih dalam rentang margin of error. Sementara itu, angka Prabowo-Sandiaga adalah 30,9 persen untuk Oktober 2018. Elektabilitas pasangan Prabowo-Sandiaga stagnan di angka 30 persen," sebagaimana kesimpulan survei Populi Center yang dikutip Solopos dari laman Populicenter.org, Rabu (24/10/2018).

Ulasan mengenai peta politik menjelang Pilpres 2019 mendatang itu menjadi headline pada Harian Umum Solopos edisi hari ini, Kamis (25/10/2018). Baca berita tersebut secara lengkap di E-Paper Solopos!

Selain itu, kabar kemenangan Timnas Indonesia U-19 di babak penyisihan Oiala AFC U-19 juga menghiasi halaman utama Harian Umum Solopos edisi hari ini. Berikut cuplikan beritanya.

Tiket Piala Dunia Tinggal Selangkah

Indonesia hanya butuh selangkah lagi untuk bisa lolos ke Piala Dunia U-20 di Polandia, tahun depan. Syaratnya, Timnas Indonesia U-19 harus mampu menundukkan tim tangguh Asia, Jepang, pada perempatfinal Piala AFC U-19 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Minggu (28/10/2018) mendatang.

Garuda Nusantara, julukan Timnas Indonesia U-19, berjuang habis-habisan untuk memastikan lolos ke perempatfinal di Piala AFC U-19. Mereka keluar dari lubang jarum untuk melenggang ke babak delapan besar setelah menundukkan Uni Emirat Arab (UEA) dengan skor 1-0 pada laga penutup Grup A di SUGBK, Jakarta, Rabu (24/10/2018) malam WIB.

Simak secara lengkap di: E-Paper Solopos.

Sedangkan di halaman Soloraya, ada kabar tentang evaluasi terhadap Pemkot Solo yang mempertahankan pohon rapuh yang rawan tumbang. Selain itu, ada kabar tentang ajang panahan tradisional di halaman Soloraya pada Harian Umum Solopos edisi hari ini.

Lindungi Pohon yang Rawan!

Pegiat Komunitas Gerakan Orang Muda Peduli Sampah dan Lingkungan Hidup (Gropesh) Solo, Denok Marty Astuti, meyakini penyebab beberapa pohon di Jl. Slamet Riyadi tumbang saat terjadi hujan disertai angin kencang pada Selasa (23/10/2018) sore, lantaran kondisi pohon yang tidak bisa lagi mencengkeram tanah dengan kuat. Akar pohon-pohon tersebut ditebang atau dipangkas saat pelaksanaan proyek pembangunan drainase dan city walk.

Denok mengapresiasi langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Solo yang mempertahankan pepohonan saat mengerjakan proyek pembangunan drainase dan penataan city walk Jl. Slamet Riyadi. Hanya, kata dia, Pemkot Solo mengabaikan perawatan terhadap pohon yang terdampak langsung pelaksanaan proyek tersebut. Denok meminta Pemkot Solo memasang penopang besi untuk memperkuat posisi pohon yang terlanjut terpangkas akarnya akibat proyek infrastruktur.

Baca selengkapnya di: E-Paper Solopos.

Keberhasilan Bisa Bangkitkan Semangat Muda

Bimo Udara, 61, sejenak memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Setelah merasa tenang, ia membuka kedua kelopak matanya bersiap untuk memanah dengan posisi duduk bersila. Sorot matanya mengarah ke bandul setinggi 30 sentimeter dan diameter 3 sentimter yang digantung pada jarak 30 meter dari tempat ia bersila. Tangan kirinya lurus ke depan memegang bagian tengah busur.

Sementara, tangan kanannya menarik tali busur beserta pangkal anak panah hingga tepat menempel di pipinya. Konsentrasi warga Kecamatan Gondomanan, Jogja, itu tak terganggu aneka suara di sekitarnya. Pandangannya terus mengarah ke bandul yang ia sasar. Setelah merasa yakin, ia melepaskan anak panah. Dari empat anak panah, dua di antaranya mengenai bandul

Bimo menjadi salah satu peserta Gladen Ageng Sismadi Cup 2018 di Lapangan Krajan, Kecamatan Jatinom, Klaten, Rabu (24/10) siang. Seperti peserta lainnya, ia mengenakan pakaian adat Jawa. "Yang saya pakai busana Jawi jangkep. Kalau saya sudah biasa mengenakan seperti ini," kata pria yang sudah lima tahun terakhir rutin memanah saat ditemui Solopos di sela lomba.

Simak selengkapnya di: E-Paper Solopos.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya








Kolom