Solopos Hari Ini: Flyover Manahan Berpotensi Macet di 2 Lokasi
Harian Umum Solopos edisi Kamis (20/12/2018).

Solopos.com, SOLO — Uji coba arus lalu lintas untuk umum di jalan layang (flyover) Manahan, Banjarsari, Solo, Rabu (19/12/2018), belum sepenuhnya sempurna. Ada potensi macet di kawasan sekitar jalan layang.

Potensi macet ada di kawasan Kota Barat atau Jl. dr. Moewardi setelah jalan layang. Penumpukan kendaraan terjadi karena sebagian kendaraan dari arah utara yang menuju selatan berputar balik. Potensi macet berikutnya di dekat Mapolresta Solo karena ada kendaraan yang hendak ke arah Jl. K.S. Tubun.

Kabar mengenai potensi kemacetan lalu lintas di kawasan flyover Manahan itu menjadi headline pada Harian Umum Solopos edisi hari ini, Kamis (20/12/2018). Berita itu bisa disimak selengkapnya di: E-Paper Solopos.

Selain itu, ada pula kabar mengenai pengungkapan mahar politik yang mengiasi halaman utama Harian Umum Solopos edisi hari ini. KPK menyebutkan mahar politik dalamn Pilkada 2018 mencapai Rp500 juta.

Calon Setor Rp500 Juta ke Partai

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebutkan mahar politik dalam Pilkada 2018 lalu mencapai Rp500 juta. Terdapat 20 orang yang mengakui adanya mahar politik kepada partai politik dengan nilai Rp50 jutaRp500 juta.

"KPK mengeluarkan sebuah Survei Potensi Benturan Kepentingan Pendanaan Pilkada 2018. Survei menemukan 20 responden mengakui membayar mahar kepada parpol. Besaran mahar yang dibayarkan Rp50 juta-Rp500 juta per kursi, yang merupakan kesepakatan antara partai dan pasangan calon kepala daerah," kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Rabu (19/12/2018).

Baca secara lengkap di: E-Paper Solopos.

Sedangkan di halaman Soloraya, ada ulasan mengenai bahasa Jawa yang seakan-akan menghilang dari pendidikan di sekolah. Ada juga kabar eksekusi lahan di Kentingan Baru Solo pada halaman Soloraya di Harian Umum Solopos edisi hari ini.

Bahasa Daerah Menghilang

Bahasa daerah bahasa Jawa kini terkesan makin menghilang dari banyak sekolah, khususnya sekolah swasta. Mata pelajaran bahasa Jawa hanya diberikan untuk pelajaran tambahan.

Pelajaran itu diberikan hanya satu jam pelajaran selama satu pekan. Salah satu yang mengungkapkan hal ini adalah siswa SMP Kanisius 2 Solo, Bima Sasongko. Ia mengaku tak pernah menggunakan bahasa Jawa saat berkomunikasi di lingkungan sekolah.

Baca selengkapnya di: E-Paper Solopos.

Pembongkaran Rampung Diwarnai Ricuh

Proses eksekusi lanjutan lahan di Kentingan Baru kembali ricuh, Rabu (19/12/2018), akibat penolakan dari warga saat proses eksekusi berlangung. Meski begitu, pembongkaran semua bangunan yang tersisa di lahan itu rampung.

Berdasarkan pantauan Espos, proses eksekusi dimulai dengan apel bersama aparat kepolisian dan Satpol PP bersama ratusan orang yang dikerahkan pemilik lahan Kentingan Baru di halaman Kantor Kecamatan Jebres pukul 07.00 WIB.

Simak secara lengkap di: E-Paper Solopos.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom