Solopos Digital Media

Solopos.com, SOLO -- Grup Whatsapp (WA) Redaksi Solopos, Sabtu (21/7/2018) pagi sudah ramai. Bunyi “ting..ting..ting” dari gawai editor Solopos.com pagi itu seakan tak pernah berhenti.

“Tolong dong ini dicek, sejak semalam heboh di grup-grup komunitas, video temuan mayat perempuan gak pake baju ditemukan di belakang IHS Colomadu,” ujar salah satu editor Solopos.com di grup WA disertai capture postingan soal penemuan mayat.

Sontak saja, beberapa informasi mengenai unggahan itu meramaikan grup WA Solopos. Ada yang mengirimkan tangkapan layar atau screenshot unggahan dari Facebook, grup WA lain hingga Instagram. Sejurus kemudian reporter di wilayah satelit—sebutan untuk wilayah perbatasan antara Solo, Colomadu, dan Sukoharjo-- mengabarkan informasi. “Hoax itu..sudah ada tanggapan dari Polsek wilayah setempat, berita sudah dikirim di newsroom.”

Dalam hitungan kurang dari 10 menit, hasil cek fakta mengenai unggahan penemuan mayat di IHS Colomadu telah diunggah di Solopos.com. “Hoax! Penemuan Mayat di IHS Colomadu.”

Faktanya adalah video penemuan mayat tersebut bukan di belakang IHS melainkan di suatu tempat di Jawa Timur. Dan itu pun kejadian dua tahun lalu. Video tersebut rupanya sejak Jumat hingga Sabtu hari itu juga menyebar lewat media sosial yang diterima warganet Jawa Timur, termasuk Ponorogo.

Berita cek fakta unggahan Solopos.com pun disebar ke semua akun media sosial Solopos. Sontak saja, kolom komentar di fanpage Facebook Solopos dan Instagram Solopos dipenuhi tanggapan warganet. Mereka kemudian membagi ulang berita cek fakta itu.

Tumbuh

Begitulah sekelumit suasana kerja di Solopos Digital Media. Hasil liputan reporter diunggah di tiga platform sekaligus. Versi teks, audio-visual, dan audio. Peristiwa yang terjadi di wilayah Soloraya tak hanya disajikan berupa teks, namun juga versi video maupun infografis. Informasi itu tersebar tidak hanya lewat koran termasuk juga E-paper, website, Facebook, Instagram, Twitter dan Youtube.

12 Tahun sejak dirintis, Solopos Digital Media kini telah tumbuh dan berkembang. Solopos.com kini telah menjadi portal berita nomor satu berbasis koran daerah berdasarkan peringkat Alexa. Akun Youtube Solopos TV kini telah mencapai 155.000 subscribers. Sementara akun Instagram @koransolopos dan @solopos_com kini telah memiliki 52.400 followers. Sedangkan fanpage Solopos telah mencapai 440.000 pengikut, akun Twitter @soloposdotcom dengan 58.700 followers.

Perubahan

Memasuki usia 22 tahun, Solopos mengusung tema perubahan dengan tagar #soloposberubah. "Kami berubah dalam orientasi pasar, cara kerja organisasi pengelola konten dan divisi usaha. Dunia digital menuntut adaptasi terus menerus. Dan kami siap untuk terus beradaptasi, berubah, dan belajar. Justru inilah saat-saat paling menarik dalam mengelola media," kata Pemimpin Redaksi Solopos, Suwarmin.

Media arus utama seperti Solopos.com justru kian penting di tengah rimba raya informasi. Solopos.com bukan hanya mengandalkan kecepatan namun juga akurasi dengan tetap berpegang pada kredo jurnalistik. "Tekad meenjadikan Solopos media kredibel mengharuskan disiplin verifikasi dan penghormatan atas kode etik jurnalistik," tegasnya.

Prinsip serupa juga diterapkan di semua grup media Solopos baik online maupun media cetak. Suwarmin berharap sajian berita koran Solopos maupun Solopos Digital Media bisa menjadi pegangan bagi pembacanya terkait isu-isu terkini.

"Kami juga berharap Solopos Digital Media bisa menjadi mitra bisnis bagi kolega kami, melalui pendekatan digital yang terbukti tajam dan efektif."


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten